Lompat ke isi utama
uji aksesibilitas stadion Lukas Enembe oleh panitia Peparnas dan atlet difabel

Direncanakan jadi Venua Peparnas 2021, Stadion Lukas Enembe Papua tidak Aksesibel

Solider.id, Jayapura – Stadion Lukas Enembe yang direncanakan menjadi tempat pelaksanaan Pekan Paralimpic Nasional (Peparnas) pada pada 2021 mendatang, ternyata tidak ramah difabel. Hal tersebut mengemuka  saat panitia bidang pertimbangan Peparnas 2021 melakukan peninjauan venue stadion Lukas Enembe yang dilaksanakan pada (20/11) silam. Peninjauan juga melibatkan beberapa atlet difabel dari cabang atletik.

Dalam peninjauan tersebut, ditemukan bahwa Atlet difabel belum bisa mandiri menggunakan fasilitas yang ada. Salah satu contoh masuk ke area lintasan lapangan  tidak tersedia ramp/bidang miring untuk atlet pengguna kursi roda.

Selain itu, ada beberapa pintu utama juga bertangga sehingga  menjadi hambatan para atlet difabel khusus yang menggunakan kursi roda. Stadion ini sudah menyediakan toilet akses bagi difabel, namun sangat disayangkan letaknya di lantai dua. Hal itu juga jadi hambatan kedepan ketika para atlet difabel  akan berlaga di stadion tersebut.

Efraim Hilapok, Koordinator Bidang Pertandingan Peparnas 2021 mengungkapkan bahwa Peninjauan Venue atau Stadion Lukas Enembe ini dilakukan oleh Bidang Pertandingan Peparnas 2021 hanya untuk mengecek atau konfirmasi di lapangan apakah sudah ramah difabel atau belum.  “ini adalah Venue yang pertama kami turun untuk peninjauan. Rencana kedepan semua Venue dari 12 Cabang Olahraga kami akan melakukan peninjauan atau menitoring tentang ketersediaan fasilitas dan aksesibilitas untuk atlet difabel. Karena dalam waktu dekat juga kami kedatangan tamu dari Technical Delegate (TD) akan berkunjung ke Papua terkait salah satunya adalah kesiapan Venue-venue apakah sudah siap atau belum”.

“Pada dasarnya kami dari Bidang Pertandingan fokus dan berusaha semaksimal mungkin untuk suksesnya penyelenggaraan Peparnas di Papua. Untuk itu kami berusaha kerja keras dalam persiapan dan kesiapan. Karena event ini di Papua  adalah sejarah bagi kami, dan ini yang pertama kali.” Tambah Efraim Hilapok.

"Saya sangat merasa senang ketika Ivent PEPARNAS terlaksana dan kami akan berlaga semaksimal mungkin. Namun kami memiliki catatan untuk stadion Lukas Enembe agar lebih aksesibel dan ramah bagi difabel. Sehingga saya sebagai atlet difabel pengguna kursi roda dapat merasa nyaman dan beraktivitas secara mandiri  saat berada di lapangan. Tapi jujur sekarang ini saya merasa takut terjatuh karena jalan masuk ke lintasan belum akses untuk pengguna kursi roda seperti saya’. Ungkap Ani Jikwa atlet Cakram, lembing dan tolak peluru.

Dalam  Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas sudah dijelaskan pada Pasal 15 Hak Keolahragaan, poin C memperoleh pelayanan dalam kegiatan keolahgaraan, poin D memperoleh sarana dan prasarana keolahragaan yang mudah diakses.

Pasal 97 tentang Infrastuktur yang mudah diakses oleh penyandang disabilitas. Pasal 98 Bangunan Gedung, ayat 2 :Bangunan Gedung yang diakses oleh Penyandang Disabilitas sebagaimana dimaksud pada ayat 1 harus dilengkapi dengan fasilitas dan Aksesibilitas dengan mempertimbangkan kebutuhan, fungsi, luas, dan ketinggian bangunan gedung sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dalam Pasal 99 undang-undang Nomor 8 Tentang Penyandang Disabilitas, ayat 2: Pemerintah dan Perintah Daerah wajib melakukan audit terhadap ketersedian fasilitas Aksesibilitas bagi Penyandang Disabilitas pada setiap bangunan gedung.

Ada juga Peraturan pendukung teknis, yakni Peraturan Kementerian Pekerjaan Umun dan Perumahan Rakyat Nomor 14 Tahun 2017 Tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Dalam peraturan tersebut secara teknis tentang ketersediaan sarana prasarana fasilitas dan Aksesibilitas sudah sangat jelas. Barrier free (Bebas Halangan}.

Dalam permen PUPR tersebut juga menekankan tentang Desain Uneversal (Universal Design), bahkan prinsip Disain Universal seperti pada pasal 4 dan pasal 5 mencakup kesetaraan penggunaan ruang, keselamatan dan keamanan bagi semua, kemudahan akses tanpa hambatan, kemudahan akses informasi, kemandirian penggunaan ruang, efesiensi upaya pengguna, dan kesesuaian ukuran dan ruang secara ergonomis.[]

 

 

Reporter: Roby Nyong

Editor     : Ajiwan Arief  

 

The subscriber's email address.