Lompat ke isi utama
Ravindra sedang mengerjakan skripsi dengan komputernya

Tantangan Difabel Netra, Lulus di Tengah Pandemi

Solider.id, Bandung- Kesempatan untuk meraih jenjang pendidikan setinggi mungkin merupakan hak setiap individu, termasuk para difabel dengan ragam jenis kedisabilitasannya. Saat pendemi Covid-19 seperti ini memberikan tantangan tersendiri, salah satunya bagi mahasiswa difabel netra dalam mengerjakan tugas akhir.

 

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Hak Penyandang Disabilitas pada Bagian Keenam mengupas Hak Pendidikan. Dalam Pasal 10 (b) undang-undang tersebut menyampaikan hak pendidikan untuk masyarakat difabel yaitu: ‘Mempunyai Kesamaan Kesempatan untuk menjadi pendidik atau tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan;’

 

Untuk masyarakat difabel, mengakses dunia pendidikan masih menemui berbagai kendala, baik internal atau eksternal, secara infrastuktur sekolah dan kampus juga kemampuan tenaga didik. Program sekolah dan pendidikan inklusi pun terus dikembangkan. Dengan kendala yang masih perlu penyelesaian tersebut, para peserta didik dari masyarakat difabel tetap optimis dalam meraih jenjang pendidikan tinggi. Mereka berusaha lebih ekstra aktif dan kreatif dalam cara belajar dan bermobilitas.

 

Ravindra Abdi Prahaswara (22) alumni dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka. Salah satu difabel netra totally blind asal Jakarta ini, tercatat sebagai mahasiswa pertama se-Indonesia yang lulus dari program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar(PGSD). Pada tahun ini ia mampu menyelesaikan Sarjana (S1) tepat waktu, meski di masa pandemi.

 

“Uhamka tahun ini meluluskan dua orang difabel netra, salah satunya saya dari S1 PGSD, alhamdulillah bias lulus tepat waktu dalam empat tahun atau delapan semester,” ungkap Ravin.

 

Meski di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini, ia berhasil menyelesaikan skripsinya tentang Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan mengangkat tema meningkatkan hasil belajar matematika siswa difabel netra lulus kuliah di masa pandemi menjadi prestasi tersendiri yang luar biasa. Suatu hal yang mungkin sulit diraih oleh orang lain pada umumnya. Kendala selama proses skipsi termasuk harus berkomunikasi dengan dosen pembimbing, justru dirasakannya jadi lebih mudah dengan kondisi ruang gerak yang terbatas seperti sekarang. Bimbingan dengan dosennyadilakukan secara daring via zoom atau telepon whatsapp.

 

“Bimbingan skripsi terasa lebih mudah, kita tidak perlu kejar-kejaran dengan dosen pembimbing selayaknya kalau offline,” kenangnya.

 

Kendala yang ditemui selama mengerjakan skripsi lebih merasa kesulitan dalam mencari referensi buku bacaan. Kurangnya bahan yang aksesibel dan pelaksanaan penelitian yang harus dilakukan secara daring. Ada tantangan tersendiri saat dirinya harus melakukan penelitian secara daring.

 

“Unik, berwarna dan juga anugerah. Karena tidak semua orang bisa mengalami hal yang sama. Proses penelitian dengan mengajar secara daring kepada siswa difabel netra yang menjadi subjek penelitiannya, menjadi pengalaman tak terlupakan,” tambahnya.

 

Soal mendapatkan literatur, Ravindra dibantu teman-temannya yang secara sukarela membantu membacakan isi bukunya. Ia juga rajin mengunjungi perpustakaan nasional, dan pustakawanya siap membantu para difabel netra yang kesulitan membaca dan mengakses buku yang dibutuhkan.

 

Pelayanan pendidikan dan administrasi di kampusnya hampir semua berbasis teknologi atau online yangakses bagi difabel netra. Web tidak menggunakan captcha berupa grafis sama sekali, setiap tombol bisa terbaca screen reader. Pun demikian saat mengerjakan soal ulangan, untuk difabel netra disediakan dalam bentuk softcopy. Sehingga mudah mengerjakan di leptop sendiri tanpa harus minta dibacakan lagi.

 

“Kalau sidang waktu itu kita boleh pilih mau online atauoffline. Saya pribadi pilihoffline untuk mengantisipasi kendala jaringan atau teknis lainnya. Sedangkan untuk wisudanya dilangsungkan secara online,” sambung Ravin.

 

Pesannya untuk para difabel, khususnya difabel netra, melanjutkan kuliah yang terpenting pilih sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuan diri sendiri. Tidak perlu lagi menunggu atau melihat dulu ada tidaknya senior yang pernah masuk jurusan dan kampus tertentu. Karena sekarang semua kampus di Indonesia sedang didorong untuk inklusif dan bisa memfasilitasi peserta didik difabel yang beragam.

 

“Kalau belum merasa difasilitasi oleh kampus tertentu misalnya, mengapa kita tidak berfikir untuk menciptakan pemahaman baru tentang difabel? Agar orang lain, dosen, atau pimpinan kampus  bisa memahami dan kelak akan mengerti apa yang kita butuhkan. Intinya jangan takut buat kuliah ya,” pesannya, Ravindra bertekad menjadi seorang guru, dan juga berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang S2.[]

 

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.