Lompat ke isi utama

Refleksi Akhir Tahun; Pandemi dan Perilaku Elitis yang Tak Peduli

Solider.id - Mulai merebaknya COVID-19 di awal Maret tahun 2020, membuat segala tatanan sosial, ekonomi, hingga peribadatan menjadi porak-poranda. Kita semua diharuskan menjaga jarak, baik secara sosial, maupun secara sentuhan fisik. Tentunya, hal ini berdampak buruk bagi semua orang. Tak peduli kaya dan miskin, tua, muda, terutama bagi difabel, semuanya merasakan imbas dari  virus ini. Pemerintah  melalui beberapa mekanisme bantuan sosial telah berupaya membantu ketahanan hidup rakyatnya, termasuk bagi para difabel. Namun kemudian, yang menjadi pertanyaan besarnya adalah adakah bantuan-bantuan tersebut cukup solutif bagi rakyat pra sejahtera, terutama kaum rentan seperti  difabel?  

COVID-19 ini benar-benar meluluhlantahkan segala usaha dan menjadikan kaum rentan semakin rentan, kaum pra sejahtera semakin melarat, dan difabelpun semakin terbatas. Kemudian, di atas segala bencana kemanusiaan ini, apakah berdampak pada kesadaran semua orang, terutama kaum elit,  tentang kepedulian bagi sesama, ataukah justru pandemi ini dijadikan wadah untuk semakin meraup keuntungan di atas segala penderitaan?

Ternyata, jauh panggang dari api. Sebagaimana yang kita saksikan, orang yang diberi kepercayaan sebagai Menteri Sosial oleh Presiden, masih sempat-sempatnya mengkorupsi dana bansos. Padahal banyak  orang yang merana, meradang, dan sangat terhimpit oleh kesulitan hidup akibat pandemi COVID-19 ini. Jadi, bila kita hendak kembali merefleksi diri dan berkotemplasi, maka mungkin kita harus bertanya pada rumput yang bergoyang (seperti lirik lagu Ebiet GAde). Mungkin selama ini kita semua sudah sangat terlena akan dosa, dan tidak hanya terlena, bahkan merasa bangga akan dosa-dosa tersebut. Segala regulasi yang bergulir untuk membantu kaum rentan, terutama difabel, tidak kemudian berbanding lurus dengan implementasinya di lapangan.

Momentum pandemi COVID-19 ini harusnya menjadi wadah untuk kita semua membangkitkan rasa kemanusiaan tanpa tendensi, apalagi kepentingan pribadi semata. Kita tidak kemudian mensyukuri pandemi, tetapi semoga dengan pandemi ini, sedikit dapat mengetuk hati para elit. Bahwa ada rakyat mereka yang jangankan naik mobil mewah, makan hari ini saja mereka masih sangsi.

Wahai para kaum  elitis, semoga engkau semakin punya  rasa etis, dan tidak hanya menjadi pajangan kemewahan semata. Ingatlah kami rakyatmu yang menderita, terutama kami yang difabel. Kami difabel yang masih saja harus memerangi stigma negatif, belum lagi tindakan-tindakan yang semakin hari semakin desktruktif bila kami hanya tinggal diam. Kami para difabel berharap, bahwa tahun 2020 ini menjadi catatan penting bagi kita semua, terutama bagi engkau  yang memiliki kuasa. Bahwa pandemi bukan hanya bencana kemanusiaan, tetapi  momentum agar manusia bisa kembali pada hakikat diri. Regulasi tentang kepedulian sebenarnya tidak harus banyak, tetapi cukup hati mereka yang berkuasa yang harusnya lebih luas membuka hati dan pikirannya agar dapat menjadikan kepedulian itu tidak hanya di atas kertas, akan tetapi dibuktikan dengan tindakan yang ikhlas.

Harapannya, di tahun baru 2021 ini, kita semua semakin kuat menghadapi pandemi, dan tidak semakin terpuruk. Semoga tahun 2021 mendatang membawa kita kepada era perubahan yang membangun peradaban baru, bahwa pandemi tak dapat kita hilangkan seketika, namun dapat kita siasati agar pandemi tidak semakin berimplikasi negatif, terutama bagi kaum rentan, seperti para difabel.

Jadi, datangnya tahun baru ini, semoga dapat menumbuhkan harapan-harapan dan memunculkan  tindakan-tindakan nyata yang berpihak kepada kepedulian, tidak hanya kepentingan sebagian golongan semata. Difabel bangkitlah, dan penguasa, sadarlah! Karena inklusi itu tidak melulu tentang regulasi, akan tetapi inklusi itu juga tentang hati yang penuh kasih dan mengasihi

Dari rintihan hati para difabel yang memimpikan Indonesia tanpa diskriminasi dan korupsi.[]

 

Penulis: Andi Zulfajrin Syam

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.