Lompat ke isi utama
diskusi ADHD

ADHD Awareness Month; Benahi pendidikan Inklusif

Solider.id – Dalam memperingati bulan kesadaran Attention Defficite hyperactivity Disorder (ADHD), ternyata masih banyak  hak mereka yang belum terpenuhi. Salah satunya pendidikan, dimana Indonesia saat ini mengusung pendidikan inklusi agar menciptakan kesetaraan. Namun pendidikan inklusi menurut beberapa pengamat pendidikan masih belum layak untuk ADHD dan belum sesuai dengan regulasi yang ada.

Komunitas Teman ADHD (KITA) menyelenggarakan webinar bersama narasumber dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Leliana Lianty, dosen program studi pendidikan khusus UNJ menerangkan layanan pendidikan bagi anak ADHD terdiri dari beberapa jenis, diantaranya yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) dan sekolah inklusif, sekolah inklusif merupakan salah satu solusi yang menjawab dari permasalahan terbatasnya SLB dan terkonsentrasi di kota-kota besar. Inklusif memiliki makna sebagai suatu ideologi, sistem dan atau strategi pendidikan dimana semua anak dari berbagai kondisi dapat mengikuti pendidikan dalam satu lingkungan secara bersama, dengan suatu sistem pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

“Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) nomor 70 tahun 2009 mencanangkan pendidikan inklusi sebagai sistem pendidikan dengan memberi kesempatan anak berkebutuhan khusus untuk dapat mengikuti pendidikan bersama-sama dengan peserta didik lainnya dalam sekolah umum, dan tujuan pendidikan inklusi agar tidak membedakan anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak pada umumnya, membiasakan anak bersosialisasi dan menerima anak berkebutuhan khusus di tengah masyarakat, inklusif dapat bermakna merespon keberagaman”, tuturnya via virtual, Sabtu (10/10)

Pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait guru pendidikan khusus yang dapat memberikan layanan bagi anak ADHD di sekolah inklusif, yaitu dengan adanya Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang memiliki latar belakang sarjana pendidikan khusus. Namun tidak semua sekolah memiliki GPK dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia dan regulasi yang belum mumpuni untuk guru pendidikan khusus di sekolah umum. Oleh sebab itu solusi lainnya adalah dengan penyediaan guru pendamping bagi anak berkebutuhan khusus.

“Peran guru pendamping yaitu membantu anak berinteraksi dengan orang lain, memahami berbagai kesulitan yang dihadapi anak dalam belajar, membantu anak untuk belajar lebih mandiri. Tak hanya itu, guru pendamping juga harus membangun komunikasi dan bekerjasama antara guru kelas, orangtua, guna memenuhi kebutuhan anak. Guru pendamping bekerjasama dengan guru BK dan wali kelas dalam pelayanan anak serta membantu memberikan para anak dengan menanamkan tanggung jawab, kemandirian, dan mendorong anak dalam belajar,” tukasnya

Tanggung jawab guru pendamping yaitu :

  1. mengenal anak semaksimal mungkin dalam berbagai hal, baik kekuatan, kebutuhan, kelemahan dan minat
  2. Mengarahkan dukungan untuk mendampingi kebutuhan anak dengan bekerjasama bersama orangtua, guru kelas, kepala sekolah dan guru lainnya
  3. Mempertahankan kedekatan dengan anak yang memiliki kebutuhan khusus hanya saat dibutuhkan di kelas dan dilingkungan belajar lainnya
  4. Memastikan bahwa modifikasi kurikulum dilakukan dan disediakan akomodasi yang direkomendasikan
  5. Responsif terhadap saran dari guru dan kepala sekolah mengenai kemajuan anak
  6. Guru pendamping perlu menerapkan berbagai strategi yang sesuai dalam mendampingi anak ADHD
  7. Beberapa strategi yang dapat digunakan dalam mendampingi anak ADHD adalah penerapan visual schedule, strategi fisik, strategi afektif, dan strategi ekologi.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.