Lompat ke isi utama
Menjadi Difabel dan Kegagalan Bunuh Diri

Menjadi Difabel dan Kegagalan Bunuh Diri

Solider.id, Makassar- Pada 21 September 2016, sekitar jam dua siang, aku mendapat kabar dari kakakku, Ricky.

 

“Ricka pingsan di rumah kos,” katanya kepadaku. Kos mereka berada di jalan Manunggal 45 Macini Sombala. Saat itu Makassar sedang mendung. Aku sedang di Panti Asuhan saat itu. Kedua kakakku dulu juga tinggal di panti yang sama. Tapi setelah dianggap bisa mandiri, mereka pun diminta keluar dari panti.

 

Aku kaget mendengar berita itu dan segera meminjam motor panti untuk ke rumah kos mereka. Aku pergi bersama temanku.

 

Sesampainya di rumah kos, aku langsung naik ke lantai dua tergesa-gesa. Begitu tiba di kamar, aku masuk dan melihat keadaan Ricka. Dia begitu pucat pasi seperti kekurangan darah akibat capek bekerja. Ricky menyuruhku membantunya membawa Ricka ke rumah sakit.

 

Aku mengikuti perkataan kakakku. Ricky lalu menggendong Ricka ke motornya. Setelah kami sampai di bawah, dia menaikkan Ricka yang setengah sadar ke motor. Aku memegangi Ricka yang lemah. Kami berangkat ke rumah sakit kira-kira pukul setengah tiga.

 

Kami tiba di rumah sakit Bhayangkara, jalan Mappaodang. Kami lalu mengurus agar Ricka dirawat inap.

 

Saat diberitahukan biaya tindakan pertama, kami kekurangan uang sejumlah seratus ribu rupiah.

 

Ricka mengatakan ada uang di lemarinya. Aku menawarkan diri mengambilnya. Tapi Ricky bilang biar dirinya saja. Mendengarnya, Ricka bilang kalua aku saja yang pergi. Ricky mengalah. Aku keluar dan meraih motor. Di sana masih ada kawanku menunggu.

 

Saat melangkah keluar dari UGD tadi, perasaanku tidak enak. Seperti ada gelisah dan ragu. Aku memandang langit. Awan menutupi tanpa celah. Mendung sore ini.

 

“Mendung ji itu, tidak hujan,” kawanku memantapkan keputusan untuk segera beranjak.

 

Akupun memperbaiki perasaanku dan menaiki motor bersama temanku untuk pergi mengambil uang itu.

 

Langit semakin menghitam dan gerimis mulai datang. Tak lama, hujan sudah menderas. Karena sudah dekat, saya memilih menambah laju kendaraan. Aku kesulitan membuka mata lebar-lebar. Butiran air hujan ini cukup besar seperti membentuk bola-bola kecil yang menghambur di wajahku.

 

Saat akan memasuki jalan Bajiminasa, sekitar pukul 3 jalanan mulai terasa licin. Tiba-tiba, aku tak bisa menguasai laju motor. Motor terpeleset dan oleng. Motor terputar searah jarum jam dan kami terjatuh. Temanku terlempar ke kiri dan keluar dari jalur jalan raya sedangkan aku ke kanan masuk jalur kendaraan. Jalanan cukup ramai saat itu.

 

Tiba-tiba, sungguh cepat, sebuah mobil avanza berwarna merah melindas sebagian tubuhku. Aku sama sekali tak bisa mengelak. Gelap, aku pingsan.

 

Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Saat itu pukul 9 malam. Aku melihat, Ricky dan Ricka menangis. Akupun mengulurkan tanganku yang kukepal untuk memberikan uang. Ricky memegang tanganku.

 

“Apa?” ujar Ricky heran.

 

“Uang kak Ricka, seratus ribu,” ujarku.

 

“Di tangan mu tidak ada apa-apa,” ia heran.

 

Aku kaget dan segera melihat kepalanku yang melompong kosong.

 

Aku diam sejenak.

 

“kenapa terbaring ka di sini, kak?” aku bertanya masih heran dan takt ahu kejadian apa yang telah terjadi.

 

“Tadi saat kau kecelakaan,” ujar Ricky tampak sedih.

 

Aku terheran-heran dan tak mempercayai hal itu. Aku merasa kecelakaan tadi hanyalah mimpi. Tetapi rupanya itu kenyataan.

