Lompat ke isi utama
salah satu sosok difabel inspiratif, Waljiyo dengan rambut panjangnya

Waljiyo, Berjuang dan Bangun dari Mimpi Buruk

Solider.id, Bantul - Pengalaman buruk sering kali membuat sadar bahwa semesta raya dan Sang Pencipta begitu peduli. Meski wujud kepedulian tidak ditunjukkan secara langsung dengan pengalaman membahagiakan. Namun begitulah cara Sang Pencipta menyentuh dan mencintai ciptaan-nya.

Kesadaran itu dimiliki Waljiyo. Pria 36 tahun berperawakan kurus, tangan kirinya tanpa telapak, sedang tangan kanan jari-jarinya  menekuk dan lemah. Dengan rambutnya yang agak panjang hampir menyentuh bahu, membuat penampilannya kurus sempurna. Selalu mengenakan sepatu sandal dan berkaos kaki. Berjalan tidak seimbang, karena telapak kaki kirinya tidak utuh. Tinggal separuh, istilah dia. Singkat kata, tubuh Waljiyo invalid (lemah).

Kondisi fisiknya yang demikian tidaklah bawaan lahir. Dua puluh tahun sebelumnya, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) jurusan teknik mesin itu baik-baik saja.  Hingga suatu ketika, pada tahun 2004 ia mengalami kecelakaan.  Saat bekerja sebagai teknisi di perusahaan telekomunikasi, Waljiyo tersengat aliran listrik tegangan tinggi sewaktu memperbaiki tower BTS (Base Transceiver Station).

Kecelakaan itu membuatnya harus dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Warga desa Surabayan, Argomulya, Sedayu itu harus bersahabat dengan para dokter, perawat, psikolog dan terapis. Setelah dua tahun, Waljiyo mulai bisa berdiri lagi, bisa berjalan dan menyadari bahwa bagian tubuhnya tidak lagi sebagaimana sebelumnya. Dia kehilangan telapak kaki dan tangan kiri, demikian pula dengan jari tangan kanan tidak bisa dibuka.

Penerimaan

Kehilangan bagian dan fungsi tubuh, tak membuat Waljiyo kehilangan dunianya. Pria kelahiran 15 Juli 1984 itu tetap memiliki support dari keluarga dan teman-teman dekatnya. Mengunjungi perpustakaan, mengikuti satu seminar ke seminar lain pun diljalaninya.

Baginya, peristiwa yang dibayar dengan hilangnya beberapa bagian dan fungsi tubuh hanyalah sepenggal mimpi buruk dalam tidurnya. Terus berjuang tanpa beban psikologis, membangun kesadaran bahwa hidup harus berlanjut dan diperjuangkan.

“Ini adalah cara Tuhan menyentuh dan mencintai saya, menjaga saya untuk terus bertahan hidup (survive). Menjadi manusia berguna bagi sesama,” demikian keyakinannya.

Bekerja tidak harus menjadi teknisi, meski itu impiannya sewaktu remaja. Beternak ayam, itik, ikan, dan berkebun menjadi pilihan agar terus mandiri secara ekonomi. Tidak ingin merepotkan, menjadi prinsip hidupnya. Hasil beternak dan berkebun dijualnya sendiri di pasar.

Inklusi sosial

Dia mengaku tidak  pernah mengalami penolakan dari masyarakat di lingkungannya. Justru para pelanggan pasar memilih datang ke rumahnya untuk memilih dan membeli hasil ternaknya. Kegiatan itu dijalaninya selama dua tahun.

Waljiyo bukan tipe orang yang senang hanya berada di rumah. Jiwanya yang merdeka memutuskan berganti usaha. Berdagang keliling, dipilih agar bisa lebih luas bersosialisasi. Menjual berbagai perabot rumah tangga (ember, panci, barang pecah belah) dilakoninya selama empat tahun.

“nasib orang itu berbeda-beda, dan saya tidak pernah malu terhadap apa yang saya lakukan, karena saya paham betul siapa saya. Hingga akhirnya saya memutuskan mejadi pedagang buah keliling, dan sudah berjalan selama delapan tahun hingga saat ini,” ujarnya pada Solider, Sabtu (26/9).  

Dari usaha yang diperjuangkannya, Waljiyo tidak hanya bisa survive. Dia bahkan bisa meyekolahkan adiknya hingga di perguruan tinggi. Anak keempat dari lima bersaudara itu mengutarakan, mampu membiayai adiknya adalah sebuah kebahagiaan dan kepuasan batin baginya.

Apa itu difabel?

Ada sisi menarik dari pria pendiam itu. Dia tidak pernah merasa dirinya difabel. Pekerjaan apa saja biasa dikerjakannya. Baru dua tahun be lakangan dia menyadari bahwa dirinya adalah difabel. Mengenal dan bergabung dengan Paguyuban Pinilihlah yang memahamkan siapa dirinya.

Dia juga mulai mengetahui ada banyak warga masyarakat difabel di sekitarnya, dengan kondisi yang jauh lebih berat darinya. Mandiri sebagai manusia adalah sebuah bentuk tanggung jawab yang tak ada tawar-menawar.

Hidup bermartabat dan mandiri secara ekonomi harus dimiliki oleh setiap jiwa, tanpa kecuali masyarakat difabel. Karenanya, Waljiyo sangat aktif mendorong kawan-kawannya difabel untuk survive. Tidak hanya dukungan mental, secara finansial, tenaga dan pikiran dilakukannya untuk mendorong hidupnya kegiatan difabel pada Komunitas Pinilih.

“Mandiri, tak peduli dengan rintangan hingga titik darah penghabisan, itulah Mas Waljiyo. Fokus pada mencari solusi, tidak berhenti pada memikirkan masalah menjadi karakter Mas Waljiyo,” ujar Maria Tri Suhartini, Ketua Paguyuban Pinilih.

Dia difabel yang tidak pernah merasa bahwa dirinya difabel, ujar Maria Tri. Sikap seperti itu layak dicontoh siapa saja. “Mas Waljiyo juga selalu menyemangati teman-temannya. Bahkan medonasikan berapa pun untuk kegiatan Pinilih dilakukannya,” imbuh Maria Tri.[]

 

Reporter: harta nining wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.