Lompat ke isi utama
92 tahun hari sumpah pemuda

Refleksi Hari Sumpah Pemuda, Butuh Kolaborasi Pemuda Difabel untuk Wujudkan Indonesia Inklusif

Solider.id - 28 Oktober 2020 adalah peringatan sumpah pemuda yang ke 92. Tak hanya sekedar peringatan, hari sumpah pemuda penuh akan makna yang mendalam. Pada hari sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928 menjadi awal titik perubahan bagi bangsa yang majemuk ini, karena pada hari itu terikrar janji atau sumpah yaitu:

“1. Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu tanah air Indonesia. 2. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia. 3. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia.”

 

Dikutip dari laman www.tirto.id dengan judul Isi, Makna dan Sejarah Sumpah Pemuda, pada buku Peranan Gedung Kramat Raya 106 dalam Melahirkan Sumpah Pemuda (1996) karya Mardanas Safwan, menyebutkan adanya tujuan dari kongres pemuda I dan kongres pemuda II diantaranya:

Kongres pemuda I bertujuan untuk memajukan persatuan dan kebangsaan Indonesia serta menguatkan hubungan antara sesama perkumpulan pemuda kebangsaan di tanah air.

Sedangkan kongres pemuda II bertujuan untuk Melahirkan cita cita semua perkumpulan pemuda pemuda Indonesia, membicarakan beberapa masalah pergerakan pemuda Indonesia, memperkuat kesadaran kebangsaan dan memperteguh persatuan Indonesia.

Melihat hal tersebut di atas, hari sumpah pemuda sarat akan tanggung jawab yang besar di pundak para pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dalam mempertahankan serta menguatkan persatuan dan kesatuan bangsa kita yang tercinta. Terlebih pada saat pandemi sekarang ini, pemuda Indonesia harus bangkit demi bangsa tercinta ini.

Lalu, bagaimana peran difabel muda dalam berkontribusi untuk mencapai Indonesia yang inklusi dan bagaimana mereka memaknai hari sumpah pemuda sebagai spirit perjuangan? Difabel  juga bagian dari bangsa dan masyarakat Indonesia tercinta. Hak-hak mereka pun sudah diperhitungkan dalam perundang-undangan walaupun secara realitas masih banyak perlu pembenahan yang benar-benar merangkul serta memfasilitasi akomodasi yang layak bagi difabel.

Saat ini, para difabel tidak hanya berdiam diri menerima nasib serta ulur tangan saja. Mereka mulai bergerak melaju menuju perubahan. Hal tersebut diwujutkan dalam upaya dan perjuangan yang tiada lelah dan tiada henti untuk meningkatkan kualitas diri. Sebagai generasi penerus, kontribusi mereka juga memiliki peran dalam pembangunan bangsa. Berikut curahan difabel muda dari berbagai profesi dalam mengaktualisasikan diri dengan spirit sumpah pemuda menuju perubahan.

Gede Ade Wirawan atau akrab disapa Ade. Adalah seorang difabel Tuli yang berprestasi. Selain sukses di dunia pendidikan dengan menamatkan diri menjadi Sarjana Komputer, Ade juga aktif di dunia difabel. ia mendirikan komunitas Tuli Bali (Bali Deaf Community). Ia juga tergabung dalam jaringan advokasi bagi difabel, aktif melatih kelas bahasa isyarat. Ia juga pernah menjadi duta untuk bahasa isyarat tingkat nasional maupun internasional.

Bagi Ade memaknai hari sumpah pemuda yakni kesadaran untuk terus berkarya dan berkontribusi pada negara. Kerjasama dan kolaborasi perlu untuk memperjuangkan negara yang inklusif terhadap difabel. “Tuli sebagai kelompok minoritas atau dengan sosial budaya bahasa isyarat merupakan keanekaragaman budaya asli dalam inklusi menjadi perbedaan yang indah. Jadilah difabel dan Tuli yang berkualitas untuk Indonesia dan Bali khususnya yang inklusif!” ungkap Ade melalui pesan whats-app senin 26-10-2020.