 

Sejak perawatan, teman-teman pantiku datang dan melihatku terbaring di atas tempat tidur pasien.

 

Awalnya aku tidak merasa sakit sedikitpun. Namun setelah sadar, aku melihat sosok putih di jendela rumah sakit. Sosok putih itu seperti bersinar.

 

Aku bersaha tenang dan berkata dalam hati, sosok apa itu tadi? Apakah barusan aku hamper saja mati?

 

Aku terdiam, mencoba merenung. Aku memilih tak memberitahukan siapapun mengenai sosok putih bersinar itu.

 

Keesokan paginya, aku merasakan hal aneh. Biasanya aku akan kencing di pagi hari, tapi sampai saat ini tak ada rasa ingin kencing. Aku masih diam dan menganggap tak terjadi hal yang mengkhawatirkan.

 

Tapi, saat hendak membalikkan badan, aku merasa kesulitan. Kakiku tidak mau bergerak sedikit pun?

 

“Kak, kakiku tidak bisa bergerak, kenapa?” tanyaku kepada Ricky. Ricky terdiam, tak menjawab apapun. Mungkin ini efek obat, pikirku. Akupun melanjutkan tidur.

 

Siang hari, aku terbangun. Sosok putih bersinar itu datang lagi. Kini ia lebih dekat dari tubuhku. Ia tepat di bawah kakiku. Aku terkejut tapi tak merasa takut. Aku malah tersenyum padanya. Sosok itu menghilang lagi.

 

Aku berupaya membalikkan badan lagi. Tapi tak bergerak sedikitpun. Mengapa efek obat begitu lama hilangnya, pikirku.

 

Tak lama, Ricky datang dan mencoba membantuku bergerak. Setelah itu dia berkata, “Coba bangun duduk.”

 

Aku mencobanya. Badanku tetap diam. Aku sangat kesulitan bergerak. Aku mulai menangis. Aku juga bertanya kepada Ricky, kenapa aku tidak bisa bergerak.  Ricky membantuku duduk. Aku seperti batang pohon yang patah.

 

Perlahan, Ricky membantuku. Ia mengangkat tubuhku, coba berdiri. Namun ketika Ricky melepas tubuhku, badanku terjatuh ke lantai tak berdaya. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku kalut dan tak menyentuh makanan apapun. Aku hanya minum segelas air setiap hari. Setelah seminggu, aku tetap tidak bisa menggerakkan kedua kakiku.

 

Bahkan setelah dua bulan kemudian, setelah menjalani operasi di Rumah Sakit Wahidin, aku mengira akan bisa berjalan kembali. Tapi dari 14 dokter yang menanganiku, Sebagian besar menyatakan tidak bisa Kembali berjalan.

 

Seteleh mendengar hal itu, aku menangis sejadi-jadinya. Sepertinya dunia menjadi gelap gulita. Masa depan terenggut seketika. Aku panik dan terus menangis.

 

Hari-hari selanjutnya, aku masih dalam perawatan. Ada kekasihku turut menjaga di rumah sakit. Tapi saya masih merasa remuk redam. Semuanya hancur.

 

Kekasihku memelukku. Ia berusaha memberiku kekuatan. Aku tahu itu.

 

“Sudah mi, jangan menangis terus,” katanya menenangkanku. Tapi aku masih tetap gelisah dan kepanikan berkecamuk dalam diriku.

 

Seminggu kemudian, aku masih dirawat di Rumah Sakit. Pikiranku belum tenang.

 

Suatu pagi, kekasihku mengajakku untuk jalan-jalan dengan kursi roda. Aku perlu udara segar dan menyamankan suasana hatiku. Ia mendorongku dan kami sudah di luar kamar. Belum jauh beranjak, aku memintanya agar ia mengambilkan air mineral di kamar. Aku sengaja memintanya agar ia masuk dan meninggalkanku sejenak. Ya, aku hanya butuh beberapa detik untuk melakukannya tanpa sepengetahuannya.

 

Ia masuk dan aku mulai beranjak. Aku memutar ban kursi rodaku mendekati tangga. Aku ingin membunuh diriku sendiri.

 

Aku sudah di bibir tangga. Sedikit lagi aku bergerak dan akan mati.

 

Tanpa keraguan aku mendorong kursi rodaku lebih cepat dan terjadilah petaka itu.

