Lompat ke isi utama
salah satu sesi dalam workshop daring media aksdsibel sapda

Sapda Gelar Workshop Media Ramah Difabilitas bagi Mitra Hivos

Solider.id, Surakarta - Dampak kesehatan, sosial dan ekonomi dari situasi pandemi COVID-19 pada masyarakat miskin dan terpinggirkan yang tinggal di lingkungan padat penduduk, di mana jarak sosial hampir tidak mungkin, dan akses ke air bersih dan sanitasi terbatas sangatlah beragam. Adanya pembatasan sosial memberi tekanan pada keluarga, perempuan dan anak-anak berisiko lebih besar mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Minoritas seksual dan gender, yang telah memiliki kesempatan kerja terbatas, mengalami penurunan pendapatan secara dramatis, dan seringkali hanya memiliki sedikit dukungan keluarga.

Difabel mungkin memiliki kondisi kesehatan yang sudah ada atau mengalami penekanan kekebalan, dan bagi banyak orang, isolasi sosial tidak mungkin dilakukan. Banyak yang memiliki masalah mobilitas, dan akses yang sudah terbatas ke perawatan kesehatan, terapi,  obat-obatan, dan bahan makanan dapat dibatasi lebih lanjut. Kekhawatiran serupa ada pada orang tua yang mungkin tidak memiliki jaringan dukungan sosial yang kuat. Di pedesaan, petani memiliki peluang lebih sedikit untuk memasarkan barang dagangannya, terutama sayur mayur dan buah-buahan segar. Itulah yang mmenjadi latar belakang lembaga Sapda (Sentra Advokasi Perempuan Disabilitas dan Anak) menyelenggarakan workshop media yang aksesibel bagi kelompok rentan pada Senin-Selasa, 21-22 Desember 2020 dan diikuti oleh Mitra Hivos.

Uni Eropa (UE) melalui Hivos melaksanakan Proyek 24-bulan konsorsium Active Citizens Building Solidarity and Resilience in Response to Covid-19 (ACTION) di lima provinsi (Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan), 15 kecamatan, dan 40 desa di Indonesia. Hivos bersama mitranya yaitu CISDI, Kapal Perempuan, Sapda, Pamflet dan PUPUK akan melaksanakan program multi-sektoral berbasis hak untuk menjawab tantangan di atas.

Nurul Saadah Andriani, Direktur Sapda menyatakan bahwa untuk menjangkau  teman-teman difabel yang rentan terpapar COVID-19 memerlukan media yang aksesibel bagi mereka. Tanpa informasi yang cukup maka mereka bisa terpapar. “Teman-teman ini kan dari lembaga yang settle, ya jadi bisa mencermati, membuat produk produk yang akses bagi mereka,”sambut Nurul saat membuka pelatihan. Ia berharap pada dua hari pelatihan para peserta memiliki waktu belajar tentang pengetahuan. Para peserta juga diharapkan melakukan tindak lanjut dari workshop, dan salah satunya melatih dengan sensitivitas dan membuat media yang akses bagi semua.

Workshop media publikasi/sosialisasi yang aksesibel dan ramah disabilitas ini diharapkan dapat membuka sensitifitas dan perspektif tim media yang ada di konsorsium Action tentang media yang aksesibel dan ramah disabilitas, sehingga ke depan dapat memproduksi ragam media yang memenuhi standar aksesibilitas, ramah dan menjangkau difabel yang beragam. Dan bertujuan untuk membuka sensitifitas dan perspektif media publikasi/sosialisasi yang aksesibel dan ramah disabilitas bagi team media dan program konsorsium, meningkatkan keahlian team media dan program konsorsium untuk merencanakan produksi media sosialisasi/publikasi yang aksesibel, ramah dan menjangkau difabel yang beragam.

Hasil yang diharapkan dari pelatihan ini setidaknya 12 orang dari tim media dan program perwakilan lembaga konsorsium terlibat dan mampu mengenali media yang aksesibel dan ramah disabilitas, memahami kebutuhan khusus difabel atas aksesibilitas media sosialisasi/ publikasi/informasi yang akan diproduksi serta mampu merencanakan produksi media yang aksesibel, ramah dan menjangkau difabel yang beragam.

34 peserta mengikuti pelatihan di hari pertama yang menghadirkan Tommy Kristiawan Permadi biasa dipanggil Bjeou Nayaka sebagai fasilitator serta narasumber Jaka Ahmad (Blind Youtuber @Blindmanjack) dan Adhi Kusuma Bharoto, founder LRBI (Lembaga Riset Bahasa Isyarat Indonesia).

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.