Lompat ke isi utama

Tantangan Pembelajaran Mahasiswa Difabel di Era Pandemi

Solider.id - Tommy H. Firmanda, Disability Specialist di Pusat Studi dan Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB), menjelaskan tantangan pembelajaran online bagi mahasiswa difabel dalam acara National Disability Conference 2020. Dalam kegiatan yang digelar oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (BEM FH UB) ini, Tommy menerangkan bahwa tantangan pembelajaran online bagi mahasiswa difabel ini ditemukan oleh PSLD UB lewat survey cepat dan FGD. Survey cepat ini dilakukan diawal pandemi—sementara diskusi terfokus dilakukan beberapa bulan setelah pandemi virus corona terjadi di Indonesia.

Survey yang dilakukan oleh PSLD UB menampilkan data bahwa 55% mahasiswa difabel merasa kesulitan ketika pembelajaran dilakukan secara jarak jauh. Survey ini juga didukung oleh hasil pengamatan yang dilakukan oleh Australia Indonesia Disability Research and Advocacy Network (Aidran). Pengamatan tersebut menampilkan data yang serupa. Bahkan, pengamatan yang dilakukan oleh Aidran melibatkan 70 responden yang merupakan mahasiswa difabel dari beberapa universitas.

Mayoritas mahasiswa Tuli merasa kesulitan karena tidak tersedia Juru Bahasa Isyarat dan close caption. Delay juga sering terjadi akibat buruknya koneksi internet.

Selain itu, hasil survey juga menampilkan bahwa mahasiswa Tuli lebih nyaman untuk menggunakan platform Zoom dan Google Meet. Sebabnya, kedua platform tersebut merupakan yang paling aksesibel.

Mahasiswa difabel netra pun juga kerap merasa kesulitan. Hal itu karena tugas dan kuliah sering ditampilkan dalam bentuk video yang tidak aksesibel bagi mahasiswa difabel netra.

Kesulitan lain yang dihadapi mahasiswa difabel netra, menurut penjelasan Tommy Firmanda terjadi karena dosen dalam kelas tidak mengetahui bahwa dalam kuliahnya terdapat mahasiswa difabel netra. Namun, terkadang ini juga disebabkan oleh mahasiswa difabel netra sendiri, yang tidak mengatakan kepada dosen dikelas, bahwa mereka memiliki kondisi difabel netra.

Hambatan lain yang mengemuka dalam diskusi tersebut yakni terlalu banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen. Sehingga, mahasiswa difabel tidak memiliki cukup waktu untuk mengerjakan berbagai tugas.

Selain melakukan survey, PSLD UB juga memunculkan inisiatif untuk mengatasi hambatan mahasiswa difabel di era pandemi. Diantaranya dengan membentuk tim aksesibilitas internal, yang akan membantu para dosen untuk menyediakan materi kuliah yang aksesibel bagi mahasiswa difabel. tugasnya meliputi pembuatan close caption dan lain sebagainya.

Kemudian, PSLD UB mendorong pembelajaran yang aksesibel bagi mahasiswa difabel di seluruh Indonesia. PSLD UB membuat Useful links yang diberikan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perihal menyediakan pembelajaran yang aksesibel bagi mahasiswa difabel. useful links itu dapat diakses melalui internet.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.