Lompat ke isi utama
Ilustrasi anak kecil sedang menangis (Kredit gambar: suara.com)

Guru Perlu Memahami Perundungan Terselubung

Solider.id, Surakarta-Microaggression atau mikro agresi bisa diartikan sebagai perundungan secara halus dan berpengaruh terhadap kesejahteraan hidup di mana setiap individu memiliki nilai positif terhadap dirinya sendiri.

 

Perilaku anak (siswa) lebih sensitif terhadap gestur guru karena mereka memiliki pengalaman sensitif. Anak (siswa) yang memiliki mikro agresi adalah tentang keberterimaan mereka di kelas. Apakah nyaman terlebih dahulu di kelas sebelum belajar, sebab bisa jadi hal ini karena dampak panjang citra diri yang buruk.

 

Baca juga: Literasi Inklusi Sejak Dini dalam Gerakan Sibolga Inklusif

 

Mikro agresi tidak terlihat maka para guru perlu menyadari, dan ber-refleksi bagaimana kualitas interaksi mereka terhadap murid yang termarjinalkan, apakah mikro agresi ini terjadi di kelas kita. Demikian dikatakan oleh Pujaningsih, Dosen Universitas negeri Yogyakarta dalam seri webinar AIDRAN, Selasa (20/4).

 

Pujaningsih memberi contoh bagaimana saat guru mengintegrasikan siswa sebelumnya. Kalau dinamika keluarga berbeda maka kita perlu mengintegrasikan, sebab ada keberagaman yang tidak semua terwakili soal yang diberikan oleh guru.  Tidak boleh ada kata-kata misalnya, “Oh dulu kakaknya tidak bisa membaca.”

 

Pujaningsih sering meminta mahasiswanya bercermin dan tersenyum serta menanyakan apakah muridnya. Guru perlu praktik bagaimana mengekspresikan senyum dengan intonasi, dan di saat pandemi tidak bisa berinteraksi lalu bagaimana mengekspresikannya secara virtual.

 

Menurut Pujianingsih, ada stereotipe pada gender, ada stereotipe juga yang tanpa disadari ketika melihat siswa. Dalam kehidupan sehari-hari yang seperti itu dianggap remeh-temeh, namun perlu dicatat bahwa hal itulah yang bisa berdampak kepada murid. “Keberagaman siswa, kalau masih dalam pelajaran semua dipukul rata,” katanya.

 

Pujianingsih memberi contoh lain ketika berinteraksi sosial anak dengan hambatan membaca. Mereka mempunyai hambatan membaca, mereka sama-sama berteman, sementara mereka berteman dengan teman lainnya. Namun, teman lainnya tidak ada yang menimpali. Hal tersebut sering terjadi di sekolah pada umumnya.

 

“Ketika situasinya tidak inklusif, maka hal-hal seperti ini akan terjadi, si anak akan bertanya dalam hati,” imbuhnya.

 

Baca juga: Menggagas ULD Pendidikan di Kalimantan Selatan

 

Pujaningsih menekankan pentingnya bekerja membuat kelompok yang tujuannya tidak kepada hasil namun proses bagaimana interaksi siswa di dalam kelompok tersebut. Ia membagi dua desain khusus untuk siswa berkebutuhan khusus, dan guru menyampaikan kepada teman lain. Pujaningsih berharap semua guru menguasai dan memahami tentang mikro agresi, tidak hanya guru bagi anak berkebutuhan khusus saja tetapi semua guru, setiap guru, terlebih guru kelas.[]

 

 

Reporter: Puji Astuti

Editor: Robandi

The subscriber's email address.