Lompat ke isi utama
gambar ilustrasi huruf braille yang digambarkan dengan titik-titik

World Blind Union, Organisasi Pemrakarsa Hari Braille Internasional

Solider.id - Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB, telah menetapkan tanggal 4 Januari untuk setiap tahunnya sebagai Hari Braille Internasional. Lahirnya peringatan tersebut berkat perjuangan organisasi yang anggotanya terdiri dari masyarakat dengan hambatan pada penglihatan. Baik yang mengalami kebutaan total atau yang masih memiliki  penglihatan, maupun mengalami kerabunan. Mereka membentuk Serikat Tunanetra Dunia pada tahun 1984, yang kemudian menjadi World Blind Union (WBU).

Braille adalah kegiatan mentransfer huruf ke dalam tulisan yang bisa diraba. Ini berarti membuka akses bagi tunanetra terhadap bacaan, yang berarti membuka akses pendidikan, yang berarti membuka akses kesempatan kerja.’ Ungkapan tersebut ditulis oleh Fred Schroeder, Presiden World Blind Union pada Senin, 17 Desember 2018 silam.

Dilansir dari berbagai sumber, WBU adalah organisasi dari dan untuk difabel netra yang tersebar di seratus sembilan puluh negara. Mereka membagi wilayah pekerjaannya menjadi enam regional yaitu: Afrika, Asia, Asia- Pasifik, Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara- Karibia. World Blind Union menjadi komunitas global, yang menginginkan masyarakat difabel netra diberdayakan untuk berpartisipasi atas dasar kesetaraan dalam setiap aspek kehidupan yang mereka pilih.

Pernyataan tersebut disampaikan Mark Maurer, yang sebelumnya pernah menjabat Ketua The National Federation of The Blind Amerika Serikat. “Bila kami, tunanetra dapat membaca dan menulis seperti orang pada umumnya, kami dapat berpartisipasi di setiap bidang kehidupan.”

World Blind Union (WBU) dan Komite Hak Asasi Manusia – HAM PBB yang menangani Convention Right of People with Disability atau UNCRPD, juga gencar menyuarakan agar huruf braille digunakan di sekolah-sekolah yang terdapat peserta didik difabel netra, terutama di negara yang tingkat perekonomiannya masih terbilang lemah.

Terry Mutuku, Communication Officer World Blind Union pernah menuliskan, ‘Dunia harus menerima keberadaan braille dan berkomitmen menyediakan akses bagi pengguna braille.’

World Blind Union mengajak setiap negara yang telah meretifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang hak masyarakat difabel untuk melakukan advokasi bagi penyediaan akses braille. Mereka juga menyarankan setiap negara untuk mengalokasikan anggaran atau dana khusus bagi pengayaan dan pemeliharaan sarana braille.

Berdasarkan pemikiran-pemikiran tersebut, World Blind Union (WBU) memperjuangkan braille hingga akhirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan Hari Braille Sedunia, sebagai salah satu bentuk penghormatan aksesibilitas difabel netra dalam meningkatkan akses pengetahuan mereka.

Saat ini memang diakui oleh banyak kalangan difabel netra tentang keberadaan teknologi yang sangat berperan dan membantu mereka. Namun, keberadaan blaille sebagai fondasi aksesibilitas masyarakat difabel netra harus terus diperjuangkan. Kondisi ini akan sangat dibutuhkan oleh ragam media atau alat/bahan yang belum tersedia dalam bentuk digital dan bagi mereka yang belum mampu mengakses teknologi secara merata.

Hari Braille Internasional juga ditetapkan untuk mengenang Louise Braille yang lahir di Coupvray pada 4 Januari 1809 dan meninggal pada 6 Januari 1852. Louise Braille adalah pencipta sistem tulisan  yang dapat diakses oleh masyarakat difabel netra di seluruh dunia hingga sekarang.  

 

Reporter: Srikandi Syamsi 

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.