Lompat ke isi utama
Ilustrasi gambar tang banyak orang berwarna-warni

Merayakan Hari Anti Ableism

Solider.id,- Ableism is not “bad words.” It’s violence (Lydia X.Z. Brown).

 

Kalau kau orang Bugis atau Makassar, tentu tidak aneh bilang, “sumpah, kandala’ kandala’ka!”

 

Itu terjadi ketika alam berpikir kosmik di lingkungan budayamu memang memungkinkanmu tanpa rasa risih dan berdosa, bisa mengucapkannya. Bagaimana bagi orang-orang yang sedang atau pernah mengalami kusta dalam hidupnya? Kalimat sumpah itu pasti tidak nyaman didengar.

 

Larilah dari orang yang sakit kusta, sebagaimana kamu lari dari singa!” anda kenal kalimat itu? Ya katanya, itu hadits. Apakah karena itu, para pengatur negeri lalu membangun kampung-kampung kusta di masa lalu?

 

Di kali lain, Anda mungkin pernah baca, dengar atau bilang, “anggota dewan itu buta dan tuli!” maksud mereka atau anda jelas berkonotasi, tapi itu belum tentu nyaman bagi kawan-kawanmu yang mengalami kebutaan sejak lahir atau menjadi Tuli sejak kecil. Bukan cuma orang biasa punya laku begitu, seniman pun ada yang demikian, misalnya pencipta lagu ‘autis’ dimana salah satu bagian liriknya berbunyi “dasar kau autis!’.

 

Banyak orang menyimpan ‘kuasa melabeli’ di kepalanya. Jika ia menjadi pejabat atau “orang pintar”, dia akan mengecapkannya di lembar kebijakan dan karya ilmiah. Karena mereka, kita mengenal kata ‘penderita cacat’ lalu ‘penyandang cacat’ yang kemudian menjadi percakapan sehari-hari kita.

 

Tak puas melabeli, kita lalu mengenal rupa-rupa cara memperlakukan ‘penderita cacat’. Di masa tak berselang lama setelah negara ini menyematkan kata itu dalam regulasi, pemerintah mengesahkan pengaturan sistem pendidikan yang mensegregasikan anak-anak ini ke sekolah luar biasa.

 

Karena label itu, perlahan-lahan, warga terbagi menjadi yang normal dan yang cacat. Mayoritas menjadi pengatur minoritas dan label-label stigmatik bertambah-tambah banyaknya.

 

Lawan!

 

Pelabelan demikian sama jahatnya dengan pelabelan ‘negro’ di Amerika sana. Orang-orang hitam melawan dan melabeli sendiri dirinya dengan cara terhormat, Afro-America.

 

Kekuatan label memang hebat, ia merembet liar menjadi ungkapan stereotif menjadi rupa-rupa nada miring, berpenyakitan, berdosa, tidak waras, bodoh, dan seterusnya. Karena itulah anda menjadi merasa nyaman berada di sekolah-sekolah umum dan universitas-universitas bertahun-tahun lamanya. Anda menikmati penerimaan para pendidik ketika tubuh anda masuk kategori normal, dan harus ditolak ketika anda berkategori tidak-normal. Anda menikmati ruang kelas dengan lantai berundak-undak, pintu kecil berpalang, toilet jongkok dengan pintu sempit, guru-guru yang yang juga mengamini ideologi kenormalan tunggal yang menapikan betapa beragamnya tubuh dan kemampuan manusia di bumi ini.

 

Bukan cuma sekolah, tapi juga di rumahmu, rumah ibadah, kantormu, taman kota, kolam renang, bioskop bahkan di komunitas-komunitas sosialmu. Berapa kali perjumpaanmu dengan teman-teman yang menjadi korban akibat label demi label itu? Cukup jari kalian membilangnya? Atau bahkan mungkin kalian merasa lupa padahal sebenarnya memang tak pernah menyadarinya.

 

Sebagian orang yang dijajah oleh kuasa label ini melawan. Mereka memilih labelnya sendiri seperti orang-orang hitam di Amerika. Difabel adalah salah satu istilah yang benar-benar hadir dan tumbuh di kalangan komunitas atau pergerakan difabel di Indonesia.

 

Mereka anti-pencacatan!

 

Aku harus menyatakan, bahwa aku berada dalam barisan perlawanan itu. Kami lalu memilih definisi sendiri dan menggunakannya untuk memperjuangkan martabat warga negara yang selama ini merentan atau direntankan oleh kuasa pengetahuan normalisme bio[medik]. Inilah perlawanan epistemologis dan terus menerus tumbuh dalam epistemology perlawanan. Kami menerima definisi bahwa menjadi disabilitas adalah merupakan konfrontasi terus menerus antara kondisi kemampuan seseorang dan situasi yang dihadapinya dalam hidupnya baik pada tataran makro maupun mikro. Situasi ini, yang selalu berupaya menikmampukan difabel tidak hanya berlangsung secara struktural, material namun juga berbasis budaya.

 

Difabel, adalah identitas itu dan difabel adalah orang yang memiliki kemampuan tertentu yang dalam cara pemungsian kemampuan tersebut terdapat perbedaan berdasar kondisi diri (self) dan alat bantu yang digunakan (assistive devices) dan lingkungannya. Inilah Epistemologi disabilitas, yakni kemampuan mengetahui fenomena disabilitas dan mengambil tindakan untuk mengatasi masalah dan menjadikan proses penyelesaian masalah itu sebagai pengetahuan baru untuk melakukan perlawanan. Jika kita tidak memiliki kemampuan itu, mustahil kita akan memikirkan untuk melawan.

