Lompat ke isi utama
salah satu produk dari kawan difabel surakarta yang dipasarkan lewat online

Cerita Perempuan Difabel yang Berdaya di Bisnis Online, Tak Hanya Meraup Laba Tapi Berbagi Bahagia

Solider.id, Surakarta - Seperti ditulis oleh Kompas.com bahwa sejak pandemi COVID-19, masyarakat diimbau hanya berkegiatan di rumah, transaksi belanja lewat online meningkat pesat. Perusahaan e-commerce pun mendapat banyak untung dari transaksi. Chief Customer Care Officer Lazada Indonesia Feery Kusnowo mengatakan berdasarkan data yang ia terima dari McKinsey ada sebanyak 57 persen masyarakat Indonesia melakukan kegiatan berbelanja melalui digital.

Bisnis online menjadi suatu pengharapan yang menjanjikan atas berputarnya roda ekonomi, terutama bagi kelompok rentan yakni perempuan difabel. Dalam laporan asesmen cepat dampak COVID-19 yang dilakukan oleh jaringan organisasi difabel  menyatakan bahwa wabah yang meluas seperti COVID-19 sangat berpotensi menyebabkan dampak psikologis terhadap kesehatan mental seseorang, dan berpotensi menambah jumlah difabel baru, Begitu pula sejumlah dampak potensial lain seperti ekonomi dan sosial yang perlu menjadi pertimbangan dalam mendesain upaya penanganan wabah, maupun pemulihan dalam jangka waktu yang lebih panjang. Asesmen berlangsung sejak 10 April sampai 24 April atau selama dua minggu memperoleh 1.683 responden dengan beragam informasi jenis difabel, ragam kemampuan, dan kondisi rumah tangga.

Menarik karena dari responden didapat data 806 atau 48% responden memiliki pekerjaan. Selebihnya, sejumlah 877 atau 52% saat dilakukan asesmen tidak sedang bekerja atau sedang menganggur, di mana diantaranya ada yang belum bekerja karena masih anak-anak atau masih pelajar/mahasiswa, dan adapula memang tidak mampu bekerja. Sebanyak 48% yang memiliki pekerjaan, bekerja di sektor swasta yang saat ini rentan untuk terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PH), pedagang kelontong, buruh harian lepas, tukang parkir dll. Ini adalah peluang yang bisa dilakukan oleh difabel untuk bisa berdaya dengan menciptakan pasar dengan berdagang secara online.

Seperti cerita empat perempuan difabel sebagai berikut, yang tak goyah diterpa badai pandemi, dengan segala keterbatasan yang membuat mereka bebas berekspresi dan berinovasi, maka roda ekonomi tetap berjalan. Bahkan ada cerita dari seorang perempuan difabel yang bekerja sehari-hari sebagai dosen pengajar di sebuah universitas swasta di Surakarta, sejak pandemi, omsetnya bertambah, dan keuntungan yang diperoleh bisa untuk tetap melakukan terapi pengobatan.

Dwi Lestari (22) adalah warga Desa Kedungjambal Kecamatan Tawangsari. Anak kedua dari tiga bersaudara, difabel cerebral palsy tersebut piatu sejak kecil. Sehari-hari perempuan yang biasa dipanggil Tari tersebut hidup bersama adik dan nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedangkan untuk menyangga perekonomian keluarga, sang Kakak bekerja menjadi buruh migran di Jepang sejak lima tahun terakhir. Di rumah, Tari yang juga aktif di komunitas difabel tak hanya diam menunggu kiriman uang kakaknya. Ia berbisnis online sejak 2017 dan saat pandemi ini bisnisnya semakin moncer.

Jika dahulu barang dagangan yang dijual Tari berupa produk pakaian dan kosmetika, maka sejak tiga bulan yang lalu, Tari berinovasi berdagang makanan yakni keripik Sukun. Inovasi ini berkat pelatihan yang diberikan oleh sebuah organisasi difabel yang bergerak dalam isu kepedulian gangguan jiwa untuk kelompoknya di desa. Tari pun menyambutnya uluran baik organisasi tersebut dan saat ini sedang berupaya membuat kelompok sendiri. Ia menghimpun hingga sembilan perempuan survivor gangguan jiwa untuk mengikuti pelatihan di rumahnya. “Sudah berjalan tiga bulan ini kami melakukan produksi, namun terkendala kondisi teman-teman yang kadang tidak stabil, akhirnya belum semua bisa ikut rutin. Ada dua teman survivor yang masih bertahan bekerja dengan saya. Saya ingin berbagi kebahagiaan karena banyaknya pesanan keripik dengan dua teman ini, supaya mereka terus mendapat upah, ” jelas Tari saat solider menghubunginya lewat WhatsApp.

