Lompat ke isi utama

Dari Difabel untuk inklusi dan Pesan Difabel Netra Lewat Musik

Solider.id - Musik adalah salah saatu bahasa universal dalam interaksi umat manusia. Siapapun, terlepas dari kewarganegaraan, ras, etnis, agama maupun kondisi fisik yang dimiliki mampu menikmati nilai yang sama lewat media musik. Frekeuensi yang dihadirkan musik bagi telinga kita kadang dapat dengan efektifnya melunturkan segala jenis status, embel-embel dan perbedaan yang melabeli kita sebagai individu sosial. Maka tak heran, musik pun menjadi corong yang sangat ampuh dalam mentransmisikan pesan-pesan berharga ke masyarakat. Pesan-pesan yang tak hanya menghibur dalam bentuk nada-nada elok nan indah, namun juga mengandung harapan atas sebuah perubahan terhadap sistem yang berlangsung.

 Musik adalah kanal bagi mereka, voiceless community untuk menyampaikan pesan-pesan kesetaraan, keadilan dan kebermanfaatan lewat karya-karya musikalitas. Dan karena itu, salah satu voiceless community di masyarakat, yaitu kelompok difabel pun menyadari pentingnya musik sebagai platform berkreasi sekaligus menyebarkan isu inklusi yang multifungsi.

Lewat Webminar bertajuk “create talks 2: Tunanetra berkreasi menyampaikan pesan lewat musik”, konsep ini pun coba untuk dieksplor lebih jauh dengan mengundang pembicara dari salah satu komunitas difabel di Indonesia, yaitu Komunitas Mata Hati asal Surabaya, yang diselenggarakan pada 20/11/20 di media daring Zoom.

 Komunitas Mata Hati  merupakan wadah bagi teman-teman difabel netra dalam bergerak dan berkreasi lewat platform musik untuk menyalurkan pesan-pesan mengenai sosial, keberagaman, difabel maupun toleransi di Indonesia. Komunitas Mata Hati sendiri telah berdiri cukup lama dari sejak tahun 2000, dan dipelopori oleh kawan-kawan difabel netra yang ingin menunjukkan kepada masyarakat umum bahwa difabel netra juga mampu berkarya lewat musik, dan itupun tak hanya sekedar bermusik seperti biasanya.

 Oleh karena ingin lebih berkontribusi lewat karya musikalitas yang mereka tekuni, Komunitas Mata Hati pun tergerak untuk menjadikan musik lebih dari sekedar hiburan di kala senggang semata. Caranya adalah dengan menjadikan karya musik mereka sebagai panggung  untuk menyampaikan isu-isu terkait sosial, toleransi, inklusi dan keberagaman, serta secara bersamaan juga melibatkan kalangan nondifabel dalam prosesnya. Tujuannya adalah untuk menjadikan musik hanya sebagai packaging (kemasan) luaran, dan menjadikan konten musik di dalamnya sebagai agenda untuk mempromosikan isu inklusi difabel ke khalayak luas. Oleh karena itu juga, penting sekali peranan kalangan nondifabel untuk turut aktif berpartisipasi dalam memperjuangkan masyarakat yang lebih inklusif kepada difabel netra. Tanpa harmonisasi yang serasi antar kedua belah komponen masyarakat, maka karya musik yang ditujukan untuk mendorong perspektif progresif terkait difabel netrapun akan sia-sia.   

“kami ingin berpesan, inklusivitas harus dibangun oleh semua orang. Tidak hanya oleh disabilitas sendiri!” Ungkap Alvian, difabel netra yang juga merupakan bagian dari Komunitas Mata Hati.

Danny, yang juga merupakan salah satu pembicara mengungkapkan bahwa isu toleransi kepada difabel maupun isu kesetaraan bagi difabel sejatinya dapat dilakukan dalam banyak cara. Cara-cara yang dipilih tidak akan mendistorsi pesan utama yang ingin di sampaikan ke publik luas, yaitu berkaitan dengan isu keberagaman dan kesadaran tentang difabel di masyarakat. Jika bermusik adalah sebuah jati diri kita sebagai manusia, maka menyisipkan pesan-pesan yang dapat menstimulasi perubahan ke arah positif merupakan kontribusi yang sangat luhur bagi seorang seniman. Wujud musik yang begitu universal adalah salah satu keunggulan utama dari musik sebagai corong propaganda. Meski banyak dilabeli sebagai praktik negatif, propaganda lewat musik sendiri sejatinya jauh dari kesan-kesan minor yang selama ini dilabeli dari tindakan propaganda. Jika tujuannya adalah untuk menyampaikan informasi yang positif dan nondestruktif ke masyarakat, maka ia pun juga adalah propaganda yang positif. Mengkampanyekan isu difabel yang berdaya lewat seni musikalitas adalah bentuk perwujudan dari bentuk propaganda tersebut. Hasil akhir yang diinginkan adalah, agar masyarakat mulai melihat difabel difabel netra sebagai individu yang berkarya, berkompetensi dan berdikari.

Komunitas Mata Hati ingin supaya publik luas mulai memandang individu difabel netra sebagai individu yang mandiri dan dapat diandalkan. Terlepas dari stigma selama ini yang masih memandang difabel nettra sebagai objek belas kasihan dan merepotkan, mereka juga mampu berkontribusi banyak asalkan diberi kesempatan yang setara. Lewat musik, difabel netra membuktikan dirinya dapat berkarya selayaknya seniman-seniman nondifabel lainnya diluar sana. Prinsipnya satu, diberi kesempatan dan mereka pun buktikan.

“Kami ingin juga pesankan tentang  kemandirian. Bagaimana difabel netra membawa dan mengurus alat-alatnya sendiri, ke lokasi sendiri. Kami ingin mengajarkan percuma anda bisa main sesuatu pinter tapi malah merepotkan orang lain.” Pungkas Alvian mempertegas.

Ketika publik yang nondifabel mulai memiliki perspektif seperti ini ke kalangan difabel, maka akselerasi bangsa ini untuk mencapai visi masyarakat yang inklusif pun tak akan membutuhkan waktu lama. Gagalnya negara, masyarakat maupun keluarga dalam memandang difabel netra sebagai individu yang kompeten atas hidupnya akan menyuburkan stereotype lama yang tak lagi relevan kepada para difabel netra. Maka dari itu, menjadi sebuah keharusan bagi publik untuk berhenti memandang difabel netra dari labelnya. Mari kita mulai dari memahami difabel netra maupun difabel secara general sebagai subjek, sebagai aktor, dan juga sebagai individu yang kompeten untuk berkontribusi bagi kemajuan bangsa, dan dari situlah toleransi, keberagaman dan inklusi akan lahir.

Hal ini senada dengan tujuan dari inisiator acara, yakni Pamflet Generasi, untuk kemudian meningkatkan toleransi antar sesama individu lewat media seni budaya. Pamflet Generasi sendiri merupakan perkumpulan yang diisi oleh para anak muda, yang bertujuan untuk menginisiasi perubahan dari dan untuk anak muda yang berfokus di isu sosial di Indonesia.[]

 

Reporter: Made Wikandana

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.