 

Aku meluncur bersama kursi roda dan terpelanting, terguling-guling sampai ke lantai satu. Aku merasakan benturan berkali-kali. Tiba di lantai dasar, kepala kuberdarah, tubuhku seperti remuk, dan sial, Aku tak mati!

 

Di atas, kekasihku panik dan mendengar kegaduhan barusan. Ia bergegas turun dan menemukanku di lantai bawah dengan kursi roda terbalik. Tubuhku tertindih kursi roda. Sakit sekali rasanya. Darah masih bercucuran di kepalaku. Sialan betul, akum au mati, bukan cuma berdarah.

 

Setelah sebulan, aku keluar dari rumah sakit. Aku kembali ke panti asuhan di mana aku selama ini tinggal.

 

Dalam panti, suasana perlahan berubah. Aku merasa kehilangan Teman-teman di sini. Aku merasa mereka jarang mengajakku bicara. Aku bahkan mencoba menyapa mereka. Tak ada yang menanggapi, hambar sekali. Ini membuatku semakin tak karuan.

 

Suatu kali, pernah kudengar mereka bilang sesuatu yang tidak mengenakkan. Aku nyaris membenci mereka setelahnya.

 

Malam itu aku pura-pura tidur dan aku mendengar perbincangan mereka.

 

“Dia sisa tunggu mati, saja,” ujar salah seorang dari mereka. Kalimat itu sangat tidak mengenakkan. Aku melanjutkan kepura-puraan, tak ingin menghardik mereka. Aku malah menangisi keadaanku ini.

 

Malam itu aku tak tidur sampai pagi. Sesekali menangis, selebihnya memaki keadaan, di dalam hati.

 

Keesokan paginya, niat bunuh diri datang lagi. Aku naik ke kursi rodaku. Aku sedang berada di lantai tiga. Sunyi di sini. Ada tamu-tamu panti asuhan di bawah. Aku mendengar percakapan mereka samar-samar.

 

Aku menggerakkan roda kursi rodaku, menuju tangga. Kali ini aku harus mati.

 

Di tepi tangga, aku sudah siap. Aku bahkan menutup mataku. Ada kepasrahan yang kubiarkan menguatkan niatku meluncur.

 

Suara kursi roda menghentak anak-anak tangga, aku terpelanting, bergulir-guling dan bertabrakan dengan kursi rodaku sendiri, dan tak lama kami tiba di lantai satu. Tamu-tamu tampak kaget dan panik mendengar suara-suara benturan itu.

 

Aku tak mati. Asu!

 

“Kenapa aku tidak matiii!” aku berteriak.

 

Orang-orang terkejut dan berhamburan untuk menolongku. Mereka mengangkatku dan berusaha mengobati lukaku.

 

Aku sudah dua kali gagal, aku mungkin akan mencobanya sekali lagi.

 

Di panti, sejak upaya bunuh diri yang gagal itu, aku menjalani kehidupan apa adanya. Aku kebanyakan terbaring saja. Akses yang tidak memadai di panti membuat ruang gerakku sempit sekali. Tidak enak rasanya mengganggu teman-teman jika aku harus selalu meminta bantuan. Aku juga mulai memakai pampers karena tidak bisa mengontrol buang air kecil dan besar. Betapa tidak nyamannya.

 

Setiap hendak mandi, aku harus meminta bantuan teman-teman atau kakakku. Aku tak bisa menguasai tubuhku sehingga aku setiap hari butuh bantuan untuk diangkat. Keadaan ini sama tidak nyamannya. Menjadi orang yang tergantung untuk melakukan urusan sehari-hari. Aku merasa malu. Kebanyakan aku menggunakan pampers baik untuk buang air kecil dan buang air besar. Sungguh menyakitkan jika mendapatkan Teman yang tidak mau membantu mengambilkan, semisal nasi atau lauk yang sulit kujangkau.

 

Karena suasana yang tidak menggairahkan, aku memilih lebih banyak berbaring. Sampai suatu hari ternyata aku terkena decubitus atau luka tekan yang sangat serius. Luka itu ada di tulang ekorku. Awalnya luka itu hanya serupa goresan tapi lama kelamaan membesar dan sampai tulang. Sakit sekali.

