Lompat ke isi utama
Ilustrasi siluet disabilitas psikososial di dalam penjara

Difabel Psikososial, Bagaimana Memahaminya?

Solider.id,- Hubungan seseorang sebagai individu dengan masyarakat tidak selalu berjalan lancar. Sering satu individu kesulitan menyatu dengan masyarakat karena tidak mampu memenuhi tuntutannya. Bentuk tuntutannya beragam, pintar gaul, berpenampilan menarik, hingga berprestasi akademik misalnya. Masyarakat seolah secara tidak sadar telah membentuk kolom perilaku di mana setiap orang harus masuk ke dalamnya. Psikososial adalah kesulitan seseorang untuk masuk dalam kolom-kolom tersebut.

 

Kajian psikososial secara umum membahas bagaimana kesehatan mental dan kebiasaan seseorang dipengaruhi oleh masyarakat. Tentu saja ini adalah medan pembahasan yang rumit dan luas sekaligus. Telah bertahun-tahun banyak ilmuan dan cara pandang membahas dua hal tersebut. Sehingga telah banyak pendapat yang bisa jadi bertolak belakang. Namun satu hal yang perlu digarisbawahi dalam psikososial adalah kesehatan mental.

 

Baca juga: Situasi Hukum Difabel Psikososial di Indonesia

 

Di Indonesia psikososial telah masuk dalam kategori penyandang disabilitas, tepatnya disabilitas mental. Seperti disebut dalam UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, bahwa penyandang disabilitas adalah mereka yang memeliki keterbatasan, salah satunya mental, yang membuat mereka kesulitan berinteraksi dengan orang lain.

 

Karena telah masuk dalam kategori penyandang disabilitas, tentu difabel psikososial punya hak-hak spesifik dibanding orang lain. Namun urusan menjadi pelik tatkala persoalan tak nampak seperti mental ini hendak didekteksi. Karena tidak semua orang bisa melihatnya secara langsung. Butuh ahli khusus untuk menentukan apakah seseorang menyandang psikososial atau tidak. Namun belum juga bertemu ahli, para penyandang ini keburu remuk oleh perundungan dan stigma masyarakat, hal yang membuat masalah mentalnya semakin parah.

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut psikososial sebagai salah satu pemuci remaja melakukan bunuh diri. Remaja psikososial perlu pendampingan lebih karena menurut survey WHO bunuh diri adalah pembunuh remaja nomor 2 di dunia. Data di Indonesia yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan tahun 2018 mencatat 6,2% remaja kita adalah penyandang psikososial. Data ini jelas menjadi pegangan kuat untuk semua pihak agar lebih serius menyikapi persoalan ini.

 

Baca juga: Butuh Kolaborasi, Advokasi Difabel Psikososial Harus Terus Dilakukan

 

Jika ingin memlihat lebih dalam, psikososial bisa dirinci menjadi beberapa kategori. Di antaranya adalah mereka yang memiliki gangguan kecemasan, gangguan depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, serta gangguan kepribadian. Namun kategori yang disebut terakhir bisa berisi banyak hal, salah satunya trauma. Seperti telah disebut sebelumnya, untuk mendeteksi berbagai gangguan ini perlu berkonsultasi pada ahli medis atau psikologis. Lantas bagaimana kita tahu kapan mesti bertemu ahli?

 

Ada beberapa gejala yang kerap diasosiakan sebagai psikososial. Seperti anak atau remaja yang sulit berkonsentrasi, melakukan kenakalan yang tidak wajar, hingga suasana hati yang berubah drastis. Sebagai dampaknya anak atau remaja itu akan menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka kehilangan minat untuk berinterakasi dengan orang lain. Ada juga gejala panik atau takut secara tiba-tiba hingga pada taraf tertentu menyakiti dirinya sendiri.

 

Sejauh ini pemerintah kita sudah memberi respon cukup positif terkait kerentanan penyandang psikososial anak dan remaja. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menerbitkan panduan sederhana untuk orang tua dan keluarga terkait psikososial. Mesti diakui bahwa keluarga dan orang terdekatlah yang punya potensi besar menjadi pendamping para penyandang psikososial. Karena masyarakat umum pada dasarnya belum punya kepedulian dan pengetahuan yang cukup untuk memahami psikososial. Alih-alih lingkungan sosial justru menstigma dan mendiskrimasi setiap orang yang punya gangguan psikososial.

 

Rumitnya Hubungan Subjek Psikososial dengan Masyarakat

 

Dalam kajian psikososial yang berkembang belakangan, pendekatan subjek lebih sering dikemukakan. Konsen utama pendekatan ini adalah aspek medis. Berfokus pada terapi dan penanganan atas seseorang yang didiaknosis sebagai penyandang skizofrenia, depresi, dan problem mental lainnya. Tentu hal itu tidak salah belaka, cuma tidak cukup menjawab persoalan.

