Lompat ke isi utama
kekerasan seksual difabel di Kalimantan dipaparkan secara virtual

Pemahaman dan Tingkat Kekerasan Seksual pada Difabilitas Masih Tinggi

Solider.id – Kekerasan Seksual  pada Difabilitas perempuan khususnya Tuli di Kabupaten Hulu sungai selatan, Kalimantan Selatan masih tinggi. Ini disebutkan oleh hasil riset yang dipaparkan via virtual.

Hawa Ahda Huda Noor peneliti yang melakukan riset tersebut mengatakan hasil dari observasi yang dilakukan, banyak responden sekira 70% tidak mengetahui bentuk-bentuk pelecehan seksual dan bagaimana hak-hak untuk melindungi diri mereka agar tidak terjadi kekerasan atau pelecehan seksual.

“Poin-poin besar dari hasil dari temuan ini, pertama tentang data difabilitas, lalu pemahaman dan stigma karena di Kabupaten Hulu sungai selatan pemahaman tentang difabilitas masih rendah dan stigmanya masih tinggi, kemudian kasus dimana 70% perempuan tidak mengetahui bentuk-bentuk pelecehan seksual dan hal itu sering terjadi pada mereka namun tidak ada laporan khusus tentang pelecehan seksual pada difabel, keempat  belum ada layanan kesehatan reproduksi untuk difabel di Puskesmas serta 80% belum pernah mengakses puskesmas kesana karena jarak yang terlalu jauh dan belum aksesibel pada difabel, yang terakhir yakni belum adanya regulasi yang memayungi hak-hak difabilitas,” jelas Hawa dalam paparannya.

Dari 5 poin tersebut, penting untuk dikuatkan dan ditindaklanjuti bersama. Ia menambahkan beberapa rekomendasi yang bisa dilakukan untuk temuan hasil riset tersebut, yaitu :

  1. Kurikulum sekolah

Karena guru-guru kesulitan mengajari pelajaran Kesehatan Reproduksi (Kespro) pada anak-anak didiknya yang belum memahami untuk merawat diri mereka terkait Kespro ini. Maka membuat kurikulum bisa menjadi salah satu cara untuk mengajarkan mereka tentang Kespro.

  1. Peraturan Daerah (Perda) atau Peraturan Bupati (Perbup)

Belum adanya Perda atau Perbup, sehingga difabel sulit menjumpai layanan atau aksesibilitas di Kabupaten Hulu sungai selatan, jadi pembuatan Perda atau Perbup tentang difabilitas bisa memberikan hak-hak pada difabel.

  1. Media Informasi

Karena jarak yang terlalu jauh dengan petugas layanan kesehatan, dengan adanya media informasi yang aksesibel, difabel  bisa mengaksees pengetahuan dan informasi tentang Kespro.

  1. Pendekatan Sosial Model

Adanya kebijakan pemerintah membuat satu model yang dapat diakses oleh difabel, baik secara langsung maupun menggunakan media-media yang mempermudah difabilitas mengaksesnya.

Selain itu, ia berharap RUU Ketahanan Keluarga berpihak dalam perlindungan perempuan difabilitas yang mengalami kekerasan khususnya di lingkungan keluarganya.

“Dari 70% responden mengatakan orang-orang terdekat yang melakukan pelecehan seksual dan responden tersebut tidak mengetahui bahwa itu adalah pelecehan seksual,” ujarnya.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.