Lompat ke isi utama
Said Aqil Siroj, ketua umum PBNU  dalam webinar kesehatan jiwa

Langkah NU dan Cerita Penyintas ODDP di Hari Kesehatan Jiwa

Solider.id – Kesehatan mental masih belum mendapat perhatian dari masyarakat dan pemerintah, hal ini berpengaruh besar terhadap Orang Dengan Difabilitas Psikososial (ODDP), yang masih belum tertangani secara medis dan mengalami pembiaran di rumah dengan pemasungan. Di hari kesehatan jiwa, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama Yakkum, Aidran, The Asia Foundation, Program peduli, Lakpesdam, dan Australian Government menyelenggarakan webinar dalam mengkaji fiqih difabilitas mental.

Perspektif masyarakat dan pemerintah terhadap ODDP yang masih menganggap tidak mampu dan tidak mendapatkan haknya sebagaimana semestinya, ODDP juga mempunyai hak yang sama dengan warga negara Indonesia lainnya, berhak untuk mendapatkan pekerjaan, warisan, menikah, dan bersosialisasi di masyarakat.

Said Aqil Siroj, ketua umum PBNU menjelaskan dalam rangka memperingati hari difabel jiwa internasional, PBNU ikut andil untuk menganalisis masalah, memberikan justifikasi, dan menyimpulkan seluruh masalah yang akan dibahas melalui diskusi ini. Bahtsul masail ini, hanya NU yang memilikinya karena mempunyai perangkat-perangkat yang mendukung.

“Harus ada sekelompok orang, yaitu lembaga bahtsul masail yang fokus tafaqquh fiddin dalam arti yang sangat luas, dimana hasil ini untuk membangun masyarakat yang beradab, berbudaya, bermartabat, dan masyarakat yang menerima hasil diskusi ini,” tuturnya, saat menyampaikan kata pengantar di webinar, Kamis (8/10).

Menurutnya, beberapa masalah kejiwaan berupa faktor keturunan, ada syaraf yang kurang sempurna sehingga ketika berkembang mentalnya tidak sehat, lalu terganggu mentalnya oleh setan atau jin, kemudian stress karena tidak kuat menerima ujian dan ini masih ringan serta dapat diobati dibanding dengan yang lainnya.

“NU ingin melangkah lebih maju lagi dalam memahami masalah ini dengan faham yang benar dan sahih, juga harus menyertakan qur’an, hadits, dan kitab fiqih,” jelasnya

Desty Endah Nurmalasari penyintas ODDP menuturkan seorang ODDP berhak mendapatkan perawatan medis agar dapat menjalani kehidupan lebih baik, namun medis saja tidak cukup karena untuk berproduktifitas lagi tidak menggunakan medis saja tapi pemberdayaan mental bagi ODDP.

“Seperti Yakkum membuat program Self Help Group (SHG) dan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) yang ada di Kulon Progo desa Temon Kulon, ini membantu para ODDP tentang kesehatan jiwa dan memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan kami. Misal memberikan ayam dan kambing jika senang beternak, memberi gas dan bensin untuk dijual, dan mencari murid untuk diajari bahasa inggris,” kata Desty

Ia berharap diskusi ini membuat masyarakat islam lebih mengerti dan memahami para ODDP, karena mereka masih memiliki semangat yang sama untuk menjalankan agama islam, dan diskusi ini bisa membuat para ODDP lebih mengerti posisinya di agama islam.

“Semoga kedepan akan ada banyak pihak yang peduli akan isu kesehatan mental, saya rasa masyarakat dan pemerintah lebih mempersiapkan diri untuk menerima kehadiran kami, karena dengan adanya pengaruh lingkungan, ini akan mempengaruhi kondisi mental kami, selain itu pemerintah juga bisa memberikan kesempatan pada kami untuk turut membangun negeri yaitu dengan jalan menjadi pegawai negeri sipil, karena tanpa ada dukungan dari pemerintah maka kami tidak bisa memiliki kesempatan tersebut,” harapnya.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.