Lompat ke isi utama
poster world toilet summit

Difabel dan Peringatan Hari Toilet Sedunia

Solider.id – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mencanangkan 19 November sebagai Peringatan Hari Toilet Sedunia. Pada 2020 ini, tema peringatan adalah “sanitasi berkelanjutan dan perubahan iklim”.

Revolusi akan pentingnya toilet bagi peradaban merupakan sebuah proses yang cukup panjang. Adalah Jack Sim, seorang filantropis asal Singapura yang mendirikan World Toilet Organization (WTO) dan secara konsisten mengkampanyekan pentingnya isu sanitasi bagi setiap orang. Organisasi ini menggandeng para pihak di seluruh dunia untuk terus aktif memikirkan isu ini melalui World Toilet Summit yang dilakukan setiap dua tahun sekali di negara yang berbeda-beda. Di era pandemic tahun ini, untuk pertama kalinya event ini diselenggarakan secara virtual.

Isu toilet bagi setiap orang saat ini bukan lagi dipandang sebagai isu yang tabu dan tidak layak dibahas secara terbuka, melainkan sebagai sebuah kebutuhan dan pemenuhan hak bagi setiap manusia. Lebih jauh lagi, isu ini membuka pandangan mengenai keberlanjutan lingkungan utamanya dikaitkan dengan perubahan iklim yang saat ini sudah ada di ambang mata.

Toilet for Human Dignity

Bagi kita yang hidup dengan akses untuk bisa membuang sisa pencernaan dengan baik, pentingnya komponen ini dalam kehidupan mungkin abai dari pikiran. Namun, ketika selintas saja, perkara “buang air” ini tidak bisa terpenuhi dengan baik maka masalah bisa saja dimulai. Contoh kecil ketika sedang bepergian dan tidak bisa menemukan sarana toilet memadai, ataupun ketika tidak ada sarana air bersih.

Pentingnya prasarana ini sesungguhnya menjadi sangat kompleks. Kebutuhan untuk “buang air” bukan lagi menjadi sebuah hal yang memalukan untuk dibahas lebih lanjut, karena ketika kebutuhan ini tidak bisa terpenuhi kesehatan manusia yang menjadi ancamannya. Komponen dalam pemenuhan kebutuhan inipun juga kompleks, bukan melulu mengenai hal kotor tetapi lebih pada akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, air bersih dan sederet isu kemanusiaan lain.

Isu ini juga pada akhirnya membawa sejumlah kajian mengenai kesetaraan dan pemenuhan martabat kemanusiaan. Fasilitas “buang air” menjadi jauh dari jangkauan penduduk miskin dan mereka yang tinggal di wilayah yang tidak memiliki sumber air bersih memadai. Pun bagi perempuan, anak-anak, Difabel dan kelompok rentan lain yang memiliki kebutuhan spesifik dan lebih urgent, kesetaraan masih jauh dari harapan.

Perempuan memiliki kebutuhan spesifik terkait isu ini. Disamping keperluan penuntasan sisa pencernaan, perempuan memiliki kebutuhan terkait siklus menstruasi. Kebutuhan ini terjadi secara berkala, tidak bisa ditunda dan dielakkan, oleh karena itu akses sanitasi yang layak menjadi kebutuhan utama bagi perempuan pada masa ini. Dan ketika ini tidak bisa dipenuhi, ancaman kesehatan serius bisa terjadi kapanpun.

Toilet Aksesibel

Khusus bagi kelompok Difabel, kebutuhan akan sarana sanitasi yang memadai juga menjadi kebutuhan yang spesifik dan acapkali masih belum bisa terjangkau secara layak. Aksesibilitas sarana toilet menjadi kendala utama bagi Difabel dalam mengaksesnya.

Pengguna kursi roda memiliki kebutuhan spesifik terkait luas area toilet dan penatan ruangan yang memudahkan mereka bergerak. Selain itu, jenis dan tinggi kloset; ketinggian tata letak pendukung seperti wastafel, keran air, sabun dan lainnya; sarana hand rail; tekstur dan bidang lantai maupun pintu toilet perlu menjadi perhatian. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) No. 30 Tahun 2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan, Gedung dan Lingkungan telah merinci mengenai teknis pembuatan toilet yang bisa diakses Difabel.

Meski begitu, tidak semua fasilitas bangunan publik dilengkapi dengan fasilitas toilet akses. Hal ini terutama dikarenakan toilet masih belum menjadi pemikiran banyak pihak. Ketika merancang bangunan, aksesibilitas yang terpikirkan umumnya masih seputar di bagian depan dan dalam bangunan. Toilet yang masih menjadi “urusan belakang” nyaris terlupakan.

Akibatnya di banyak tempat, Difabel kesulitan untuk mendapatkan toilet. Hal ini menjadikan mereka terkendala dalam melakukan aktivitas sehari-hari di fasilitas publik. Beberapa Difabel yang mengalami hal ini umumnya memilih membatasi kegiatan mereka, mengakses toilet dengan bergantung pada bantuan orang laun, harus berkeliling mencari fasilitas toilet yang akses, atau yang lebih parah menahan “buang air” hingga tiba di rumah.[]

 

Penulis: Ida Putri

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.