Lompat ke isi utama
lapangan sepak bola sedang dipenuhi oleh bebeerapa difabel yang sedang bermain sepakbola tangan

Optimisme Peluang Sepak Bola Tangan Difabel Hingga Kancah Internasional

Solider.id - Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak digemari masyarakat luas. Bahkan diklaim, permainan dari lapangan hijau ini menjadi olahraga yang mendunia. Seperti orang awam pada umumnya, mereka memiliki kecintaan bahkan menjadi pendukung  tim pemain olahraga ini. Pun demikian dengan para difabel, mereka juga mempunyai antusias yang serupa baik sebagai penonton atau suporter maupun pemain.

Menyingkap fakta tentang sepak bola dan masyarakat difabel, muncul pertanyaan aksesibilitas stadion dan bagaimana mereka bermain sepak bola.

Hingga saat ini, pemerintah aktif memfasilitasi aksesibilitas di stadion olahraga. Beberapa lapangan sepak bola dibenahi sehingga memberikan ruang khusus yang aksesibel untuk para pecinta sepak bola dari kalangan masyarakat difabel. Kesempatan bagi masyarakat difabel untuk menyaksikan secara langsung permainan atau pertandingan sepak bola, kini sudah dapat dinikmati.

Di wilayah Jawa Barat sendiri, salah satu stadion sepak bola yang askses bagi penonton difabel antara lain; stadion Si Jalak Harupat yang berlokasi di Kabupaten Bandung, dan stadion Gelora Bandung Lautan Api yang berlokasi di Kota Bandung.

Perkembangan olahraga sepak bola sangat pesat. Di setiap event turnamen lokal, nasional atau internasional selalu dibanjiri penonton. Belum lagi penonton dari media layar kaca. Antusiasme warga dunia terhadap sepak bola memang sangat fantastis, dari kalangan usia anak hingga usia lanjut penggemarnya tetap ada.

 

Lahirnya sepak bola tangan bagi difabel

Sejak tiga bulan terakhir, media ramai mempublikasikan olahraga sepak bola yang dilakukan oleh kawan difabel fisik. Eksebisi permainan masih memanfaatkan lapangan di satu sekolah luar biasa yang ada di Kota Bandung. Meski demikian, gaung keberadaan olahraga yang kemudian diberi nama sepak bola tangan disabilitas ini, sudah sampai terdengar dan disaksikan oleh Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung.

Open turnamen pertama yang telah dilaksanakan pada  3 Desember kemarin, bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional 2020, secara langsung dibuka oleh H. Tedy Rusnawan, AT.,M.M. Ketua DPRD Kota Bandung, Turut hadir pula Adik Fachroji, Ketua National Paralympic Commitee Indonesia (NPCI) Kota Bandung beserta perwakilan dari jajarannya, juga Agung Fajar Bayu dari Sekertaris Umum NPCI Jawa Barat, dan Saputra Aip Ketua 1 bidang organisasi NPCI Jawa Barat.  

Olahraga baru tersebut digagas oleh atlet difabel fisik dari NPCI Kota Bandung. Guntur Afandi, pionir ide yang terus berkolaborasi dengan rekan lainnya, hingga mencetuskan permainan sepak bola tangan disabilitas untuk para difabel fisik hambatan kaki ini.

Dipaparkan Guntur, sepak bola tangan ini sebetunya sudah pernah dimainkan sejak lama. Namun, berkali-kali sempat vakum dan baru digeliatkan kembali pada tahun 2020.

Berawal dari keinginan untuk bermain sepak bola seperti masyarakat pada umumnya, tanpa menampikan kondisi yang ada, sepak bola ini ternyata dapat dimainkan oleh para difabel dengan  hambatan kaki. Mereka yang mengalami amputasi, polio, maupun kelumpuhan pada fungsi kaki tetap dapat bermain sepak bola dengan mengandalkan tangannya.

Semua aturan dalam permainan, aturan dalam pertandingan, hingga ketentuan lainnya seperti ukuran lapangan yang berkaitan dengan sepak bola tangan disabilitas diramu khusus oleh tim pemain dan pelatih serta wasit. Sehingga, kemunculan jenis olahraga ini betul-betul dapat dikembangan dan dimainkan secara asik, tanpa terhalang  hambatan fisik pada kaki yang mereka miliki.

 

Peluang sepak bola tangan disabilitas  

Melihat  potensi yang berkembang pada olahraga ini, banyak pihak meyakini sepak bola tangan disabilitas  pantas untuk menjadi salah satu cabang olahraga baru, yang berada di bawah naungan NPCI sebagai induk organisasi olahraga terbesar untuk masyarakat difabel. Bukan hanya untuk di tingkat kota kabupaten saja, bahkan optimisme hingga level provinsi, nasional sampai internasional pun terbuka lebar.

“Sepak bola tangan disabilitas  ini bisa terus dikembangkan. Ini kali pertama ada dari Bandung, di Jawa Barat, dan di Indonesia, bahkan mungkin di kancah internasional,” tutur  Agung Fajar Bayu dari Sekertaris Umum NPCI Jawa Barat

Agung juga optimis, peluang olahraga tersebut untuk menjadi cabang olahraga di NPCI sangat memungkinkan. Bahkan pihaknya akan terus ikut berupaya untuk mendiskusikan dengan pengurus NPCI di tingkat nasional. Menurutnya, jenis olahraga ini akan menjadi temuan sejarah baru untuk memperkaya ragam cabang olahraga yang sudah lebih dulu ada di NPCI.

Guntur Afandi dan timnya pun memiliki pandangan yang serupa. Ungkapan dari petinggi NPCI Jawa Barat tersebut menjadi satu amunisi untuk terus menggerakan sepak bola tangan tangan disabilitas agar lebih digandrungi lagi. Bukan hanya untuk warga difabel Bandung atau Jawa Barat, melainkan oleh seruluh difabel fisik di tanah air hingga manca negara.

“Harapan untuk olahraga sepak bola tangan disabilitas ini bisa menjadi salah satu olahraga prestasi yang ada dalam naungan NPCI, yang dipertandingkan baik ditingkat daerah Jawa Barat, nasional bahkan internasional. Karena jenis olahraga ini belum ada dan belum pernah dipertandingkan sebelumnya,” ungkap Guntur.

Dirinya juga meyakini, jika kehadiran sepak bola tangan disabilitas ini bisa masuk dalam cabang olahraga prestasi di NPCI, akan membuka kesempatan baru sebagai pilihan untuk  masyarakat difabel yang berminat menjadi atlet. Dan juga membuka peluang bagi para difabel untuk bisa pula berprestasi dalam kancah keolahragaan, khususnya olahraga yang ada dalam naungan NPCI.

Dengan semangat tim pemain, pelatih, wasit dan sosialisasi yang terus dilakukan, diiringi oleh banyak dukungan dari pihak terkait, seperti NPCI yang menjadi wadah induk olahraga difabel, optimeisme sepak bola tangan disabilitas berpeluang hingga kancah internasional.

 

Reporter : Srikandi Syamsi

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.