 

Beruntung, di Panti Asuhan ini ada organisasi sosial di Belanda yang mau membantu mengurusi kebutuhan panti ini. Ibu Annete namanya, kemudian meminta perawat dari Grestelina datan untuk mengobati dekubitusku. Berkat Ibu Annete juga saya mendapatkan terapi rutin selama dua bulan lamanya. Seminggu tiga kali saya diterapi. Tapi tidak ada perubahan. Aku masih tetap hanya bisa berbaring di rumah dan semakin membuatku frustasi.

 

Sebulan kemudian, aku dikeluarkan dari panti asuhan. Tepatnya 4 Februari 2017. Awalnya aku tidak mau keluar. Tapi, pihak panti telah menyiapkan surat pernyataan untuk keluar. Aku tak berdaya dan akhirnya memenuhi permintaan mereka. Katanya, aku tidak akan bisa lagi berlama-lama tinggal di panti. Aku keluar, merasakan perihnya patah hati. Menangis lagi.

 

Karena tak punya pilihan, aku pindah ke kos kakakku, Ricka di jalan Cendrawasih, jembatan merah. Ukuran kamarnya hanya muat untuk seorang, saya harus menyesuaikan diri.

 

Beruntung terapi masih berlanjut. Saat itu, seorang Terapis asal Belanda rutin mendatangiku. Ia bernama Lukas. Ia juga bagian dari Somoi.

 

Saat itu, Lukas adalah mahasiswa di Amsterdaam University dan seorang Fisioterapis Somoi. Somoi merupakan organisasi fisioterapis untuk kerja-kerja pembangunan di Indonesia. Organisasi ini sudah bekerja kurang lebih 18 tahun di Sulawesi Selatan. Setelah beberapa tahun berhenti, kini program SOMOI berjalan lagi. Lukas adalah salah satu Terapis yang dikirim dari Belanda untuk bekerja di Tana Toraja, khususnya di sejumlah SLB dan menangani terapi fisik bagi anak-anak difabel kinetek (fisik), seperti anak dengan Cerebral Palsy, polio, atau orang dewasa yang terkena stroke.

 

Lukas mengurut dan memberikan pengetahuan cara mengontrol gerak dengan otak. Kini aku harus pandai mengendalikan dan memerintah otakku. Dulu, kaki digerakkan dengan spontan, kini aku harus belajar membangun kendali gerak itu melalui otakku. Sulit, masih sulit sampai sekarang. Tapi banyak perkembangan.

 

Sejak terapi itu, aku mulai bersemangat. Lukas dan Bibi Fem dari Somoi membelikanku Hape Vivo dan dengan itu aku berkomunikasi dengan Teman-temanku. Teman-temanku sudah ada yang kuliah dan bekerja. Aku malah merasa rendah diri karena hanya bisa terbaring, dan tak berdaya.

 

Setelah enam bulan, Lukas harus kembali ke Belanda. Nyaris bersamaan, kakakku Ricky juga merantau ke Bali. Aku sendiri di rumah kos. Kakakku, Ricka memilih tinggal di kos lain. Dalam kesenderian, godaan bunuh diri muncul lagi.

 

Aku menenggak banyak pil obat, berharap over-dosis.

 

Apa saya mati kali ini?

 

Aku cuma tak sadarkan diri. Begitu sadar, aku sudah di rumah sakit. Dua hari kemudian kekasihku datang dan katanya, ia mau membantu mengurusku sambil kuliah. Aku tak mengelak atas bantuannya. Tampaknya ia memang tulus ingin membantuku.

 

Ia lalu mengontrak kamar kos di depan kos ku. Ia menepati janjinya dan aku merasa bersemangat.

 

Menjelang Akhir Desember, ia pulang kampung. Ia mau meminjam hapeku, dan aku meminjamkannya dengan satu pesan. Aku ingin dia bicara ke orang tuanya tentang kondisiku dan memintanya untuk merekam. Dia mengiyakan.

 

Kekasihku ini bernama Selvi. Saya menaruh Harapan kepadanya. Sepertinya, semangatku yang ada saat ini, tersangkut padanya. Saya merasa perlu bertahan hidup. Aku pacarana denga Selvi sejak SMP dan kami berpacaran selama 4 tahun 2 bulan. Ia pulang kampung untuk merayakan natal 2017 dan merayakan peralihan tahun baru di kampungnya.

 

Suatu sore, ia balik dan kami bertemu melepas rindu. Ada perubahan kurasakan. Ia beberapa kali menangis.

 

“Kenapa, dek?’’ dia memilih diam atau paling-paling menjawab tidak apa-apa.

