Lompat ke isi utama
Ilustrasi Piala Oscar

Oscar 2021 Nominasikan 3 Film tentang Difabel

Solider.id, Yogyakarta- Academy Award atau piala Oscar adalah penghargaan film Amerika untuk menghargai karya industri perfilman. Berbagai kategori pemenang diberikan penghargaan berupa sebuah salinan patung. Penghargaan ini pertama kali diselenggarakan pada tahun 1929. Hampir satu abad, tepatnya penghargaan piala Oscar sudah berlangsung sepanjang 92 tahun.

 

Pada penyelenggaraan Oscar 2021, tiga judul film yang yang merepresentasikan penyandang disabilitas berhasil menyabet beberapa nominasi terbaik. Tiga film tersebut ialah Sound of Metal, Creep Camp, dan Feeling Through.

 

Baca juga: Merayakan Hari Anti Ableism

 

Film Sound of Metal masuk nominasi untuk aktor terbaik. Film ini bercerita tentang drummer yang mengalami kondisi disabilitas pendengaran (tuli). Sedang film Creep Camp masuk nominasi film dokumenter terbaik. Film yang produksi Higher Ground Productions milik Barack Obama dan Michelle Obama ini menceritakan gerakan advokasi hak penyandang disabilitas yang diprakarsai anak muda. Dan, film pendek Feeling Through masuk dalam nominasi film pendek terbaik. Sebuah film yang dibintangi aktor buta - tuli, Robert Tarrango.

 

Oscar 2021 dinilai sebagai penyelenggaraan yang paling majemuk, melibatkan atau terbuka untuk semua. Inklusivitas terbangun pada penyelengaraan penghargaan karya perfilman tahun ini. Yaitu dibuktikan dengan adanya nominasi film yang merepresentasikan penyandang disabilitas atau difabel, secara lebih nyata dan mendalam.

 

Sebelum Oscar kali ini, representasi terakhir cerita tentang difabel diperankan aktris difabel terjadi pada 1997. Saat itu, film Children of a Lesser God yang dibintangi aktris Tuli, Marlee Matlin, menyabet kategori aktor terbaik pada Academy Award 1997.

 

Menyikapi inklusivitas penyelenggaraan Oscar 2021, keterbukaan kesempatan nyata mendorong lahirnya inklusivitas pada even penghargaan perfilman internasional itu. Berikutnya, kerberhasilan yang diterima oleh insan film tersebut, tidak lepas dari upaya dan usaha maksimal. Prestasi yang diraih pada Oscar tidak datang begitu saja. Banyak effort atau usaha yang dilakukan. Belajar dan menyadari kebutuhan diri, salah satunya. Mau menerima masukan dari orang lain, menyadari kemampuan dan mengoptimalkannya dengan berlatih dan belajar, tentu menjadi faktor lain keberhasilan.

 

Baca juga: Mengungsikan Pengungsi dan Difabel dalam Film

 

"Mendengarkan tidak hanya dapat dilakukan dengan telinga," ujar nominator aktor terbaik dalam film Sound of Metal, Riz Ahmed, seperti dikutip dari BBC News, Kamis 22 Aprl 2021. Dalam film yang bercerita tentang penggebuk drum yang tuli, Riz Ahmed menuai pujian lantaran bekerja keras dengan belajar bahasa isyarat.

 

Sejumlah pengamat film menyatakan penyelenggaraan Oscar yang lebih inklusi merupakan wujud pengembalian representasi penyandang disabilitas ke jalan yang benar. Sebab, selama ini banyak representasi yang salah mengenai difabel di layar kaca.

 

Selain itu, ketidaksetaraan kuota bagi aktor atau aktris difabel sering tidak terpenuhi dalam dunia perfilman, bahkan untuk film yang menceritakan tentang disabilitas itu sendiri. Laporan USC Annenberg School for Communication and Journalism di Florida pada 2019 menunjukkan hanya 2,3 persen dari 100 film box office yang bercerita mengenai disabilitas dibintangi oleh aktor atau aktris difabel.

 

Aktor dengan celebral palsy, RJ Mit yang berperan dalam serial Netflix Breaking Bad sebagai penyandang disabilitas Walter White mengatakan, sangat senang dengan mulai terbukanya peluang bagi aktris dan aktor penyandang disabilitas di Hollywood. Dia berharap Oscar 2021 dapat membawa dunia disabilitas dikenal banyak orang secara lebih mendalam melalui film seperti Sound of Metal.

 

"Tahun ini saya sangat senang melihat Riz Ahmed dikenali dan Sound of Metal memberi perhatian pada kisah penyandang disabilitas pendengaran dan perjuangan belajar beradaptasi serta menerima 'normal' yang baru," ujar RJ Mit.

 

Meski begitu, tidak semua penyandang disabilitas menilai film inklusi dapat menggambarkan dunia kedisabilitasan secara tepat. Jurnalis dengan disabilitas Tuli, Liam O'Dell meragukan akurasi film Sound of Metal.

 

"Sound of Metal membuat saya merasa agak berkonflik. Nominasi penghargaan dan perhatian media telah membuat lebih banyak orang belajar dan berbicara tentang ketulian, yang selalu dianggap menjadi hal baik sampai batas tertentu. Tetapi ketika dipimpin oleh pemain dan tim kreatif yang sebagian besar orang mendengar, pasti ada beberapa masalah seputar keakuratan," kata O'Dell.[]

 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor: Robandi

The subscriber's email address.