Lompat ke isi utama
ilustrasi Inklusi Sosial bagi Difabel, tangan berwarna warni emnandakan keragaman

Menakar Inklusi Sosial bagi Difabel

Solider, Yogyakarta- Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM KM UGM) menggelar diskusi bertajuk Pemenuhan Hak Difabel, Sudah Adilkah Kita?.

 

Elga Andriana salah satu pembicara, dosen dosen Fakultas Psikologi UGM menyampaikan, seringkali masyarakat salah paham dalam memahami inklusi sosial difabel. Difabel seringkali hanya dipahami sebagai orang yang memiliki keterbatasan fisik atau orang-orang yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Padahal, jika merujuk pada terminologi difabel, persepsi ini tidak jelas.

 

“Dalam terminologi difabel, orang difabel dipahami sebagai orang-orang dengan kemampuan yang berbeda. Ini juga mencakup difabel mental, yang memiliki hambatan psikososial dan emosional,” papar Elga (31/10).

Untuk mewujudkan inklusi sosial bagi difabel, menurut Elga, ada dua prasyarat. Pertama, relasi interpersonal dan kedua, partisipasi dalam komunitas.

 

Relasi interpersonal adalah situasi dimana difabel menjalin hubungan dengan lingkungan sekitarnya, mulai dari keluarga, lingkungan kerja, lingkungan pendidikan dan masyarakat secara luas.

 

Sementara itu, yang dimaksud dengan partisipasi dalam komunitas, yakni kesempatan bagi difabel untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sipil dan politik, advokasi, dan masyarakat secara luas.

 

Elga menjelaskan lebih lanjut, konsepsi inklusi sosial ini tidak terlepas dari perubahan paradigma dari konsepsi model medis ke konsepsi model sosial. Pada model medis, difabel dipandang sebagai orang sakit, sehingga difabel harus disembuhkan apabila ingin berpartisipasi dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

 

Sedangkan, konsepsi model sosial, yang menjadi fokus dalam model ini, yakni lingkungan social yang justru membuat difabel tidak mampu. Sehingga yang perlu diperbaiki adalah bukanlah individu difabel. Namun lingkungan sosial yang membuat difabel tidak mampu.

 

Perubahan konsepsi ini terus berevolusi dari waktu ke waktu. Elga mencontohkan dalam konteks pendidikan, dimana pendidikan bagi difabel terus berevolusi.

 

“Dulu, difabel ditempatkan dalam lingkungan yang mengeksklusikan difabel, dimana anak-anak difabel tidak dapat mengakses lingkungan pendidikan,” papar dosen yang memiliki fokus dalam isu pendidikan difabel.

 

Menurut Elga, praktek tersebut berubah, untuk menyediakan sekolah khusus bagi difabel, dimana hal ini sering disebut sebagai pendidikan segregasi. Berikutnya, berkembanglah konsep pendidikan integrasi, dimana difabel diperkenankan untuk belajar di sekolah inklusi. Namun praktik tersebut tidak disediakan dukungan yang layak dan justru ditempatkan di kelas khusus yang ada disekolah.

 

“Lalu, konsep yang belakangan berkembang, yakni pendidikan inklusi, yaitu pendidikan yang mendukung anak-anak difabel untuk belajar disekolah umum dengan dukungan akomodasi yang layak,” jelasnya.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor: Robandi

The subscriber's email address.