Lompat ke isi utama
perbedaan MSVI dan difabel netra

World Sight Day 2020 Mengenal Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI)

Solider.id - Setiap Oktober pada Kamis kedua, masyarakat dunia memperingati Hari Penglihatan Sedunia atau World Sight Day (WSD). Sejak kali pertama di laksanakan tahun 2000 silam, setiap peringatannya selalu memiliki tema berbeda. Dan untuk tahun ini bertemakan Hope In Sight.

Tujuan dari peringatan tersebut, selain sebagai bentuk upaya meningkatkan kesadaran kepada masyarakat terkait masalah kebutaan dan gangguan penglihatan, juga sebagai sarana untuk mengedukasi pencegahan kebutaan sekaligus sebagai bentuk dukungan untuk mewujudkan Vision 2020.

Berdasarkan data dari International Agency for the Preverency of Blindness, tercatat ada sekitar 253 juta jiwa yang mengalami gangguan penglihatan. Dari data tersebut terdapat rincian sebanyak 217 juta mengalami Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI) alias memiliki gangguan penglihatan sedang dan berat, serta 36 juta mengalami kebutaan.

Mengenal Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI)

Mereka yang masih memiliki sisa penglihatan dalam jarak pandang tertentu, atau yang memerlukan alat bantu tertentu untuk menperjelas objek agar lebih terlihat, mereka termasuk kedalam kategori Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI). Kondisi ini berbeda dengan yang mengalami gangguan penglihatan secara total.

Berikut adalah pemaparan individu difabel Low Vision atau yang termasuk kategori MSVI.

Dudi N Rahimi, tergabung dalam komunitas Mata Hati Indonesia (MHI), ia menyampaikan dirinya termasuk kategori Moderate and Severe Visual Impairment. Kondisi penglihatannya saat ini tersisa tinggal sekitar 30-40% untuk mata kiri, dan 0% untuk mata kanan alias buta total. Dengan kondisi tersebut, ia tergolong sebagai individu difabel sensorik jenis Low Vision.

“Saya masih bisa mengendarai motor sendiri kemana pun, dengan extra super hati-hati dan full konsentrasi, meleng dikit berbahaya,” jelasnya.

Dudi menambahkan, dirinya dapat melakukan itu pun selama kondisi dan cuaca di jalan dirasa kondusif. Sebab, bila terlalu silau apalagi sudah mulai gelap ia tidak akan memaksakan diri untuk mengendarai motor. Dalam situasi yang dianggapnya kondusif saja ia mengakui merasa kesulitan melihat dengan jelas rambu-rambu lalu lintas yang terpasang jalan, hingga kerap terkena tilang.

Kesulitan lain yang sering dialaminya adalah membaca atau mengidentifikasi objek penglihatan yang kecil. Untuk mengenali wajah orang lain pun mengalami kesulitan, sehingga terkadang berlaku seolah kenal untuk menyapa. Ia juga mengakui belum mampu menguasai baca tulis dalam huruf blaille yang biasa digunakan  oleh  difabel netra. Sejak masa sekolah, ia lebih menyukai baca tulis dengan menggunakan huruf visual.

“Kadang menyapa seseorang yang dikira teman atau saudara padahal tidak kenal. Akhirnya, saya memilih diam bila bertemu siapapun hingga sering dianggap acuh,” katanya.

Ia mulai banyak belajar pada teman-teman  difabel netra totally blind, namun tetap melaju untuk mendapatkan pencapaian terbaik di dalam kehidupan. Salah satunya dari lingkungan komunitas tempat ia bergabung saat ini, dan berbaur antara low vision maupun totally blind.

Ditengah kondisi tersebut Dudi menyadari betul, apapun yang terjadi terjadilah akan tetapi, kehidupan mesti tetap dijalani. Bersahabat dengan hambatan, ia berpegang pada jalur hidup di dunia yang tanpa batas dan terus melaju meninggalkan mereka yang menyerah dengan keadaan.

Kategori Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI) juga dimiliki oleh Wildan Yusbandi yang mengalami penurunan pada fungsi penglihatannya sebab kecelakaan.

Mirip dengan apa yang dirasakan Dudi. Wildan yang masih memiliki sedikit sisa penglihatannya mengakui untuk melihat objek dalam radius tertentu hanya mampu menangkap objek secara samar. Butuh cahaya atau penerangan yang kuat agar bisa melihat bentuk objek di hadapannya. Itu pun hanya bentuk utuh, tanpa bantuk yang detail  pada objek tersebut. Selama belajar di tempat rehabilitasi sensorik, ia memilih untuk dapat mempelajari huruf braille selain keterampilan pijat.

“Saya belajar braille sejak mengalami penurunan pada fungsi penglihatan,” uacapnya.

Salah satu keunikan mereka yang tergolong pada kategori Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI) adalah terkait akses baca tulis braille. Meski tergolong untuk para difabel netra, akses tersebut tidak digunakan oleh semua difabel netra lov vision. Sebagian dari MSVI justru masih merasa nyaman menggunakan huruf visual.

Edukasi yang dapat diberikan kepada lingkungan

Untuk mengetahui kondisi fungsi penglihatan yang tepat pada kedua mata, diusahakan harus mengetahui kondisi secara medis. Karena sifat mata itu retinus blaskoma atau saling mempengaruhi walaupun tidak ada syarat yang secara langsung saling terhubung.

Saat ini semakin banyak orang yang berpotensi mengalami gangguan penglihatan dini, termasuk pada anak-anak karena penggunaan handphone yang makin intens dalam waktu lama. Masih muda sudah minus walau tanpa faktor genetis. Banyak kasus dari radiasi yang bukan hanya berpengaruh terhadap fungsi pada mata saja, bisa juga ke bagian lain yang juga berpotensi menjadi difabel baru.

Kategori Moderate and Severe Visual Impairment (MSVI) jarang menggunakan tongkat alat bantu untuk petunjuk saat berjalan yang biasa dipakai difabel netra. Sehingga, mereka terkadang sulit dideteksi kedifabelannya oleh lingkungan. Tanda seperti melihat handphone atau melihat tulisan, petunjuk arah dan lainnya di tempat umum dengan jarak pandang yang sangat dekat,  masih dinilai sebuah keanehan.

Untuk membantu mereka memberikan arahan berupa peta atau jalur jalan harus secara beruntun, berurutan agar dapat tergambarkan lebih jelas pada imajinasinya. Menggunakan bahasa narasi yang simpel sederhana, ditambah dengan memberikan patokan atau ciri-ciri tertentu dapat mengurangi risiko kesalahan saat mereka mencari alamat lokasi maupun tempat yang sesuai tujuan.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.