Lompat ke isi utama
Pesserta dan dalam bincang online ADHD

Deteksi Dini dan Terapi Wicara yang Efektif untuk ADHD

Solider.id – Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan saraf yang umum menimpa anak dan dapat berlanjut hingga dewasa. Hal ini dapat membuat anak kesullitan untuk menjalin hubungan dan mengikuti pelajaran di sekolah.  Kondisi seperti ini membutuhkan terapi wicara supaya anak dapat berkomunikasi aktif saat bersosialisasi.

Euis Huzaziah dari sanggar wicara menjelaskan terapi wicara untuk ADHD sebaiknya dilakukan sejak dini.

“Deteksi dini terapi wicara dilakukan sejak bayi, karena dalam perkembangan bayi 6 bulan sudah bisa membedakan tangisan dan jika tidak pasti ada sesuatu, ini adalah alat komunikasi awal. Lalu 4-8 bulan fungsi pendengaran mulai berfungsi, namun anak ADHD terkesan tidak memperhatikan padahal tidak Tuli. Kemudian refleks-refleks yang berkaitan dengan bahasa bicara dan menelan. Jadi ini bisa dipelajari sedini mungkin,” ucap Euis dalam acara webinar, Sabtu (10/10).

Selain itu, pendeteksian bisa dilihat pada organ berbicara dan sekitarnya, artikulasi, pengucapan, bahasa dan bicara, suara, irama dan kelancaran, pendengaran, dan neorologi.

“Kita bisa lihat organ berbicaranya dari struktur giginya apakah ada yang tumpang tindih, berlubang, lalu gusi ada yang belah atau tidak, lidahnya pendek atau tidak, bibir, tonsil, dan uvulanya bisa kita cek kesempurnaannya. Kemudian organ artikulasi, disini ada rongga hidung, bibir, langit-langit mulut, lidah, rahang, faring, laring, pita suara, bila semua ini ada masalah, maka akan berdampak pada bicaranya, kita juga cek kekuatan syaraf dan ototnya karena juga berdampak pada makan dan minumnya. Untuk pengucapan, pita suara apakah bergetar atau tidak mempengaruhi dalam bunyi ucapannya,”

Dalam bahasa dan bicara, disetiap tingkat usia anak ADHD mengalami perkembangan kosa kata yang berbeda dengan anak lainnya, hal ini bisa diajari menggunakan metode dari Amerika yaitu Augmentative and Alternative Communication (AAC) yaitu metode komunikasi yang digunakan untuk melengkapi atau menggantikan ucapan atau tulisan bagi mereka yang memiliki gangguan dalam pemahaman bahasa lisan atau tulisan, komunikasi dapat diberikan berupa gambar atau kata-kata dengan memperhatikan komponen ACC yang meliputi teknik komunikasi, sistem simbol, dan kemampuan berkomunikasi. Metode lainnya dari Australia yaitu Computerized Pictograph (Compic), pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan bantuan gambar-gambar atau foto untuk menunjukkan suatu benda, kata, kata sifat, dan lainnya. Aplikasi media Compic dalam pembelajaran yaitu labeling (memberi nama), matching (mencocokkan), sorting (memilih), urutan menyatakan pilihan, permainan, poster, jadwal, kalimat atau cerita, membuat peta, peraturan, dan lembar latihan, yang bertujuan untuk mempermudah anak dalam memahami pelajaran.

“Kita juga harus tahu sampai mana level bahasa anak kita, disitu akan terlihat pada usia berapa anak itu mempunyai masalah, dari bahasa bunyi, kata, perubahan pada kata, tata kalimat, pemakaian bahasa dalam konteks, dan bahasa dalam konteks sosial. Lalu kita bisa lihat produksi dari suara anak apakah ada permasalahan di nada suaranya, kekerasan suara, kualitas suara, dan nasal resonansinya. Untuk irama dan kelancaran, bisa kita lihat pada kelancaran bicara anak yang berupa adanya pengulangan, perpanjangan, penghentian pada kata, irama yang sangat cepat sehingga terjadi misartikulasi dan sulit dimengerti, cenderung mengulang kata saat mengucapkan kalimat,” jelasnya

Pada neorologinya, bisa dilihat apakah anak dominan memakai tangan kanan atau tangan kiri saat beraktivitas yang akan mempengaruhi daya berpikir dan bicaranya.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.