Lompat ke isi utama
tangkapan layar diskusi online juru bahasa isyarat

JBI Menuju Desain Pendidikan Universal

Solider.id – Universitas Negeri Semarang (Unnes) menyelenggarakan pelatihan Juru Bahasa Isyarat (JBI) untuk menuju desain pendidikan universal. Giat ini dilaksanakan secara virtual dengan berbagai narasumber, Sabtu (19/9).

Yuktiasih Proborini eksekutif direktur yayasan Sejiwa menjelaskan difabilitas terjadi karena tidak adanya akses atau akomodasi yang layak pada difabel di lingkungan sosial,

“Berbicara tentang hak difabel, sebenarnya semua orang difabel dan non difabel memiliki kebutuhan yang sama, namun hanya difabel perlu tambahan sesuatu, misal difabel daksa yang memerlukan kursi roda, Tuli membutuhkan juru bahasa isyarat,” kata Yuktiasih

Menurutnya, selama ini dalam proses pembangunan orang-orang difabel tidak dilibatkan, sehingga yang muncul hanyalah asumsi dan pembangunan tidak akan aksesibel terhadap difabel. Dalam pendidikan inklusi, akomodasi yang layak untuk difabilitas bukan hanya ramp saja, namun banyak  indikator yang lainnya.

“Dalam tujuan pembangunan yang berkelanjutan,  dituliskan leaving no one behind yang berarti tak ada satu pun yang tertinggal, jadi difabel harus dilibatkan dalam planning sampai akhir proses pembangunan,” tandasnya

Jasmina yang menjadi juru bahasa isyarat sejak tahun 2015 yang lalu menceritakan tentang awal mula ia menjadi JBI.

“Saya dulu tidak mengerti apa itu bahasa isyarat, ada sekelompok orang seperti bermain teater dengan gesture (gerak tubuh). Lalu akhirnya saya tertarik dan mempelajarinya hingga tahun 2015 saya ditarik dosen saya menjadi juru bahasa isyarat dalam sebuah acara,” ucap Mine, nama sapaannya

Ada beberapa kendala ketika ia telah menjadi juru bahasa isyarat, yaitu belum memahami perbedaan budaya dan bahasa, belum mengetahui soal JBI dan etikanya, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai orang dengar dan JBI.

“Dari sana saya terus belajar, dengan cara sering praktik yakni bertemu dan berinteraksi dengan teman-teman Tuli serta bertanya bahasa isyarat di daerahnya. Hal ini karena tiap-tiap daerah mempunyai bahasa isyarat masing-masing dan itu sangat menarik. Yang penting harus berinteraksi dengan teman-teman Tuli baik secara langsung maupun tidak, dan jangan lewat buku,” pungkasnya

Ia menerangkan antara penerjemah isyarat dan juru bahasa isyarat ada perbedaan, jadi penerjemah masih mempunyai waktu yang cukup lama dibanding dengan juru bahasa isyarat.

“Penerjemah isyarat mengubah dari text ke bahasa isyarat atau sebaliknya, jadi penerjemah isyarat mempunyai jeda untuk editing, buka buku kamus dan lainnya, sedangkan juru bahasa isyarat tidak bisa karena ia langsung menyampaikan secara lisan dan gerakan apa yang disampaikan oleh pembicara,” ujarnya

Seringkali orang-orang bilang proses juru bahasa isyarat mengubah bahasa a ke bahasa b, namun menurutnya seorang juru bahasa isyarat bukan hanya persoalan itu saja.

“Ketika ada orang bicara, otomatis pikiran saya mengubah ke bahasa yang saya tahu, dengan cara mendengar dan memisah informasinya dengan cara 5W 1H, lalu mencari konteks atas informasi tersebut, kemudian saya ubah ke bahasa sasaran sesuai dengan struktur bahasanya, karena bahasa Indonesia dan bahasa isyarat struktur bahasa dan kalimatnya berbeda,” tukasnya

Ia menambahkan, juru bahasa isyarat tida hanya orang dengar saja namun Tuli juga bisa menjadi juru bahasa isyarat.[]

 

 Reporter: Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.