Lompat ke isi utama
beberapa narasumber semiloka menuju media inklusif

Minim, Representasi Difabel di Media Masa

Solider.id - Difabel adalah kelompok yang minim direpresentasikan oleh media masa di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ajiwan Arief Hendradi, redaktur portal informasi difabel solider.id dalam Seminar dan Lokakarya Menuju Media Inklusif selasa (13/10).

Menurut Ajiwan, isu difabel belum dilirik sebagai isu prioritas bagi media mainstream. Kalaupun ada pemberitaan mengenai difabel di media, kuantitasnya sedikit dan pemberitaannya bersifat musiman.

Ini ditambah lagi awak media belum memiliki perspektif difabel. misalnya saja, pemberitaan mengenai difabel masih dibingkai dengan sudut pandang bbelas kasih. Media mainstreampun seringkali tidak menjadikan difabel sebagai narasumber utama.

Sunarti Sain, pemimpin redaksi Radar Selatan, sepakat dengan apa yang disampaikan oleh Ajiwan. Menurutnya, ada tiga faktor mengapa media tidak merepresentasikan difabel dengan baik. Ketiga hal tersebut yakni isu difabel bukanlah isu seksi bagi bisnis media, isu difabel tak mendatangkan banyak pembaca, serta kurangnya pengetahuan awak media mengenai isu difabel.

Hal ini dapat dibuktikan dengan merujuk hasil survei Dewan Pers terhadap Indeks Kemerdekaan Pers. Berdasarkan survei tersebut, ditemukan fakta bahwa media belum konsisten dalam memberitakan isu difabel. pada tahun 2017, indeks kesetaraan kaum minoritas, dimana difabel termasuk ke dalamnya, hanya berada pada 57.81. sementara di tahun 2018 ada di angka 61.73 dan tahun 2019 69.27.

“akses masyarakat difabel terhadap media di tahun 2020, meskipun ada kenaikan, namun masih terhitung rendah, yakni 71.96”. Ungkapnya 1310.

Fakta minimnya representasi difabel juga dapat dilihat dalam hasil assessment cepat Jaringan DPO Respon Covid. Setidaknya 59% difabel sensorik, yang terdiri dari difabel netra dan Tuli, mengatakan bahwa media yang ada belum akses bagi difabel. Sebabnya, informasi terkait covid-19 yang tersedia tidak aksesibel bagi difabel netra pengguna aplikasi pembaca layar. Sementara itu, bagi Tuli, informasi menjadi tidak aksesibel karena informasi mengenai Covid-19 tidak menyertakan penerjemah Bahasa isyarat atau closed caption.[]

 

Reporter: Tio Tegar

Editor     : Ajiwan Arief  

The subscriber's email address.