Lompat ke isi utama

Jaga Imunitas Tubuh dan Kikis Stigma dengan daki Gunung Bersama

Solider.id, Malang – Lembaga Lingkar Sosial Indonesia pada awal Oktober silam mengajak sejumlah difabel untuk menjaga imunitas dan mengikis stigma dengan mendaki gunung bersama. Pada tanggal 5 dan 6 Oktober 2020, sebanyak 12 orang peserta dari lingkar sosial melakukan pendakian gunung di kawasa gunung Butak yang memiliki ketinggian 2.868 mdpl. Pesereta yang mengikuti pendakian tersebut menggambarkan tim yang inklusif, mereka terdiri dari berbagai jenis difabel seperti difabel  netra, difabel fisik, serta difabel Tuli. Beberapa kawan nondifabel yang tergabung dalam relawan pandamping posyandu disabilitas serta kawan pemandu juga turut dalam pendakian. Kegiatan ini bertujuan untuk berolahraga, menguatkan imunitas tubuh dimasa pandemi serta mengkamanyekan kikis stigma bagi difabel.

Kertaning Tyas, ketua Pembina lingkar sosial mengungkapkan bahwa selain menghapus stigma, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan imun di masa pandemi, karena memang di awal-awal kegiatan ini   pihaknya ingin membebaskan diri dari kondisi kritis kawan-kawan difabel. “Jadi, ketika itu kan lingkungan ada social distancing, kemudian bekerja di rumah saja. Hal itu membuat kami   semakin sempit ruang geraknya. Salah satu cara untuk mencegah masuknya virus dalam tubuh adalah menjaga imunitas tubuh.  Oleh karenanya,  kita mencoba keluar rumah dengan olahraga jalan kaki. Jadi, pertama kali kita sebenarnya bukan mendaki gunung, tapi jalan-jalan. Kita jalan-jalan  ketika itu pertama kali sejauh 8,5 km. Nah, tanpa sengaja kita melewati bukit. Kok enak bukit ini? Akhirnya kita mencari tempat yang lebih  tinggi. Kita akhirnya, niatnya ke gunung juga,”

Ken sebagai pemerhati difabel ingin menyampaikan pesan kepada khalayak bahwa, “Jangan takut untuk  mencoba, seperti teman-teman yang sudah berhasil membebaskan diri dari belenggu self stigma. Kadang-kadang memang difabel ini kelihatannya berdasar stigma, kemudian stigma itu sendiri dari masyarakat dan juga kebijakan Pemerintah yang belum diimplementasikan secara benar. Hal ini  menimbulkan minimnya keberpihakan pada teman-teman difabel. Dengan lekatnya stigma, difabel menganggap dirinya rendah. Ditambah lagi lingkungan  menganggap difabel sebagai beban. Sementara minimnya keberpihkan dalam kebijakan dapat dicontohkan ketika difabel sulit mencari keterangan sehat dari puskesmas setempat”.

Sementara itu, Erik Wahyudianto salah satu difabel netra yang tertarik dalam berbagai kegiatan  alam seperti pendakian  mengungkapkan bahwa hal pertama yang harus disiapkan, terutama bagi difabel netra yaitu fisik dan mental. Sementara hambatan yang dirasakan adalah  mengenai medan, karena mungkin medan ketika mendaki belum pernah didatangi sebelumnya, maka dari itu, sebagai difabel netra  harus beradaptasi. ”kondisi di gunung juga yang kadang-kadang hujan, kadang-kadang panas. Tetapi itulah seninya mendaki gunung. Akan tetapi, bagi teman-teman difabel netra yang baru pertama kali ini mendaki, pastilah dirasa cukup berat.”

Ia menambahkan, “sebagai difabel netra kita harus memiliki teknik tersendiri dalam mendaki gunung, seperti mengatur napas, dan berbagai peersiapan lain”. Menurut Erik, para pendamping dari timsus LinkSos telah mempelajari medan gunung sebelumnya, dan telah membangun camistry dengan yang didampingi. Pria yang juga berprofesi sebagai terapis pijat ini   menganggap bahwa, hal tersebut sangat penting, agar yang mendampingi dan yang didampingi bisa mengenal karakter satu sama lain, dan bisa sehati sebelum muncak di gunung Butak, karena juga telah melalui proses latihan yang panjang.

Melalui kegiatan pendakian gunung ini, ia ingin  menunjukkan  kepada seluruh masyarakat bahwa difabel, baik difabel netra, dan difabel lain,  membuktikan bahwa kaum yang dianggap lemah ini juga bisa melakukan hal-hal yang dilakukan orang pada umumnya. “jadi jangan menilai kami hanya pada kekurangan”.

Baginya, berhasil mendaki gunung Butak (2868 mdpl) adalah langkah awal untuk meraih cita-cita lebih tinggi lagi untuk mendaki gunung tertinggi di Indonesia. Selain itu, melalui kegiatan pendakian ini, Erik merasakan adanya ikatan batin/kekeluargaan, meskipun kebersamaan tersebut hanya dua  hari (5-6 Oktober 2020), dan dirasanya kesan yang didapatkan  dari pendakian tersebut itu sangat mendalam. Ia juga berpesan, agar ke depannya teman-teman difabel yang tergabung dalam timsus pendakian gunung LinkSos, bisa mempersiapkan akomodasi dan peralatannya secara matang. Erik juga mengatakan bahwa salah satu kendalanya adalah sponsorship untuk kegiatan pendakian gunung ini masih belum maksimal,” tutupnya. 

Selain Erik, Solider juga mewawancarai seorang difabel fisik, Priyo Utomo. Priyo berbagi tips dan pengalamannya pada saat sebelum dan setelah   melakukan pendakian gunung. “Persiapan saya menjaga kesehatan fisik dan kesiapan mental. Untuk fisik saya jalan santai dengan jarak yang cukup jauh. Kalau untuk kesiapan mental saya berlatih di tempat ketinggian seperti naik bukit atau titian untuk melatih fobia ketinggian,” tuturnya.  “Kendalannya ialah fobia ketinggian dan kurang membawa alat medis seperti perban elastis untuk menahan lutut atau pergelangan kaki mengakibatkan sempat mengalami cidera lutut,” jelasnya. Pria yang sekarang ini sedang menggeluti bisnis telur asin ini juga menjelaskan mengenai kesiapan panitia dari LinkSos,   “kesiapan dari panitia iala menyewakan alat yang anggota tidak miliki, seperti matras, sleeping bag, dll, dan konsumsi yang diperlukan.“ Di akhir, ia menyampaikan pesan dan  kesannya pada pendakian  gunung Butak 5-6 Oktober yang lalu,  “pesan-kesannya ialah, saya dapat teman baru, menambah wawasan saya mengenai interaksi sosial, mengenal alam, mengenal diri kita lebih dalam dan mengatasi fobia ketinggian,“ pungkasnya.[]

 

Reporter: Andi Zulfajrin Syam

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.