Lompat ke isi utama
hari batik Nasional diperingati oleh kawan-kawan difabel di Semarang

Peringatan Hari Batik Nasional dan Hari Cerebral Palsy “Aku Berkarya, Maka Aku Ada”

Solider.id, Semarang - Roemah Difabel, rumah yang selama ini menjadi wadah pemberdayaan bagi anggota Komunitas Sahabat Difabel (KSD) menyelenggarakan acara “Membatik Bersama Sahabat Cerebral Palsy. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Memperingati hari Batik Nasional yang jatuh setiap tanggal 2 Oktober, dan Peringatan Hari Cerebral Palsy yang diperingati setiap 7 Oktober.

KSD menyatukan dua acara berbeda dalam satu even kegiatan yang sama. Mengusung tema “Aku Berkarya, Maka Aku Ada”, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah ditentukan, acara Membatik Bersama Sahabat Cerebral Palsy dibatasi hanya untuk 30 orang peserta. Acara tersebut berlangsung di Gedung Perkumpulan Seni Budaya “Sobokartti”, Jalan dr. Cipto 131, Semarang pada (17/10)

Bagi anggota KSD, even ini juga menjadi moment besar dimana semua anggota KSD yang terlibat dalam pelatihan di Roemah Difabel akan ikut turun ke lapangan. Mereka yang bergabung di Kepenulisan Kreatif akan langsung membuat repostase, dan mereka yang bergabung di pelatihan Fotografi akan langsung terjun mengambil dokumentasi. Selain sebagai koleksi yang harus dimiliki oleh anggota kelas Fotografi, hasil jepretan kali ini akan diseleksi dan diikut sertakan dalam pameran fotografi di Roemah Difabel.

Acara membatik bersama menjadi ajang menuang karya. Peserta yang datang tak hanya sahabat difabel dengan Cerebral Palsy, tapi juga sahabat difabel dengan kelainan langka dan sahabat difabel intelektual.

“Batik adalah warisan leluhur yang harus kita jaga dan Sobokartti salah satu ikon budaya. Jadi batik dan Sobokartti adalah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Untuk memahami filosofi batik yang tergambar dari tiap motifnya, maka KSD mengajak anggota untuk belajar membatik dari proses awalnya.” Ujar Anna Oktavia, 40 tahun, sahabat difabel Cerebral Palsy yang didapuk menjadi panitia memberikan penjelasan.

Anna yang dalam keseharian juga ikut mengelola media sosial Roemah Difabel mengatakan bahwa tujuan kegiatan ini lebih diutamakan pada orangtua dengan anak Cerebral Palsy.

“Yang pasti dengan acara membatik kita ingin mengajak masyarakat, terutama para orangtua dengan anak Cerebral Palsy, agar lebih paham tentang apa itu Cerebral Palsy, dan bagaimana cara mereka mengarahkan anak-anak Cerebral Palsy menjadi lebih berkarya. Jadi para orang tua bukan hanya membiarkan anak-anak cerebral Palsy menjalani rutinitas yang sama tanpa ada kemajuan.” Ungkap Anna dengan pengharapan.

“Melihat antusias masyarakat yang ingin bergabung di acara membatik kemarin, itu sudah mewakili dan menjadi wujud apresiasi kita terhadap teman-teman Cerebral Palsy. Inilah satu bentuk apresiasi nyata bahwa difabel bisa membatik dengan cara yang unik.” Lanjut Anna yang dalam acara Membatik Bersama Sahabat Cerebral Palsy didaulat menjadi MC.

Ya, membatik tak melulu dengan canting dan malam, karena cara yang digunakan untuk menghasilkan batik ada beragam. Ada yang membuat pola sibori atau jumputan, ada batik ciprat, ada juga yang menuang warna langsung dengan kuas menjadi goresan.       

“Menyanting ternyata gampang.” Sahut Sinar tiba-tiba di tengah acara. Gadis manis 10 tahun ini menceritakan pengalaman pertamanya saat belajar membatik dan ketemu canting.

Lain Sinar, tentu lain pula pengalaman yang didapat oleh guru batik Roemah Difabel, Sri Suharti, dari Chilomita Batik And Craft.

“Meskipun ada beberapa anak yang baru, tapi semangat mereka luar biasa. Saat ini kita biarkan mereka menikmati prosesnya dulu. Menyukai dulu. Tinggal nanti kita arahkan. Seperti Ellen, (salah satu sahabat difabel Cerebral Palsy) dia sudah tahu dia mau apa. Dia akan mengambil jepit jemuran dan mulai mengerjakan. Mereka memang anak-anak hebat.” Ujar Sri Suharti.

“Semoga ke depan makin keren dan lebih meriah tanpa ada pandemi.” Anna menutup acara.[]    

 

Reporter: Yanti

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.