Lompat ke isi utama
Poster KUKEBI dalam Pameran Kreatif Disabilitas

Kisah Yesi Endah Sundasarin dan Kuliner Camilan

Solider.id, Bandung- Kementerian Sosial Republik Indonesia mengadakan Pameran Kreatif Disabilitas. Pemran tersebut diadakan dalam rangka Hari Disabilitas Internasional (HDI). Salah satu peserta yang bertengger dalam pameran tersebut adalah Yesi Endah Sundasarin asal Kabupaten Garut Jawa Barat.

 

Yesi mengaku, partisipasinya di dalam pameran hanya untuk memeriahkan momentum HDI dengan ragam kuliner camilan yang diproduksinya. Ia sendiri salah satu difabel yang tergolong berhasil di bidang kuliner. Ia mampu hidup secara mandiri di tengah keluarga besarnya.

 

Yesi merintis usaha kuriner olahan makanan ringan sejak Oktober 2013 silam. Meski sempat vakum satu tahun saat dirinya harus menjalani operasi. Ia kembali ke dapurnya perlahan pada 2016 dan terus aktif hingga awal kemajuannya terlihat di penghujung 2017.

 

Saat itu, Yesi yakin usaha kulinernya mampu terus dan bisa dikembangkan. Ia menyabet beberapa penghargaan, seperti penghargaan Peserta Wira Usaha Baru (WUB) tahun 2018. Peserta terbaik pelatihan tataboga yang pernah diselenggarakan oleh YBM BRI. Terpilih menjadi UMKM Juara 2019.

 

Ia juga aktif di bidang lain yang masih seputar isu difabilitas. Ia pernah menjadi aktor sosialisasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 2018 dan relawan demokrasi pada 2019. Saat ini, ia dipercaya untuk menjadi ketua DPC HWDI Kabupaten Garut.

 

“Dapat info dari grup untuk acara HDI Nasional ini, jadi mau ikut berpartisipasi. Selain itu juga agar produk saya lebih dikenal oleh banyak orang,” tutur Yesi.

 

Menjelang momentum HDI 3 Desember 2020, Yesi membagi kisah usaha kuliner yang diikutsertakan dalam lomba tersebut.  

 

“Usaha ini terbentuk karena ketidak sengajaan,” kalimat pembuka yang diucapkannya sungguh membuat teka teki.

 

Ia seorang paraplegi yang sebagian banyak waktunya dihabiskan di rumah. Dari waktu senggangnya tersebut, ia mencoba membuat camilan dengan bahan baku yang ada di dapur. Seperti sagu, keju, juga telur, maka jadilah telor gabus keju.

 

Hasil camilannya, ia potret dan unggah ke media sosial dan mendapat respon positif. Dukungan dan saran mengalir melalui komentar di media sosial sampai ada yang langsung memesan camilan produksinya.

 

Mulanya, ia merasa bingung karena ia memproduksi camilan merupakan pengalaman baru. Ia juga mengaku tidak terbersit sedikitpun untuk menjajakkan camilannya. Namun, karena pesanan seorang teman asal Solo, akhirnya ia membuat da mengirimkannya.

 

Selain itu ada juga beberapa orang teman dan saudaranya yang juga memesan camilannya.  Setelah itu, ia terpikir untuk memulai usaha, sampai kemudian terbentuklah toko camilan yang ia beri nama KUKEBI.

 

Menurut Yesi, nama KUKEBI yang kemudian dipatenkan untuk brand produknya tersebut merupakan istilah bahasa dareah sunda singkatan dari Kue Kenging Abi atau dalam bahasa Indonesianya memiliki arti Kue Buatan Saya. Hingga saat ini banyak varian camilan dengan branding tersebut, yang di pasarkan baik secara online maupun offline dalam kegiatan bazar dan pameran.

 

Keisengan yang akhirnya menghasilkan   

 

Sebelum covid-19 terjadi di tanah air, omset rata-rata perbulan bisa mencapai tiga juta bahkan lebih. Yesi mengaku penghasilan tersebut terbilang mudah didapatkan dalam setiap bulannya. Akan tetapi, di tengah kondisi pandemi terutama di awal-awal adanya covid-19, omset pun berimbas turun drastis. Tokonya nyaris tidak mendapatkan pesanan atau pembeli.

 

Beruntung kondisi tersebut bukan sesuatu yang pasti terus berlanjut. Karena saat ini usaha camilannya sudah mulai bergerak lagi dan mendapat pesanan.

 

“Pas covid-19 hadir, penjualan sangat berkurang apalagi di awal-awal sama sekali tidak ada yang pesan. Tapi sekarang sudah mulai lagi ada pesanan,” kata Yesi.

 

Harapannya dengan mengikuti acara Pameran Kreatif Disabilitas, prodak KUKEBI bisa lebih dikenal lagi dan semakin banyak yang pembeli, khususnya dari pelanggan di Nusantara.

 

Ia juga menyampaikan rasa terima ksihnya pada pemerintah yang sudah sangat membantu, khususnya Dinas Koperasi. Ia mengaku pernah mendapatkan tambahan modal dari Kementrian Koperasi sebagai Wira Usaha Pemula dan juga dari Banpres untuk UMKM yang terdampak covid-19.

 

“Harapan dan keinginan lain untuk mengembangkan lagi usahanya ingin punya kendaraan dan tempat produksi. Agar usaha saya bisa lebih besar dan bisa merekrut tenaga kerja difabel untuk ikut serta dalam usaha saya,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.