 

Aku meminta rekaman ucapan orang tuanya. Ia memutarnya.

 

Kata-kata orang tuanya seperti dugaanku.

 

“Tak ada harapan yang bisa disediakan oleh seorang Ryan jika ingin terus bersama dirinya,” kira-kira begitu intinya.

 

Hening.

 

Aku membaringkan badanku, menenangkan diri. Selvi tak tahan dan memilih pamit ke kamarnya.

 

Setelah beberapa hari, ada perubahan dari Selvi. Aku melihat ada lelaki yang menjemput dan mengantarnya setiap ke kampus dan kembali ke kos. Aku mengenal lelaki itu, Teman panti ku dulu. Setelah tiga minggu, aku mendapatkan kejelasan. Mereka memang berpacaran. Kekalutan Kembali menyerangku. Biasanya, kalau kalut begini saya lantas berpikir pendek lagi.

 

Bunuh diri? Ya.

 

Suatu pagi, aku bangun sebagai orang yang kalah.  Melihat cermin dan lantas aku membenturkan kepalaku sekeras-kerasnya. Pecahan kaca berhamburan seiring suara retakan. Darah mengucur deras dari kulit kepala yang robek. Aku memungut pecahan paling besar dan mengunyahnya penuh keputusasaan. Aku tak menhiraukan bibir dan lidahku tersayat-sayat. Darah mengucur dalam mulutku. Aku berharap menelannya, tapi aku pingsan lagi.

 

Ketika aku tersadar aku sudah berada di UGD rumah sakit. Aku melihat di sampingku ada kakakku, Ricka. Wajahnya menunjukkan kemarahan.

 

“Bodoh kau itu!” Ia menamparku.

 

“Mau cari mati?”.

 

Aku mengutuki kegagalanku mati hari ini. Tak peduli dengan tamparannya.

 

“Kenapa aku masih hidup? harusnya aku mati!” aku berucap dalam hati.

 

Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali ke kosku dan kembali hidup sendiri.

 

Selang beberapa hari, ibuku datang. Ia membawaku ke Enrekang. Di sana ia tinggal bersama suami dan anaknya.  Suaminya bukan bapakku. Ia telah bercerai dan menikah kembali.’

 

Di Enrekang, aku tinggal di kecamatan Maiwa, tepatnya Maiwa atas. Awalnya berjalan baik. Di sana aku memasak, mengepel, menyapu rumah, mencuci piring. Aku sering di tinggal selama seminggu sendirian, entah mereka pergi kemana.

 

Ketika ibuku pulang pasti ada saja cara untuk bisa memarahiku. Ibuku memang temperamen. Bahkan adikku pun diperlakukan keras. Suatu kali ia marah pada adikku dan aku merasa tidak nyaman jika tak membelanya. Ibuku bertambah marah dan dia memukulku dengan gagang sapu. Dalam kekalutan, ia mengambil pakaianku dan menghamburnya.

 

“Kau tidak ada gunamu!” matanya mendelik.

 

“Anak setan, kenapa dulu pas kecelakaan tidak mati saja!” Dia seperti kesetanan dan aku cuma bisa menangis. Memunguti pakaian dan tidak beranjak. Aku tetap memilih tinggal dan melakukan apa yang bisa kulakukan. Kali ini aku tak mau berpikir pendek. Aku tak mau berusaha bunuh diri lagi. Sia-sia saja. Tobat ma!

 

Saya menerima keadaanku tinggal di Enrekang. Walaupun ibuku masih suka marah-marah, aku menerimanya dan berupaya memakluminya. Ia juga menghadapi masa-masa yang sulit.

 

Pada awal 2019, Januari, saya mulai searching informasi tentang orang-orang cacat. Bagaimana mereka hidup, di mana bisa bekerja, dan lain-lain. Saya lalu mendapat informasi tentang Balai Rehabilitasi untuk orang dengan disabilitas di Kota Makassar. Aku senang dengan informasi ini. Aku terus mencari-cari informasinya. Websitenya cukup aktif sehingga banyak informasi yang bisa kubaca.

 

Aku juga mencari tahu info dari Dinas Sosial Kabupaten Enrekang. Kami terhubung. Aku meminta tolong agar bisa belajar di Balai. Mereka dengan senang hati mengurus segala keperluanku.

 

Pencarianku berbuah beberapa bulan kemudian. Pada Agustus, pihak dinas sosial menjemputku dan membawaku ke Makassar untuk belajar selama 6 bulan di Balai.

