Lompat ke isi utama
informasi promosi kegiatan diskusi live instagram braille'iant Indonesia

Mengenal Low Vision Lewat Diskusi

Solider.id,Yogyakarta - Braille’iant Indonesia kembali hadir dengan program barunya yang disiarkan secara langsung melalui akun Instagram @braille’iantindonesia. Hadir perdana pada Sabtu (3/10) serta akan hadir menyapa sobat braille’iant setiap minggunya. Adapun tema yang diambil pada episode pertama ini yaitu “Low Vision, Tak Kenal Maka Ta’aruf” dengan menghadirkan Ajiwan Arief Hendradi (Pemimpin Redaksi Solider.id) sebagai narasumber.

Veronica Christamia selaku host mengawali acara dengan mengungkapkan bahwa program live Instagram ini hadir sebagai salah satu program dadakan dari Braille’iant Indonesia. Hal itu dilatarbelakangi oleh adanya dampak pandemi yang membuat sebagian besar program kerja Braille’iant Indonesia tidak dapat terlaksana. Disisi lain, Braille’iant Indonesia juga memiliki tekad serta komitmen untuk tetap memberikan edukasi yang positif kepada masyarakat, utamanya terkait isu difabel netra. “Maka dari itu acara live ini hadir untuk tetap memberikan edukasi kepada masyarakat dengan skema daring,” tutur wanita itu.

Kemudian acara dilanjutkan dengan paparan dari Ajiwan mengenai materi apa itu low vision. Ajiwan mengungkapkan bahwa low vision memiliki kondisi berbeda jika dibandingkan dengan difabel netra yang notabenenya merupakan totally blind. Walaupun sebenarnya penyebab antara keduanya bisa jadi sama, seperti daribawaan lahir, genetik, kecelakaan ataupun penuaan. “Terkadang masyarakat kurang begitu paham dengan low vision karena hambatannya sendiri memang kurang begitu terlihat jika dibandingkan dengan mereka yang totally blind. Maka dari itu penting untuk mengenal lebih dalam apa itu low vision,” tuturnya.

Ajiwan menjelaskan jika difabel netra kategori totally blind merupakan kondisi dimana seseorang sama sekali tidak dapat melihat. Sedangkan low vision merupakan seseorang yang masih memiliki sedikit kemampuan untuk melihat, walaupun dengan jarak dan bentang yang sangat dekat. Menurutnya, hal itu bisa digambarkan seperti sebuah kamera gadget dengan resolusi yang sangat rendah. Dimana kamera tersebut hanya dapat menangkap gambar dan mendokumentasikannya dengan kualitas yang sangat buruk dan tidak detail.

“Tentu akan menjadi kendala tersendiri bagi low vision, ketika mereka berada disebuah tempat yang memiliki kondisi pencahayaan yang kurang memadai. Mereka pasti akan merasa kesulitan untuk dapat mendeteksi objek yang berada disekitar. Maka, biasanya teman-teman low vision akan sangat menghindari melakukan kegiatan di tempat-tempat dengan kondisi pencahayaan yang kurang begitu baik,” urainya.

Sementara itu, dari segi aksesibilitasnya cukup berbeda antara totally blind dan low vision. Dimana teman-teman dengan totally blind, biasanya sering menggunakan aplikasi pembaca layar pada gadget mereka sebagai aksesibililitasnya. Sedangkan teman-teman dengan low vision, biasanya menggunakan mode high contrast pada gadget mereka atau bisa juga dengan memperbesar ukuran tulisan sehingga akan lebih memudahkan mereka dalam mengakses informasi yang tertera dilayar.

Lebih lanjut, Ajiwan mengungkapkan mengenai hambatan lain yang dirasakan oleh teman-teman low vision ketika menggunakan laptop. Dimana mencari posisi yang ergonomis tidak semudah yang dibayangkan. Hal itu tentu akan berdampak bagi akses informasi yang didapat. Terlebih sistem kode captcha yang ditujukan untuk mendeteksi bot, seringkali justru menyulitkan low vision saat menggunakan gadget.

Ajiwan mengamati untuk aksesibilitas fisik, biasanya teman-teman low vision sangat terhambat saat menemui lantai atau permukaan yang memiliki warna cenderung sama. Hal itulah yang melatarbelakangi mengapa warna guiding block di pedestrian cenderung merupakan warna yang kontras dengan permukaan seperti kuning.

Perbedaan lain yang kurang begitu terlihat dari teman-teman low vision yaitu sebagian besar mereka mampu menulis huruf visual, meskipun dengan jarak pandang yang sangat dekat. Hal itu diakui juga oleh Ajiwan. Dimana saat kecil, ia sering dikenalkan dengan huruf visual sehingga kini dirinya mampu menulis dan menjadi seorang redaktur berita.

“Dulu ketika sekolah SD, saya sering menggunakan alat bantu berupa teleskop untuk membantu melihat tulisan yang ada dipapan tulis. Beruntung, saat kelas 1 SMP mendapat bantuan berupa alat bantu baca berupa kaca pembesar berlampu dari salah satu NGO luar negeri. Adanya alat ini tentu sangat membantu dan sudah saya gunakan hingga sekarang,“ ungkapnya lagi.

Kendati demikian, Ajiwan juga ingin mengungkapkan kepada seluruh orang tua yang memiliki anak dengan low vision agar tidak khawatir dalam mencarikan alat penunjang seperti kaca pembesar untuk anak mereka. Hal itu karena kini telah hadir aplikasi digawai bernama “supervision” yang memiliki fungsi sama seperti kaca pembesar sehingga orang tua tidak perlu repot-repot membelikan dan tentunya sangat mudah dibawa kemana-mana oleh anak mereka.

Selain itu, Ajiwan ingin memberikan tips-tips kepada teman-teman low vision untuk tetap mengasah kemampuan membaca huruf visual karena akan sangat membantu kecepatan membaca mereka dan tingkat pemahaman terhadap bacaan itu. Tidak bisa dipungkiri memang fenomena di luar sana, masih banyak teman-teman low vision yang kurang terfasilitasi dan tidak dikenalkan untuk berliterasi seperti membaca huruf visual. Akibatnya jelas mereka tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk dapat membaca dan menulis. Padahal membaca dan menulis merupakan hak setiap anak.

“Untuk teman-teman low vision, jangan ragu untuk optimakan fungsi penglihatan yang kalian miliki, karena itu akan berdampak baik bagi kalian dimasa depan. Walaupun kita memiliki penglihatan yang terbatas, namun itu bukanlah pagar yang menghalangi kita dengan segala mimpi-mimpi kita. Sedangkan untuk teman-teman difabel jangan lupa untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri. Terakhir untuk sobat braille’iant tetap sebarkan virus-virus inklusivitas ya untuk membuat teman-teman difabel bisa setara,” pintanya mengakhiri.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.