Lompat ke isi utama
Kegiatan mengaji komunitas pengamen di Bandung

Alternatif Pekerjaan Pasca Pandemi bagi Difabel Masih Minim

Solider.id, Bandung- Bagaimana cara para terapis difabel netra pasca pandemi berlangsung dalam mencoba mempertahankan kehidupannya secara ekonomi?

 

Dampak pandemi covid-19 masih sangat terasa olah masyarakat luas termasuk para difabel. Ragam aktivitas yang mengharuskan berinteraksi secara langsung, atau yang memerlukan kontak fisik masih terus diminimalisir. Termasuk jenis prosesi para terapis yang masih menutup layanan klinik pijat difabel netra di berbagai lokasi.

 

Keterbatasan dan minimnya peluang alternatif pekerjaan membuat mereka mengandalkan modal seadanya. Salah satu kelebihan yang banyak dimiliki olah para difabel netra secara alami adalah vokal atau suara. Bakat vokal difabel netra memiliki suara yang merdu dan layak untuk disejajarkan dengan vokalis entertain. Di masa pandemi ini, mereka cenderung lebih banyak memanfaatkan talenta alami ini untuk mencari rezeki.

 

Mereka menggeluti profesi sementara ini hanya semata untuk mempertahankan ekonomi kehidupan. Situasi resesi ekonomi dan dampak pandemi berkepanjangan membuat semua orang melakukan ragam alternatif solusi secara pribadi.

 

Hal tersebut juga yang dialami oleh sebagian besar difabel, termasuk difabel netra yang merasakan dampak hilangnya atau ditutupnya layanan jasa profesi terapis pijat dan lainnya. Mereka sementara beralih menjadi pengamen dadakan.

 

“Saat ini kondisi profesi pijat difabel netra sangat lesu. Para difabel netra yang memilih untuk turun ke jalan menjadi pengamen itu hanya karena tuntutan perekonomian, tidak semua melakukannya sebagai profesi tetap,” tutur Yayat Rukhiyat, pemerhati difabel netra.

 

Disampaikan Yayat, dari pihak pemerintah terkait belum menemukan solusi yang tepat. Para difabel netra usia muda yang diarahkan pada bidang keterampilan pun, belum sepenuhnya mampu mengatasi kebutuhan secara finansial. Meski ada program tertentu yang dirancang maupun yang telah dilaksanakan, hasilnya belum maksimal dalam mengupayakan pemulihan tingkat perekonomian mereka.

 

Secara keseluruhan, para difabel netra yang akhirnya memutuskan untuk turun ke jalan menjadi pengamen tidak lah mutlak berprosesi tetap sebagai pengamen. Mereka ada yang terpaksa karena tuntutan ekomoni. Kendati demikian, pihak-pihak tertentu tetap memperhatikan para pengamen ini dengan alternatif solusi citra diri terhadap difabel netra.

 

Bertahan dengan ngamen

 

Memperhatikan kondisi tersebut, seorang pengamen senior Dodi Kusnadi memiliki inisiatif  yang justru patut untuk dipertimbangkan berbagai pihak terkait. Ia menghimpun para pengamen difabel netra dan bekerja sama dengan Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Peduli Bangsa (YKTPB) yang berpusat di Jakarta. Dodi pun dipercaya sebagai pengurus Jawa Barat.

 

“Kondisi ini memang sangat memprihatinkan,” tutur Dodi Kusnadi.

Disampaikan Dodi, tidak bisa menutup mata dengan menjamurnya profesi pengamen dadakan ini. Namun, gagasannya yang didukung YKYPB hadir untuk memberikan perlindungan pada pengamen difabel netra dari razia pihak petugas lapangan, serta untuk meningkatkan kesejahteraan pengamen difabel netra layak dipertimbangkan.

 

Untuk mengaktualisasikan visi dan misinya ngamen secara bermartabat, Dodi Mulyadi memulainya dengan berkegiatan pengajian. Pengamen difabel netra mengaji bersama. Harapan dari kegiatan ini untuk memberikan bekal santapan atau siraman rohani, sehingga saat mereka turun ke jalan untuk mencari rezeki halal tidak diindentikan dengan preman.

 

Solusi lain yang ditawarkan adalah, perubahan pada tampilan seorang pengamen difabel netra. Dalam performanya secara kerapihan berbusana, jenis lagu yang dinyanyikan, etika kesopanan di lapangan, termasuk kepada tutur kata dan berinteraksi kepada masyarakat disampaikan agar mereka memiliki nilai yang berharga di tengah masyarakat.

 

Hal lain yang harus diperhatikan juga terkait tujuan mengamen itu sendiri. Untuk para pengamen difabel netra, mereka sebatas mencari tambahan penghasilan dengan durasi antara sekitar dua hingga tiga jam. Atau setelah mendapatkan penghasilan yang cukup, mereka kembali pulang dan melanjutkan aktivitas utama lainnya.

 

Berbeda dengan pengamen yang memang menjadikan kegiatannya sebagai profesi, mereka biasanya melakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang. Dengan selang waktu tertentu, artinya tidak untuk setiap hari mereka mengamen.

 

Penampilan dan etika menjadi sorotan terpenting untuk menghindari rasa iba dan belas kasihan dari masyarakat. Mereka perfom selayaknya ngamen menjual suara, menghibur dengan bernyanyi. Sekalipun mengamen harus memiliki karakter yang bagus pengamen bermartabat.

 

Belum adanya solusi dari pemerintah

 

Fakta di lapangan yang tidak dapat di tutupi. Menjamurnya pengamen dadakan termasuk para difabel netra, menandakan solusi pemulihan ekonomi di masa pandemi belum teratasi dengan tepat. Dari pihak pemerintahan sendiri masih terus berupaya bersama-sama untuk memperbaiki tatanan perekonomian secara nasional.

 

Memberikan kesempatan kepada masyarakat, untuk lebih leluasa mencari penghidupan yang layak di masa pamdemi perlu menjadi pertimbangan tersendiri. Selama solusi yang tepat belum dapat ditemukan, kebijakan masih bisa dilongarkan. Kebutuhan hidup tidak dapat ditangguhkan, setiap harinya mereka memerlukan pangan.[]

 

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor: Robandi

The subscriber's email address.