Lompat ke isi utama

Relevansi Braille di Era Digital

Solider.id - Masih pentingkah huruf braille bagi difabel netra di era digital saat ini?. Itulah pertanyaan yang dimunculkan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Louis Braille Indonesia dalam rangka memperingati hari braille internasional pada tanggal 4 Januari 2020.

Dimas Prasetyo Muharam, seorang difabel netra yang bekerja sebagai peneliti di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sekaligus pengelola website kartunet.com, mengatakan bahwa huruf braille tetap penting dilestarikan di era digital. Dimas mengibaratkan huruf braille dengan tulisan tangan yang digunakan oleh para nondifabel. Meskipun teknologi telah berkembang dengan sangat pesat, tulisan tangan tidak akan mungkin ditinggalkan. Begitu juga dengan braille yang merupakan bentuk tulisan tangan difabel netra.

Huruf braille menjadi sangat penting dalam konteks literasi. Berdasarkan pengalamannya selama mengelola website kartunet.com yang menerima karya para difabel netra dalam bentuk tulisan, ia sering menemukan kesalahan penulisan yang dilakukan oleh difabel netra. Hal itu disinyalir karena para difabel netra saat ini sudah jarang mengakses huruf braille.

Aspek literasi kepenulisan ini, sulit dipenuhi hanya dengan gadget saja. Sebabnya, ketika difabel netra mengakses informasi menggunakan laptop/handphone, mereka tidak membaca, namun mendengarkan pembaca layar berbicara. “ini kan berbeda dengan orang-orang yang membaca. Dimana huruf dirangkai menjadi kata, kata dirangkai menjadi kalimat, kemudian kalimat dirangkai menjadi paragraf.” Papar Dimas 4/1/2020.

Mimi Mariani Lusli, direktur Mimi Institute sepakat bahwa braille tetap penting di era digital. Membaca dan menulis huruf braille bagi difabel netra memiliki manfaat untuk melatih motorik difabel netra. Dengan membaca huruf braille, maka kepekaan difabel netra akan terbentuk.

Mimi selalu merekomendasikan anak-anak yang masih belajar di sekolah dasar, untuk belajar braille terlebih dahulu sebelum belajar menggunakan perangkat teknologi. “ini bagus untuk anak kelas 3 atau 4 SD.” Ungkap Mimi.

Mimi menambahkan, bahwa seharusnya yang paham akan huruf braille bukan hanya difabel netra, namun juga masyarakat luas. Ini penting, karena seharusnya tulisan braille ada dalam setiap produk yang dijual dipasaran. Produsen harus mulai melirik hal ini, karena diluar negeri kemasan produk seperti obat atau makanan telah dilengkapi dengan huruf braille untuk membantu difabel netra.

Huruf braille juga penting bagi difabel netra yang hendak mempelajari alquran braille. Sebabnya, difabel netra yang hendak mempelajari alquran braille wajib belajar huruf Arab Braille. Hal ini disampaikan oleh Ridwan Effendi, difabel netra yang menjadi dosen  Bahasa Arab  UIN Sunan Gunung Djati.

Menurutnya, alquran braille digital tidak dapat menggantikan alquran braille konfensional. Hal ini karena difabel netra tidak dapat membaca tulisan Arab yang ditulis dalam alquran. Dengan alquran braille digital, difabel netra hanya mendengarkan saja.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.