Saat berdagang pakaian dan kosmetika, Tari mempercayakan ekspedisi/pengiriman barangnya kepada perusahaan JNE, sebab menurutnya, layanan tersebut selalu tepat waktu sampai kepada pelanggan. Ia bahkan mendapatkan pelayanan ekstra, karena dengan menyimpan nomor kurir JNE yang kantornya masih berada di wilayah desanya, kurir tersebut datang ke rumahnya mengambil paket. Ternyata layanan jemput barang pelanggan tak hanya dilakukan kepada Tari. Tetangga Tari yang berusia lansia pun juga mendapatkan layanan yang sama. Bahkan sang kurir mau membantu menuliskan alamat yang dituju.

Untuk produk makanan keripik sukun yang diproduksinya dengan label Difajiwa Berdaya, dari kurir JNE ia mendapat saran agar sebaiknya dikemas dalam toples sehingga tidak hancur. Tari sangat berterima kasih atas saran tersebut, dan akan menunaikannya di tahun 2021 yang akan datang. “Suka aja sama petugasnya yang sering mengarahkan bagaimana sebaiknya dagangan saya dikemas. Dan yang saya suka dari JNE, suka ngasih free ongkir di tanggal cantik!” serunya saat saya mewawancarainya via WhatssApp.

Kisah bagaimana perempuan difabel bertahan dan bisa berdaya secara ekonomi juga ditemui pada diri Siti Maryati, difabel fisik polio, janda kepala keluarga warga Sukoharjo yang memiliki seorang anak perempuan masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Merasa repot jika harus bekerja di luar rumah sebab tidak ada yang bisa dititipi anaknya, Siti bekerja dengan berdagang online berupa pakaian, sepatu dan barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Jika dagangannya laku dan peminatnya masih di area wilayahnya, biasanya ia memakai sistem Cash On Delivery (COD), namun jika pesanan datang dari luar kota atau pulau, ia menggunakan jasa JNE. Biasanya barang yang laku dijual luar kota/pulau tersebut berupa produk selimut atau sprei batik. Ia membeli langsung dari perajin/produsen. Dengan menjadi reseller, menurutnya ia tidak mengalami risiko kerugian karena uang tanda pembayaran ditransfer di depan. Siti semakin mantap menjalankan usaha dagang onlinenya sebab dengan begitu ia selalu berdekatan dengan anak semata wayangnya, berbagi kebahagiaan dan bisa menjaga serta mengawasi kegiatan sehari-hari.

Cerita Fithri Setya Marwati, seorang survivor bipolar yang bekerja sebagai dosen di salah satu universitas swasta di Surakarta lain lagi. Ia yang di awal pandemi sempat merasakan kekhawatiran dan kecemasan terkait keberlangsungan terapi pengobatan yang dilakukannya. Fithri saat itu merasa cemas dengan kondisi keuangan keluarganya yang mengharuskan dia bekerja mengajar dari rumah dan berakibat berkurangnya salary sehingga khawatir tidak bisa membeli obat-obatan sebab ia berobat secara mandiri dan sudah cocok dengan profesionalisme psikiater langganannya. Namun kecemasan tersebut akhirnya sirna sebab usaha dagang online yang baru ditekuninya beberapa bulan sebelum pandemi menunjukkan geliat yang luar biasa.

Fithri memproduksi sendiri bawang goreng lalu mengemasnya dengan rapi. Karena luasnya jaringan dari komunitas dosen di kantor  tempat mengajarnya, serta komunitas peduli bipolar dan gangguan jiwa yang diikutinya, ia kemudian memiliki pasar. Apalagi Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Solo Raya memberikan wahana berupa group whatsApp dan jatah “hari berdagang” untuk para survivor menggelar dagangannya, semakin nama Fithri melambung sebagai produsen brambang.