 

Saat inilah aku merasakan rasa nyaman yang lama tak kurasakan. Aku bertemu Teman-teman yang juga difabel dengan beragam kondisi. Aku tidak sendiri dan aku bukanlah yang paling mengalami kesulitan. Aku tidak akan kesepian lagi.

 

Bersama pegawai Balai Rehabilitasi Penyadang Disabilitas Fisik Wirajaya dan teman-teman difabel yang belajar di Balai, kami berbagi rasa dan semangat. Kami belajar sesuai minat masing-masing dan kepala Balai, Pak haji Syaiful sangat perhatian kepada kami dan memberikan kami banyak kekuatan untuk bangkit.

 

Di Balai, kami diajarkan menerima keadaan yang sekarang kami alami. Aku menerima dan aku sudah terbiasa untuk bercanda walaupun candaan itu terkait kondisi fisikku. Tidak apa-apa. Aku bersyukur, aku masih hidup. Aku masih bisa berjuang untuk masa depanku. Kini aku memantapkan diri dengan cita-cita yang harus kuraih.

 

Kelak, aku akan membuktikan kepada semua orang bahwa kami difabel tidaklah lemah seperti kata orang difabel itu orang cacat. Aku sering menonton motivasi dari Jack Ma, Nick Vujicic, dan masih banyak lagi. Oia, di Balai ini, aku juga menjalin kasih dengan Nurul. Dia perempuan difabel dan baik hati.

 

Sekarang saya juga bergabung dan aktif di PerDIK. Awalnya perkenalanku dengan Teman-teman PerDIK punya cerita tersendiri. Aku akan menceritakan singkat saja. Kelak aku akan bercerita lebih panjang.

 

Saat itu, selepas berlatih di Balai. Aku tinggal di Gowa bersama Ricka. Aku mau mendaftar kuliah.  Aku bingung sekali. Pihak Somoi, yang banyak mendukungku selama tinggal di panti bersedia memberiku beasiswa. Aku pun berupaya mencari informasi. Aku tak peduli saat kakakku menentang rencanaku. Tapi aku kepalang sudah jadi batu yang keras hati. Aku ingin kuliah.

 

Pada saat itu aku masih mencari kampus, ibu Annette menelponku dari Belanda. Ia memberiku saran untuk menghubungi Lembaga PerDIK. Akupun mencarinya di google. Mudah saja mendapatkannya. Ada nomer tertera di sana dan aku mengontak nomer itu.

 

Orang yang menerima telponku adalah Kak Ishak Salim. Ia ketua PerDIK. Aku ingat, dia banyak tanya kepadaku, dan banyak melucu dengan pertanyaan-pertanyaan atau merespon cerita-ceritaku.

 

Aku bilang, akum au kuliah di jurusan Teknik Elektro. Ia pun mengusahakannya. Aku mendapatkan sejumlah informasi termasuk brosur Universitas Islam Muhammadiyah, Unismuh. Aku menyampaikan ke Ibu Annette kalau aku telah terhubung dengan PerDIK dan aat ini kami sedang proses pendaftaran. Teman-teman PerDIK seperti kak Mamat dan kak Nur Syarif Ramadhan membantuku ke kampus.

 

Aku senang. Tapi kakakku tidak. Ia masih menentang keinginannku. Aku tetap tak peduli. Ia memintaku pergi. Aku mengadu ke PerDIK dan meminta kepada Kak Ishak agar aku bisa tinggal di PerDIK.

 

“Biar saya bersih-bersih di kantor, kak” pintaku dengan sedikit membujuk. Tiada penolakan. Aku diterima tinggal di PerDIK. Hari itu juga aku pinjam uang tetanggaku dan memesan GoCar lalu ke PerDIK. Saat ini, aku tak mau mati lagi. Ini babak baru hidupku. Aku mulai bergiat bersama Teman-teman.

 

Terakhir, di Akhir tahun lalu (2020), kami rapat kerja di Malino. Kami di sana selama 4 hari. Seru sekali. Menghidupkan semangatku untuk menapaki hari-hari mendatang. Aku harus bisa terus hidup dan mencapai yang kuimpikan.[]

 

 

Penulis: Ryand Saputra Liman, Relawan PerDIK, mahasiswa Teknik Elektro Unismuh

Editor: Robandi

The subscriber's email address.