Lompat ke isi utama
informasi kegiatan Kiswah Interaktif Terkait Peran Keluarga Mewujudkan Masa Depan Anak Difabel

Bahrul Fuad dalam Kiswah Interaktif Terkait Peran Keluarga Mewujudkan Masa Depan Anak Difabel

Solider.id, Surakarta - Anak difabel mempunyai masa depan  sama sebagaimana  dengan anak lainnya yang nondifabel. Hambatan anak-anak adalah stigma atau pandangan yang negatif. Banyak yang memandang anak difabel dikaitkan dengan dosa orangtuanya, atau hukuman dari Allah. Kedifabelan juga seringkali dikaitkan dengan hal negatif sehingga membangun perspektif negatif. Hal kemudian menimbulkan  keluarga  merasa malu, ujung-ujungnya si anak dibawa ke panti  dan tidak ditengok lagi. Begitu yang diungkapkan Bahrul Fuad, salah seorang komisioner Komnas Perempuan pada acara Kiswah Interaktif dipandu oleh host  Dania Sofi yang digelar  secara live oleh TV9 Nusantara pada Jumat (27/11).

Di bagian lain, anak-anak yang memiliki kesempatan bersekolah dengan disiplin yang sama dengan anak-anak nondifabel, namun ketika kembali kepada keluarga, anak-anak difabel tersebut cenderung semua dilayani oleh orangtuanya kemudian anak menjadi manja. Padahal suatu saat anak difabel tersebut akan ditinggal orangtuanya maka mereka sendiri yang akan bingung. Di sisi lain, dijumpai anak-anak yang disembunyikan oleh orangtuanya menjadi beban keluarga.

Membangun kemandirian itu penting untuk mempersiapkan ketika anak-anak itu beranjak remaja lalu dewasa. Menurut Bahrul Fuad, hal pertama yang seyogyanya dilakukan oleh para orangtua anak difabel adalah melakukan penerimaan diri, kemudian menemu kenali dengan cara mencari potensi anak kemudian dikembangkan. Menyitir ayat suci Alquran Surat At-Tin ayat 4-6 yang diterjemahkan : 4. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, 5. kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, 6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak ada putus-putusnya,

Dalam surat At-Tin tersebut dijelaskan bahwa Allah sudah berfirman bahwa sesungguhnya menciptakan manusia sebaik baiknya ciptaan. Manusia apa pun bentuknya adalah ciptaan baik Allah yang Maha Sempurna. Mustahil bagi Allah menciptakan makhluk tidak sempurna. Ukuran baik dan tidaknya seseorang ada pada parameternya, apakah mereka beriman dan beramal sholeh. Apa pun adanya manusia meski difabel secara fisik maupun nonfisik/sensorik/mental, itu bukti kesempurnaan Allah.

Terkait pentingnya memberikan pendidikan kepada anak-anak difabel menurut Bahrul Fuad sebenarnya pendidikan inklusif di Indonesia sudah diperkenalkan sejak tahun 1990-an namun faktanya masih bersifat integratif tanpa ada kesiapan nonfisik, non infrastruktur tidak  dipersiapkan. Siswa yang lain yang nondifabel juga tidak dipersiapkan. Akhirnya teman difabel dianggap aneh yang berujung menjadi korban bully. Yang kedua adalah para  guru tidak banyak dilatih dan mereka tidak tahu tentang karakteristik anak difabel. “Bayangkan kalau anak netra belajar mata pelajaran kimia atau matematika, namun sarana tidak memadai,” jelas Bahrul Fuad. Ia menambahkan bahwa selama ini  sistem pendidikan yang belum siap inklusi.

Bahrul menyatakan bahwa peran keluarga dan masyarakat di lingkungannya sangat penting. Membangun kepercayaan diri bagi difabel itu penting dan mentalnya akan semakin baik.  “Disabilitas itu kan sunatullah. Memang harus diterima. Digunakan untuk mengajar kepada anak-anak tentang perbedaan itu. Keuntungan sekolah inklusi adalah non difabel mengenal lebih baik tentang saudaranya yang difabel,” jelas Bahrul Fuad.

Ia menambahkan bagaimana jika ada  masjid yang tidak ramah difabel dan bagaimana ijab qabul bagi teman Tuli yang memiliki hambatan dalam berbicara?

Inklusi difabel jadi rekomendasi Munas NU di Lombok dan punya peranan penting dalam program inklusi. Di Fatayat NU harapannya juga bisa berperan aktif dalam edukasi keluarga parenting.

Di Muslimat dan Fatayat kalau ada orangtua yang malu, menurut Bahrul Fuad  itu adalah tugas para ibu di Fatayat dan muslimat mengingatkan. Pesantren punya potensi inkusi hanya belum dikembangkan secara infrastruktur. Secara modalitas metodologi sudah inklusif.Difabel dilihat jangan negatifnya tapi positifnya dan bisa mengubah hikmah. Bukan musibahnya. Bahrul memiliki tips mudah yakni mengubah cara pandang difabel dari yang difabel sebagai musibah kemudian menjadi difabel adalah berkah dan penuh hikmah serta barokah.  

 

Reporter: Puji Astuti

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.