 

Perlu diingat bahwa persoalan mental muncul bukan cuma disebabkan oleh subjek sendiri, melainkan juga tatanan sosial. Bahkan, sebagaimana penyandang disabilitas lainnya, persoalan yang lebih kompleks justru terletak pada sistem sosial. Yakni bagaimana kondisi sosial melahirkan penyandang psikososial dan memperlakukan mereka dalam kehidupan kesehariannya secara tidak manusiawi. Hubungan inilah yang mesti menjadi perbincangan agar setiap orang yang notabene terlibat di dalam sistem besar ini punya pemahaman memadai.

 

Baca juga: Difabel Mental Psikososial Banyak Dirugikan Sebagai Konsumen

 

Pada taraf tertentu pembedaan antara individu dan masyarakat (kolektif) sebenarnya telah membuat perdebatan yang tak berujung. Stephanie Taylor mencatat absennya pandangan diskursif yang menghubungkan subjek dengan realitas sosial lebih luas membuat lubang besar dalam kajian psikososial. Ia berpendapat semestinya kajian psikososial melihat subjek sebagai medan diskursus yang menghubungkan individu dengan sistem sosial yang lebih luas. Dalam relasi itu ada peran kekuasaan yang menyusup di sana, baik moral maupun aturan.

 

Melihat subyek sebagai bagian diskursus berarti memahami psikologi manusia sebagai sebuah proses menjadi. Ada perkembangan yang kontinyu, potensi, dan bahkan ketak-komplitan dalam proses itu sendiri. Dengan mengambil sudut pandang seperti inilah kita tidak lagi terperosok pada lubang subjektifikasi. Karena norma-norma yang mengapung dalam masyarakat kita, yang katanya modern ini, tak semuanya beres. Perilaku diskriminatif adalah gejala yang mudah kita temui di semua masyarakat, tak pandang predikat negara maju atau terbelakang.

 

Patut dicatat juga bahwa merawat/memberdayakan penyandang psikososial membutuhkan syarat yang kompleks. Mulai dari pembentukan pondasi hubungan sosial, diagnosa dan evaluasi klinis, kajian fungsi sosial dan kebutuhan subjek yang tak terpenuhi, hingga monitoring yang berkelanjutan. Oleh karena itu proses ini melibatkan seluruh elemen yang ada dalam masyarakat. Dari orang awam, pemegang kebijkan, hingga ahli kesehatan. Lantas seperti apa kesiapan kita sekarang?

 

Sejauh ini kesadaran terkait kesehatan mental dan psikososial di Indonesia masih kurang. Ilustrasinya mudah saja, berapa banyak dari kita yang bisa membedakan antara psikolog dan psikiater sih? Dari hal kecil ini saja sudah tergambar betapa masyarakat kita hanya akan menyebut orang yang berkunjung ke salahduanya sebagai ‘gila’. Mendapat predikat ‘gila’ bukan perkara gampang di Indonesia. Karena hal itu sama dengan kehilangan hak-hak sosial dan formal yang semestinya bisa mereka dapatkan.

 

Pemerintah meamng sudah mualai bergerak, tapi organ pemerintah yang aktif tampaknya baru Kemenppa. Itu pun gerakannya masih terlihat sporadis dan berfokus pada anak remaja. Padahal persoalan mental dan psikososial jelas tidak kedap pada orang dewasa. Belum ada layanan konsultasi psikologis yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Beberapa media kerap menginformasikan di setiap pemberitaan terkiat kesehatan menatl. Tapi tampaknya itu adalah inisiatif sendiri, bukan bagian besar dari program besar kesehatan mental multi dimensional.

 

Barangkali masalahnya memang masih berkutat pada paradigma sosial dan pemerintah kita yang medical. Bahwa hal-hal yang terkait dengan penyandang disabilitas berpokok pada medis dan klinis. Sehingga solusinya adalah perawatan dan rehabilitasi. Persoalan psikososial masih dipandang bersumber pada subjek, bukan tatanan sosial yang ada. Sehingga merasa sistem yang berjalan sekarang sudah baik dan orang yang tidak beradaptasi yang salah.

 

Jika benar kita masih di level ini, semoga saja tidak, maka jangan heran jika masalah psikososial akan terus berkembang di masa depan. Saat angka pengidap psikososial semakin besar, apa lantas semua orang hendak dipanti-rehabkan?[]

 

 

Penulis: Ahmad Jamaludin, S.H., M.A.

Editor: Robandi

 

Sumber:

Mengenal Anak dengan Disabilitas Psikososial, Panduan Dasar untuk Orang-Tua dan Keluarga, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, 2019.

Antonio Vita, Giulio Corrivetti, Josè Mannu, Domenico Semisa & Caterina Viganò, “Psychosocial Rehabilitation in Italy Today,” International Journal of Mental Health, 2016.

Stephanie Taylor, “Discursive and Psychosocial? Theorising a Complex Contemporary Subject,” Qualitative Research in Psychology, 12:8–21, 2015

UU nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas

 https://difabel.tempo.co/read/1397037/anak-dengan-gangguan-psikososial-masuk-kategori-anak-disabilitas/full&view=ok

The subscriber's email address.