Lompat ke isi utama
Professor Gerard Quinn (kanan) saat berpidato dalam launching Covid-19 DRM

Gerard Quinn: Pandemi Mengungkap Kelemahan Sistem Yang Ada

Solider.id – Pada Oktober lalu Human Rights Council telah menunjuk Professor Gerard Quinn sebagai Pelapor Khusus Difabel (Special Rapporteur for Persons With Disabilities). Dia menggantikan Catalina Devandas Aguilar yang telah bertugas sejak 2014 hingga Agustus 2020 lalu.

Dikutip dari laman Human Rights Office of The High Commissioner (OHCHR) PBB, pelapor khusus ini memiliki dua mandate utama yaitu: 1). Memperkuat upaya untuk mengenali, mempromosikan, melaksanakan dan memonitor hak-hak Difabel berdasarkan pendekatan HAM, sesuai dengan CRPD maupun kerangka HAM yang lebih luas; 2). Mengingatkan kembali universalitas, keterpaduan, ketergantungan dan keterkaitan antara HAM dan pemenuhan kebutuhan Difabel dalam menikmati hak-haknya tanpa diskriminasi.

Professor Gerard Quinn

Professor Quinn merupakan seorang akademisi asal Irlandia yang fokus pada isu Difabel. Dia merupakan peneliti pada Raoul Wallenberg Institute on Human Rights pada Universitas Lund di Swedia dan Universitas Leeds di Inggris. Dia juga merupakan professor tamu dan peneliti pada sejumlah perguruan tinggi terkemuka di dunia. Fokus utama penelitiannya adalah pada kajian hukum Difabel di level internasional dan Uni Eropa, tulisannya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Lulusan Sekolah Hukum Harvard, The King Ins dan National University of Ireland ini juga dikenal sebagai pendiri dan direktur Pusat Hukum dan Kebijakan Difabel di National University of Ireland.

Selain dikenal sebagai peneliti dan akademisi, Professor Quinn juga terlibat aktif dalam mengkampanyekan isu Difabel melalui forum politik tingkat tinggi seperti forum-forum PBB. Dia merupakan salah satu tokoh yang terlibat dalam penyusunan CRPD. Di samping itu dia juga pernah menjabat sebagai dewan penasehat isu Difabel pada sejumlah lembaga internasional seperti Human Rights Watch dan Open Society Foundation.

Memastikan Suara Difabel Didengar

Menjalani jabatan pada masa pandemic, Professor Quinn menyebutkan bahwa prioritas utamanya adalah memastikan suara Difabel terdengar jelas dan lantang dalam penanganan bencana global yang diakibatkan oleh pandemic Covid-19, perubahan iklim dan di tengah konflik bersenjata.

Dalam pidatonya pada acara peluncuran dokumen Laporan Global Covid-19 Disability Rights Monitor dia menyerukan perumahan secara sistem. Dalam acara yang berlangsung secara virtual ini, Professor Quinn menjelaskan bahwa selain membawa sejumlah dampak, pandemic juga membuka kelemahan sistem yang selama ini ada terkait dengan isu Difabel.  dia merangkum sejumlah kelemahan itu dalam lima poin yaitu:

Pertama, pandemic ini mengungkapkan betapa lemahnya sistem pendukung Difabel yang ada saat ini. Mulai dari sistem kesehatan, pendidikan, perekonomian maupun lainnya masih lemah dan tidak siap menghadapi gelombang krisis. Akibatnya Difabel merupakan salah satu kelompok yang terdampak paling keras semasa pandemic ini.

Kedua, masih minimnya kesetaraan perlakuan bagi Difabel. Pandemic yang berlangsung ini justru membuka kenyataan bahwa kesetaraan bagi Difabel saat ini masih jauh dari harapan.

Ketiga, sistem pelembagaan atau yang dikenal luas sebagai sistem panti, sepantasnya sudah tidak ada lagi. Pandemic juga membuka kelemahan sistem pelembagaan yang selama ini menjadi solusi penanganan Difabel. Dari pengalaman ini, dunia seyogyanya berfikir untuk tidak lagi meneruskan sistem panti.

Keempat, adanya kebutuhan dunia untuk mendukung inklusivitas. Bertolak belakang dengan prinsip sistem panti yang cenderung eksklusif, pandemic telah membuka mata pentingnya dunia yang lebih inklusif.

Kelima, kelemahan sistem yang ada adalah selama ini belum merangkul keberadaan organisasi masyarakat sipil. Pengalaman telah mengajarkan bahwa pada kenyataannya selama masa pandemic ini, peran organisasi masyarakat sipil cukup krusial.

Berangkat dari kelima poin temuan itu, Professor Quinn merekomendasikan adanya reformasi sistem yang ada. Untuk itu dibutuhkan blue print baru agar ke depan sistem yang ada lebih siap ketika terjadi krisis.[]

 

Reporter: Ida Putri

Editor      : Ajiwan ArIef

The subscriber's email address.