Lompat ke isi utama
karya-karya Ayu Utami dan Pramudia Ananta Toer

Bagaimana Ayu Utami dan Pramoedya Ananta Toer Gambarkan Difabel dalam karyanya?

Solider.id - Saya suka sekali dengan novel-novel sejarah, terlebih lagi novel yang menceritakan sejarah Indonesia di masa lampau. Saya sudah membaca buku-buku karya Ayu Utami dan Pramudia Ananta Toer. Kedua penulis ini, meski berbeda jenis kelamin, memiliki keberanian yang sama, keberanian untuk menyuarakan kisah-kisah yang coba untuk disembunyikan. Saya paling suka dengan novel tetralogi buru karya Pramudia, dan Saman karya Ayu Utami. Dua serial ini membuat saya pribadi lebih mengenal Indonesia, dan lebih merasakan nasionalisme yang membara.

Saya mengidolakan Minke dan Saman dengan porsi yang sama, tidak beda satu sama lain. Minke dengan tulisan-tulisan berani dan cerita percintaannya yang selalu tragis, dan Saman dengan pergerakan-pergerakannya dan kisah cintanya yang juga tragis. Tentu kedua tokoh ini, bagaimanapun berbedanya, tetap memiliki kesamaan yang sulit untuk ditampikkan. Mereka adalah pejuang kemerdekaan yang berani, cinta tanah air, dan perasa. Walau hidup di waktu yang berbeda, saya melihat apa yang diperjuangkan Minke dan Saman  tidak jauh berbeda, berdasarkan dari keinginan merdeka. Yang satu ingin merdeka dari penjajahan Belanda, yang satu lagi ingin merdeka dari era orde baru.

Tapi, walaupun mereka berdua memiliki tema tulisan yang sama, yaitu perjuangan untuk merdeka, ada perbedaan yang sangat menonjol dalam gaya menulis. Cara mereka menggambarkan difabel sangat berbeda, dan ini menunjukkan bentuk pengetahuan yang mereka terima terkait dengan difabel.

Ayu Utami, pada novelnya yang berjudul Saman, menghadirkan satu tokoh penting yang merupakan difabel intelektual. Perempuan itu dikisahkan menjadi difabel intelektual sejak lahir, dan dia dipasung karena memalukan keluarga. Upi, nama gadis itu, diceritakan sering berjalan jauh sambil sesekali menggesekkan kemaluannya di tiang listrik. Dia juga dikisahkan sering dilecehkan oleh orang-orang di jalanan, tapi dia bahkan menikmatinya. Sekali lagi menurut gambaran Ayu Utami, pernah di satu malam Upi digerayangi lelaki di tempat dia dipasung, , dan setelah pelecehan itu dia kelihatan baik-baik saja. Di buku Ayu Utami yang berjudul Maya, dia juga menghadirkan difabel, yang awalnya dia sebut dengan manusia aneh. Ada semacam pemukiman khusus di bagian belakang sebuah  pendopo suci, dan pemukiman itu hanya dihuni oleh manusia kecil (little people). Ayu Utami mengisahkan mereka, para difabel ini, sebagai manusia yang terkucilkan dan terlihat menjijikkan. Penggambaran difabel ini mungkin saja berasal dari pengetahuan penulis tentang manusia kecil. Tetapi, di salah satu bagian, ada satu tokoh dari luar negeri yang menyebut para manusia kecil ini dengan sebutan difabel. Ini membuat kita tahu, bahwa di zaman Ayu menulis novel ini, kata difabel sudah biasa digunakan.