Pendapat lain datang dari difabel netra yang berprofesi sebagai guru di sekolah luar biasa, Putu Adi Sembara Jaya. Bagi Adi, menjadi difabel tidak mengurangi semangat dalam memaknai hari sumpah pemuda. “kita harus bisa menghargai diri sebagai difabel. jangan minder ataupun menutup diri. Dengan begitu kita akan bisa mengeksplor diri agar dapat berkontribusi positif bagi bangsa dan negara kita yang tercinta ini!” ungkap pria kelahiran 7 Januari 1987 ini.

Adi menilai bahwasanya secara fisik manusia berbeda, baik difabel maupun nondifabel. Namun baginya jiwa adalah nasionalis dan sempurna untuk Pancasila. “di hadapan Tuhan semua sama. Tidak ada difabel dan nondifabel. yang berbeda adalah akal dan perbuatan. Untuk itu mari para difabel bangkit dan hargai dirimu sendiri! Tunjukkan daya saingmu! Jadilah difabel yang berkualitas untuk kehidupan yang lebih bermakna.” Tandasnya.

Semangat sumpah pemuda juga diungkapkan oleh Ida Bagus Surya Manuaba, seorang mahasiswa difabel netra yang saat ini sedang menempuh S2 hukum di Universitas Brawijaya Malang. Menurutnya memaknai hari sumpah pemuda adalah semangat menuju kesetaraan mencapai Indonesia yang inklusif. “para difabel hendaknya terus memacu diri menjadi lebih baik! Mari saling menghormati serta menghargai satu sama lain demi kesatuan dan keutuhan nusantara kita yang tercinta ini!.” Tuturnya. Selain itu, pria yang akrab disapa Gusde ini juga mengungkapkan harapannya kepada seluruh pihak baik pemerintah maupun swasta di Indonesia untuk lebih membuka diri serta mendukung segala bentuk aksesibilitas yang dibutuhkan para difabel agar difabel merdeka dalam berkarya dan berkontribusi bagi negara.

Ni Made Arianti Putri. Adalah seorang atlet difabel netra yang turut mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional pada dunia olahraga. Ia kerap kali memperoleh medali pada setiap penampilannya. salah satunya adalah pada Asean Paragames tahun 2018. Menurutnya, hari sumpah pemuda adalah bagaimana kita mencontoh ataupun mengikuti semangat pemuda terdahulu untuk dijadikan semangat perjuangan mengalahkan keterbatasan kita. “jadi, kobarkan semangat padamkan ketakutan!” ujar mahasiswi di Universitas Negeri Surakarta ini.

Selanjutnya, Siti Rodeah seorang difabel Tuli turut mengungkapkan pendapatnya dalam memaknai sumpah pemuda. Bagi Siti memaknai sumpah pemuda lebih pada bagaimana para difabel bisa memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi. “peran generasi penerus itu sangat penting untuk menggerakan kegiatan yang aktif dan mandiri. Melalui pendidikan, teman-teman difabel dapat menjadi contoh bagi adik-adik difabel untuk dapat bangga terhadap diri sendiri serta mencintai tanah air!” ujar Siti yang juga aktif dalam organisasi Gerkatin bidang kepemudaan.

Disadari atau tidak, secara tidak langsung difabel memiliki peran penting bagi Indonesia. dengan adanya difabel, mendorong adanya inklusifitas pada suatu negara. Oleh karena itu mari bergandengan, berkolaborasi dan bekerjasama menuju Indonesia inklusi, dan ayo difabel muda  jangan takut ataupun ragu! Mari berkarya dan ukir langit Indonesia dengan prestasimu! Tunjukan diri pada ibu pertiwi putra dan putri difabelnya juga ingin berbakti padanya.[]

 

Reporter: Ayu Wandari

Editor     : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.