Lompat ke isi utama
Nahda sedang dipangku oleh kakaknya

Nahda, Bocah CP dan Tottaly Blind Suka Dibacakan Cerita

Solider.id, Bantul - Nahda Inara (2), ketertarikannya pada suara dapat dilihat dari decak mulut mungilnya, saat dibacakan buku. “Rumahku istimewa. Tempat makanan selalu tersedia. Inilah rumahku sekarang...,” penggalaan bacaan yang dibaca bocah laki-laki bernama Febri (10) untuk adiknya.  Mendengarkan kakaknya membacakan buku untuknya, balita yang belum genap tiga tahun itu pun berkomunikasi dengan caranya. ”Tjek tjek tjek..,” suara riang nahda menunjukkan interaksinya.

Begitulah cara nahda membangun komunikasi dengan sang kakak. Melihat ekspresinya, terlihat bagaimana nahda menikmati cerita yang dia dengar. Balita itu terlahir dengan kelainan hydrocephalus (pembesaran kepala), disertai dengan bocor jantung. Nahda juga mengalami kelumpuhan otak (cerebral palsy), serta tidak dapat melihat sama sekali atau difabel netra (totally blind). Belum bisa duduk sendiri, apalagi berjalan. Sehingga saat duduk masih harus dipegangi agar tidak terjatuh.

Terlahir di keluarga penuh support,  nahda kecil terpenuhi kasih sayang dan perhatian. Sang ibu, Evih Daniati (32) tak lelah berjuang demi ketiga anaknya terlebih untuk nahda putri spesialnya. Keluarga ini bukanlah keluarga kaya materi, namun berlimpah spirit. Mereka berempat tinggal  di rumah seluas 10 meter persegi, berlantai sebagian keramik dan sebagian lagi masih tanah, dengan dinding semen tanpa cat. Sedang ayah mereka tinggal dan bekerja di Kalimantan Barat. Praktis seluruh tanggung jawab atas tiga orang anaknya ada di tangan Evih.

Terapi amat berarti

“Saya ingin nahda bisa jalan dan berlari”, harapan mendalam Evih. Karenanya, lanjut dia, saya ingin nahda mendapatkan kembali fisioterapi, juga terapi bicara. “Terapi sangat berarti bagi kami. Namun, selama pandemi ini jadwal fisioterapi berkurang. Bahkan terapi wicara sama sekali tidak ada, berhenti sama sekali,” ungkap Evih.

Mensiasati kondisi saat ini (pandemi dan minim terapi, Evih menterapi sendiri putrinya. Memijat lembut bagian leher sampai punggung, lengan juga kaki.  Membacakan cerita dipilih untuk melatih pendengaran, merangsang nahda mau berbicara. Kegiatan ini lebih banyak dilakukan saat malam tiba. Karena waktu itulah yang sangat memungkinkan bagi semua. Kebetulan, nahda paling nyaman dibacakan cerita saat malam tiba. Tutur Evih pada Solider, Jumat (9/10/20).

Evih juga melibatkan dua anak laki-lakinya, si bungsu Elfin dan putra keduanya Febri untuk mendampingi nahda. Bukan bermaksud memberi beban, ujarnya. Memahamkan peran kakak terhadap adik yang memang butuh waktu spesial, menumbuhkan rasa tanggung jawab, itu yang dibangun pada keluarga kompak itu.

“Impian saya, nahda  bisa tumbuh dan berkembang sebagaimana anak lain. Meski dengan keterbatasan, namun bisa mandiri dan punya kreativitas,” Evih mengungkapkan mimpinya.

Kebutuhan mendesak dan perlu sekali bagi nahda menjadi prioritas bagi ibu berhijab itu. Untuk mencukupkan kebutuhan, menjual buah kelapa juga daun pisang dilakukannya. Hal ini dilakukan agar tidak membabani suami yang bekerja di luar provinsi.

“Untuk keperluan nahda yang sangat mendesak dan perlu sekali,  pasti saya dahulukan. Menjual buah kelapa dan daun pisang yang ada di pekarangan rumah saya lakukan untuk mencukupkan kebutuhan.  Saya tidak mau membebankan semua itu pada suami. Kadang-kadang, untuk kebutuhan nahda ada donatur atau orang baik yang empati pada nahda dan keluarga kami,” terang Evih.

Bagi Evih, membacakan cerita akan menstimulasi otak nahda. Tidak dapat melihat, bukan berarti tidak mungkin bisa membaca buku. Demikian menjadi keyakinan ibu tiga putra itu. Sebagaimana sebuah quotation, “Buku adalah jendela dunia. Membacanya adalah cara membukanya”.

Peran TBM Helicopter

Evih juga menyampaikan bahwa buku-buku bacaan yang ada di rumahnya, sebagian besar dipinjam dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Helicopter Gobook Maos. Jika memungkinkan Evih akan datang ke TBM dan memilih buku untuk anak-anaknya, lebih khusus untuk putri bungsunya. Jika dia tidak sempat ke TBM Helocopter, maka para relawan TBM yang akan mengantarkan buku ke rumahnya.

Menurut Pengurus TBM Helicopter Gobook Maos Maria Tri Suhartini, tidak ada kata terlalu cepat untuk mulai membacakan buku apa pun untuk anak-anak. Tidak ada kata tidak mungkin, bagi siapa saja, dalam kondisi apa saja memahami bacaan sebuah buku.

“Membacakan buku untuk nahda, adalah cara membangun komunikasi dan interaksi. Merangsang kepekaan dan mengoptimalkan pendengaran, ini menjadi penting, mengingat nahda yang totally blind, ungkap Maria Tri.[]

 

Reporter: harta nining wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.