 

Pilihan ini merupakan konsekuensi berpikir kritis dari difabel. Dengan cara kritis, kami berupaya memahami fakta disabilitas berdasarkan perspektif relasi kuasa/pengetahuan, dan menyiapkan beragam jenis intervensi yang tepat bagi difabel yang mengalami pemerentanan akibat relasi kuasa/pengetahuan yang tidak imbang. Relasi kuasa dalam konteks disabilitas adalah relasi antara the abled people dan the disabled people. Apa yang menjadi “musuh” dari the disabled people adalah pemikiran yang didasarkan pada normalisme the abled people yang dikenal sebagai Ableism, yakni perilaku yang menunjukkan pemikiran dan sikap meremehkan atau membedakan difabel dengan orang lain berdasarkan kemampuan hidup dalam standar normalisme—kenormalan [tubuh].

 

Bagaimana Melawan?

 

Perlawanan epistemologis dekat hubungannya dengan kerja-kerja mempertanyakan realitas sehari-hari yang dihadapi. Pertanyaan-pertanyaan itu jika dibahas terus menerus membawa pada pemahaman dan kecermatan dalam memaknai kejadian demi kejadian yang ditimbulkan para ableist.

 

Beberapa cara melawan yang telah dirumuskan, dilakukan, dievaluasi, bahkan bisa ditinggalkan mengikuti kebutuhan zaman adalah mengembangkan kemampuan menelaah, melakukan kerja advokasi, mengorganisir difabel, mempraktikkan pendidikan popular, dan lain lain. Kami juga menyebarluaskan pengetahuan yang kami bangun dalam berbagai cara belajar.

 

Kami mencari difabel, berorganisasi dan berdiskusi, saling mendidik diri, menelaah dan menulis, menguji temuan bersama dan mengembangkan rencana lalu beraksi dan berefleksi.

 

Apa yang dilawan?

 

Kami melawan pengetahuan-pengetahuan yang melanggengkan stigmatisasi difabel. Seorang remaja putri yang mengalami kebutaan saat SMP dan mulai bergerak dalam perlawanan difabel di masa SMA, melakukan pembongkaran pengetahuan yang mendasari kebijakan sekolah yang keliru. Difabel-difabel lain yang juga kritis hadir mendobrak pengetahuan yang mendasari sikap dan perilaku para ableist. Kami bukan cuma bisa menegangkan urat lehermu atau melelahkan pikiranmu karena lontaran-lontaran logis, tapi kami juga bisa mendekonstruksi pikiran ableistmu dengan candaan dalam stand-up komedi—walau sambal berbaring atau duduk di kursi roda. Kami menyadarkan subjek dan membenahi objek yang yang menyulitkan dan merentankan difabel.

 

Dari perlawanan itu, kami menjadi terorganisir dan seiap mengorganisir. Kelompok-kelompok difabel berdiri, jaringan organisasi difabel berkembang dan menguatkan perlawanan, dan sekumpulan orang-orang dengan perspektif baru hadir dan memartabatkan difabel di satu sisi dan menyadarkan publik di sisi lain. Satu persatu kebijakan yang responsive terhadap isu difabel bermunculan. Tak selalu berangkat dari niat baik negara, tapi karena sikap rewel kami pada pengabaian yang panjang atas difabel. Kami tak ingin selalu ditinggalkan dan kami mengusung slogan ‘no one leave behind!

 

Produk-produk pengetahuan seperti buku, kertas kebijakan, video, komik,website dan lainnya juga kami buat dan sebarkan. Kemarin, sebuah film berjudul ‘sejauh kumelangkah’ karya mbak Ucu Agustin kutonton sambal menyetir mobil. Saya tak bisa melihat gambar seperti penonton yang buta, tetapi desain film yang penuh ‘penjelasan dari visual dalam layar’ disampaikan. Sedikit ramai memang, tetapi bisa dinikmati bersama. Berapa juta film telah dibuat tapi hanya yang melihat yang bisa memahami sepenuhnya tampilan visual itu.

 

Apa tantangan dalam perlawanan?

 

Kami tahu ini kerja melelahkan. Tapi toh setiap hari ada waktu untuk tidur atau bercengkerama dengan keluarga dan teman menghilangkan penat. Kita bisa istirahat agar prima di hari perlawanan berikutnya.

 

Jika tak demikian, kita bisa kelelahan dan berhenti. Apalagi pilihan perlawanan epistemologis tidak mudah, harus terus menganalisis fenomena. Jika tak jeli, segala yang telah dikalahkan bisa berbalik dan menguasai keadaan dan kehidupan di bawah abelisme kembali bertahta. Perlawanan, dari manapun itu, harus membudayakan kerja-kerja menelaah dan menganalisis keadaan. Apalagi saat ini keadaan tak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Produk-produk pengetahuan mainstream dari rezim kebenaran biomedis—yang mendasari cara pandang pencacatan tadi masih hegemonic.

 

Perlawanan adalah sekaligus penguatan diri dengan karakter dan integritas yang harus menguat. Melawan bukan tanpa rencana. Tanpa rencana, kita hanya akan menjadi santapan para ableist dan kita kembali duduk di bangku-bangku yang mensegregasikan diri kita. Rencana harus dijalankan dan jangan lupa refleksikan. Setiap langkah harus terukur karena serius sekalipun dalam perlawanan beberapa belas atau puluh tahun di sisa hidupmu, keruntuhan total ideologi ableist belum memungkinkan, kecuali ia serupa virus yang kemudian dibasmi dengan vaksin.

 

Untuk semua kelelahan dan kesenangan yang diterima karena perlawanan sehari-hari itu, mari rayakan hari ini sebagai ‘anti-ableism day!’

 

 

Penulis: Ishak Salim, (Ketua Yayasan PerDIK)

Editor: Robandi

The subscriber's email address.