Untuk melayani pelanggan di dalam kota, Fitri menggunakan jasa JNE sebab menurutnya, hanya JNE yang memberikan harga terbaik, dibanding perusahaan ekspedisi lainnya, apalagi dibanding jasa ojek online, harganya  terpaut. Sebelumnya sudah ada persetujuan dulu dengan para pelanggannya, sebab ia tidak bisa mengantar sendiri produk dagangannya yang kemudian merambah tidak hanya brambang goreng saja, juga meliputi produk oleh-oleh khas Surakarta seperti ampyang, lanting, dendeng sapi, abon dan sebagainya. Ia terkadang juga mendapat pesanan berupa makanan aqiqah berupa gulai kambing dan sate, maka ia akan mengantar sendiri makanan tersebut sebab bentuknya cair, dan di daerah tempat tinggalnya di daerah Makamhaji Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo, JNE pada jam 21 (9 malam) sudah tutup. 

Menurut Fithri yang bersuamikan seorang pekerja lapangan pendamping desa, bisnis online membuat yang susah menjadi mudah. Marketing tidak perlu biaya mahal lagi, tidak perlu sewa ruko dan gudang besar bahkan tidak perlu modal misalnya bagi dropshipper, yang cukup menjualkan produk teman dengan memasang gambar kemudian laku. Dengan bisnis online, produk menjadi lebih luas jangkauannya. “Teman-temanku lama yang dulu satu sekolah yang sekarang tinggal menyebar di luar kota/pulau aku blasting dengan foto-foto produk, mereka jadi tertarik ikut berjualan,” ungkap Fithri.

Satu lagi yang menjadi catatan bagi Fithri bahwa ia tidak pelit untuk berbagi produk sebagai pemancing daya tarik pembeli. Ia sering berbagi bonus misalnya pembeli produk bawang goreng, ia sisipi produk abon. Saat lebaran tiba yang mengharuskan ia berbagi rezeki dengan berkirim hadiah lebaran, ia juga menyisipkan satu-dua produknya. Fithri tidak menghitung apakah ia akan untung atau rugi karena niatnya adalah berbagi kebahagiaan.

Cerita berbagi kepada sesama saat pandemi bisa dibaca dari kisah Indah Imawati, seorang ibu rumah tangga dengan bayi berumur tiga tahun. Sadar bahwa hanya suami satu-satunya tulang punggung perekonomian keluarga, Indah, yang merawat ibu mertua seorang penyintas bipolar, juga memiliki bisnis dagang online. Di awal pandemi COVID-19, Indah termasuk pelanggan #jne yang memanfaatkan program “Kirim masker diskon 50%, maksimal 5 kg”. Ia yang biasa berjualan produk buku dan penyedap masakan sengaja tidak berjualan masker dan Alat Pelindung Diri (APD) lainnya. Namun ia ingin berbagi kebahagiaan dan rezeki dengan mengirimkan masker kepada sanak saudara serta teman dengan gratis. “Memang tidak saya jual, namun saya berikan gratis bagi yang memerlukan, apalagi saat awal pandemi dulu harga masker membumbung tinggi,” terang Indah.

Keterbatasan jarak dan fisik bukan lagi sebuah kendala bagi difabel untuk berdaya dengan memanfaatkan teknologi digital. Angka 52% difabel tidak bekerja dari hasil asesmen cepat yang dilakukan oleh jaringan organisasi difabel pada April lalu kemudian dilaunching Juni 2020, saya yakin angka ini akan berubah dan terus berubah, karena sebagai manusia, difabel memiliki fitrah untuk bergerak mencari penghidupan yang layak. Tentu semua berjalan dengan dukungan sosial masyarakat, dan dari pemangku kebijakan serta kalangan swasta (perusahaan) dengan terus memberikan inovasi layanan terbaik.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

*Tulisan ini dalam rangka diikutkan lomba #30tahunbahagiabersama, #jne dan bertema : #connectinghappiness, bersama #jne30tahun.

 

Sumber bacaan :

 

https://money.kompas.com/read/2020/10/27/135847026/aktivitas-belanja-online-meningkat-drastis-ini-sebabnya?page=all

Jaringan DPO Respon COVID Inklusif, 8 Juni 2020, “Yang Bergerak dan Yang Terdampak” 

 

The subscriber's email address.