Sementara Pramudia Ananta Toer, dalam tetralogi Buru juga menghadirkan tokoh difabel. Tokoh itu adalah Jean Marais, lelaki asal Prancis yang pernah menjadi tentara Belanda dan kehilangan satu kakinya saat melakukan satu peperangan di Aceh. Nama Jean Marais ada di buku Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan juga Rumah Kaca. Walau pada dua buku terakhir nama Jean Marais sudah agak jarang disebut, tapi sepertinya penulis masih mencoba untuk memasukkan sedikit-sedikit penggambaran Jean di sana. Jean Marais adalah difabel fisik, yang harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Pramudia tidak pernah menggambarkan Jean sebagai laki-laki yang tidak berdaya, lemah, dan menjadi benalu. Malah Jean digambarkan sebagai laki-laki cerdas yang berwawasan, dan pelukis yang mahir. Sama sekali tidak pernah penulis memasukkan kata-kata mendiskriminasi, men-judge, juga kisah Jean Marais yang tersisihkan dari lingkungan sekitarnya. Pernah memang ada salah satu bagian di mana Pramudia sedikit menyinggung masalah ketidak berdayaan, di mana kurang lebih anak tunggal Jean yang perempuan mengucapkan sesuatu ke Minke, saat dibawa berjalan-jalan ke taman.

"Kenapa papa tidak mau jalan dengan saya, Om? Saya bisa menjaga papa agar tidak jatuh," begini kurang lebih pertanyaan Mei.

Tapi di sana Minke (tokoh utama) cepat-cepat bertindak sebagai om yang menutupi rasa minder Jean Marais. Pramudia mengisahkan lingkungan sosial yang menyetarakan difabel, tapi di sisi lain mengisahkan difabel yang minder dengan keadaannya sendiri. Seolah-olah penulis ingin menyampaikan, bahwa sebenarnya lingkungan tidak mendiskriminasi Jean, hanya Jean yang kadang-kadang merasa rendah hati. Pada akhirnya pun Jean Marais menikah lagi dengan Nyai Ontosoroh yang terhormat, dan pindah ke Prancis. Nyai Ontosoroh memilih Jean Marais sebagai suami tanpa sedikitpun mempertimbangkan bentuk fisik, dan memilih Jean ketimbang puluhan pelamar lainnya.

Perbedaan penggambaran kedua penulis ini sangat mencolok, dan bertolak belakang. Di satu sisi Ayu Utami menggambarkan difabel dari sudut seksual yang fulgar, dan di sisi satunya lagi Pramudia menghadirkan Jean Marais sebagai individu yang merdeka, bukan sebagai difabel yang tidak berdaya.

Saya pribadi juga pernah berpikir bahwa difabel intelektual memiliki nafsu yang tinggi, meledak-ledak, dan tidak bisa mereka kendalikan. Masih menurut pemikiran saya dulu, difabel intelektual yang menjadi korban pelecehan juga kelihatan menikmati saat dilecehkan. Tapi setelah banyak belajar, banyak membaca, saya baru sadar bahwa pemikiran saya keliru. Difabel intelektual tidak memiliki nafsu yang lebih tinggi dari orang pada umumnya, mereka juga bukan menikmati pelecehan seksual. Tapi karena kurang mendapat pengetahuan tentang pendidikan seksual, norma di masyarakat terkait seks, dan bagaimana seharusnya dia bertingkah saat dorongan keinginan seksual itu muncul, jadilah mereka terlihat memiliki nafsu yang tinggi dan terkesan menikmati pelecehan yang mereka alami.

Tentu masalah stigma, labeling, dan aneka faktor lain yang membuat difabel rentan didiskriminasi ini perlu  untuk diluruskan. Pekerjaan menghapus stigma negatif difabel bukan hal yang sebentar, mungkin memerlukan waktu berpuluh-puluh tahun lamanya.

Terlepas dari perbandingan-perbandingan yang saya buat, tetap saja dua penulis ini adalah penulis yang sangat hebat. Ayu Utami dengan keberanian dan cara penggambarannya yang fulgar, dan Pramudia Ananta Toer yang terus bersuara dalam usaha pembungkaman oleh penguasa-penguasa zaman dulu.[]

 

Penulis: Nabila May Sweetha

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.