Lompat ke isi utama
informasi narasumber dan waktu pelaksanaan Webinar PPIT Kunming

Kunming Berkolaborasi Membuat Audio Book

Solider.id - Minggu, 15 November 2020 Braille’iant Indonesia bersama Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok Kunming (PPIT Kunming) menggelar diskusi mengenai difabel netra dan audio Book. Hadir sebagai pembicara Veronica Christamia Juniarmi dari Braille’iant Indonesia, Yaya Sutarya pejabat Atase Pendidikan KBRI Beijing, dan Muhammad Akbar Satriawan dari Pengurus Wilayah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta.

Veronica Christamia dari Braille’iant Indonesia menjelaskan bahwa audio book merupakan salah satu program dari Braille’iant Indonesia yang telah diselenggarakan sejak beberapa tahun yang lalu. Program ini dilakukan dengan menghimpun keterlibatan relawan dalam pembuatan audio book.

Relawan akan bertugas merekamkan buku teks menjadi audio book yang kemudian akan didistribusikan kepada difabel netra. Beberapa waktu yang lalu, bahkan Braille’iant Indonesia mampu menghimpun sebanyak 200 relawan untuk merekam audio book. Relawan yang terlibat dalam kegiatan perekaman tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang berdomisili diluar negeri.

Kegiatan perekaman itu dapat dilakukan dimanapun, karena perangkat yang digunakan cukup sederhana, misalnya dengan menggunakan smartphone. Syaratnya hanya perekaman harus dilakukan ditempat yang tidak bising dan harus dilakukan dengan suara yang jernih. Untuk itu, apabila relawan tidak sedang dalam keadaan yang sehat, tidak direkomendasikan untuk melakukan perekaman.

Sejak tahun 2019, program audio book ini dikerjakan bersama oleh Braille’iant Indonesia dan PPIT Kunming. Kemudian ini dilanjutkan di tahun 2020.

Program audio book ini dilatarbelakangi karena difabel netra membutuhkan akses literasi selain huruf braille. Sebabnya, buku-buku yang diproduksi dengan huruf braille membutuhkan biaya yang tidak murah dan boros kertas. Misalnya saja, satu lembar tulisan abjad dapat menjadi tiga lembar apabila dialih hurufkan menjadi braille.

Kemudian, buku yang diproduksi dalam bentuk audio dapat dibaca dengan mudah dimanapun, hanya dengan bermodal perangkat teknologi seperti smartphone atau laptop. Sementara itu, buku braille sendiri cukup berat jika harus dibawa berpindah-pindah tempat.

Veronica juga menjelaskan bahwa tujuan dari program audio book ini adalah untuk memudahkan para difabel netra untuk belajar dengan mandiri. Dengan adanya audio book, yang berbentuk suara, maka difabel netra tidak perlu meminta bantuan kepada relawan untuk membacakan buku-buku teks.

Hal ini diamini oleh Muhammad Akbar Satriawan, seorang difabel netra yang menjadi pengurus PW ITMI DIY. Akbar mengatakan bahwa audio book merupakan salah satu alternatif bagi difabel netra agar dapat mengakses literatur.

Selain audio book, menurut pengalaman Akbar yang pernah belajar di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, difabel netra juga dapat memanfaatkan buku elektronik dan materi berbentuk soft coppy lainnya sebagai media pembelajaran. Apabila buku yang harus dibaca masih berbentuk hard copy, maka buku tersebut harus dipindai menggunakan mesin scanner agar dapat beralih menjadi bentuk soft copy.

Yaya Sutarya, pejabat Atase Pendidikan KBRI Beijing mengapresiasi program kolaborasi antara PPIT Kunming dan Braille’iant Indonesia. Menurutnya, PPIT Kunming sementara ini menjadi satu-satunya PPIT yang memberikan perhatian kepada isu difabel.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.