Lompat ke isi utama
tampilan sampul depan buku Indonesia dalam desa inklusi terbitan Sigab

Mengeja Ulang Desa Inklusi

Judul     : Indonesia Dalam Desa Inklusi; Pembelajaran dari Temu Inklusi 2014

Penulis  : Ishak Salim, M. Syafi’ie, Nunung Elisabeth, dkk

Penerbit : SIGAB

Cetakan : Juni, 2015

Tebal      : iv-viii+195

 

Solider.id - Membaca rekam jejak atau dokumentasi kegiatan, terkadang adalah hal yang membosankan. Dengan segala kenormatifan dan formalitas yang melekat padanya, menjadikan arsip kegiatan yang dinarasikan dalam tulisan panjang kebanyakan menjemukan. Tetapi beda halnya dengan buku terbitan Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) yang baru selesai saya baca. Buku yang berjudul Indonesia dalam Desa Inklusi; Pembelajaran dari Temu Inklusi 2014 ini, menyajikan pemaparan yang berbeda, dan terkesan mengasyikkan bagi saya.

Saya seperti membaca novel yang mengangkat tema masa lalu. Hal ini lantaran buku ini menceritakan kegiatan yang sudah lewat. Kepala saya diarahkan untuk membayangkan sekaligus menarasikan ulang megahnya acara yang diinisiasi oleh SIGAB. Dan sulit saya pungkiri, saya merasa tertarik dan seperti menyaksikan langsung kegiatan yang megah tersebut. Saya pribadi pun tak habis pikir dan merasa kagum, khususnya pada teman-teman difabel yang dengan keberanian luar biasanya sukses menyelenggarakan acara temu inklusi pada 2014 lalu.

Selama ini, wacana desa inkulsi memang terkesan fiktif, jika tidak bisa disebut gaib. Pada dasarnya, mewujudkan desa inklusi memang bukanlah pekerjaan mudah. Banyak komponen dan persiapan fundamental yang setidaknya harus terpenuhi dari awal. Ditambah lagi, gagasan semacam ini tentu saja banyak menguras tenaga dan waktu. Akan tetapi, tidak ada salahnya bukan, jika kita bermimpi untuk mendambakan kehidupan yang lebih baik, terutama kehidupan yang dapat adil pada semua?

Seperti yang terdapat pada kata pengantar dalam buku ini, gagasan mengumpulkan difabel di desa adalah gagasan yang sangat tepat saya rasa. Sebagaimana kita ketahui bersama, desa sudah sejak lama mengalami yang namanya pengasingan. Terlebih pada Orde Baru sampai menjelang Reformasi, desa dianggap wilayah yang harus mengekor pada pusat. Kemandirian di desa ditekan sedemikian rupa, dan akibatnya banyak desa sekarang ini kehilangan identitas serta ciri khasnya. Pada kenyataannya, desa harus dapat keluar dari keterasingan yang merugikan semacam ini.

Bukankah cerita soal hidup adalah cerita yang indah? Meskipun pada akhirnya, hidup itu tidak melulu soal yang indah semata. Fakta bahwa Indonesia bisa kuat karena keberagamannya, adalah faktor yang sulit kita tampik. Hal ini bersangkut paut pula dengan banyaknya identitas yang melekat pada kita. Berangkat dari hal tersebut, alangkah lebih tepatnya apabila kita bisa lebih saling mengharga, saling memahami antara satu sama lain. Sembari menyatakan dan mendeklarasikan, bahwa Indonesia bukan hanya persoalan kamu atau aku, tapi kita semua.

Gagasan temu inklusi 2014, menjadi suatu kegiatan yang dapat mempelopori serta mampu menyadarkan kita bersama. Bahwa, harapan kuat yang sudah sejak lama terdapat pada teman-teman difabel akan adanya inklusifitas, sedikit demi sedikit, dan secara berangsur-angsur mulai menemukan titik terangnya. Bisa disebut, temu inklusi perdana yang telah terselenggara enam tahun lalu, adalah titik tolak untuk kita memulai Indonesia yang lebih baik dan lebih maju. Baik dan maju dalam artian mampu menerima semua keberagaman yang ada.

Sebagai orang yang terlibat pada temu inklusi tahun ini, saya merasa beruntung sekaligus berbangga hati. Bangga dalam pengertian bahwa saya bisa menjadi bagian untuk menyuarakan hak-hak serta kepentingan kelompok yang selama ini terpinggirkan. Bahkan, saya merasa terharu ketika dengan  jelas mengetahui kondisi dari teman-teman difabel yang selama ini terus memperjuangkan hak-haknya.

Kenyataanya, selama ini memang kita kebanyakan lebih banyak menutup mata dan telinga, ketika sudah berbicara soal inklusifitas. Banyak pakar, ahli, akademisi, dan sekian profesi lainnya, lebih sering membaca inklusi dari luar, dari kacamata yang bisa jadi tidak sesuai realita yang ada. Melalui buku terbitan SIGAB ini, saya rasa ke depannya kita mampu mengurangi kesalahpahaman atas inklusi. Harapan saya lainnya, wacana inklusifitas ini tidak hanya berhenti pada kegiatan tahunan seperti temu inklusi, akan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari kita bersama.

Apa yang terlintas dalam benak saya setelah menyelesaikan membaca buku ini, adalah gambaran tentang Indonesia yang tidak lagi diskriminatif pada teman-teman difabel. Lebih jauhnya, saya membayangkan keberhasilan dan mengurat akarnya wacana inklusi ini ke segala lapisan masyrakat dan semua bidang kehidupan. Mulai dari pendidikan, pemerintahan, hukum, kesehatan, ekonomi, serta banyak hal lainnya. Meskipun buku ini adalah potret dari kegiatan enam tahun lalu, percayalah, ketika anda membacanya, anda akan merasa bahwa kegiatan ini seperti baru kemarin terselenggara.

Secara tidak langsung, saya ingin menyampaikan terima kasih pada teman-teman SIGAB dan orang-orang yang mendorong gagasan temu inklusi ini sampai terwujud. Atas dasar ide brilian dan inovatifnya, bagi saya, SIGAB tidak hanya membuka mata Indonesia soal masyarakat inklusif ini. Tetapi juga sekaligus membuka serta membuktikan kepada dunia, bahwa segala sendi kehidupan kita itu bisa inklusif, asalkan memang ada niatan yang tulus dan ikhlas untuk mewujudkannya.

Sebagai orang yang mudah-mudahan nantinya bisa melanjutkan jenjang pendidikan lebih lanjut, saya pun tidak akan bisa melupakan kisah inpiratif yang tertuang dalam buku ini. Sebagaimana kumpulan harapan yang tertuang dalam buku ini, saya akan berusaha sekuat tenaga pula untuk menegaskan bahwa pentingnya memulai perubahan menuju inklusi. Tentu saja, apa pun kendala yang pastinya berdatangan ketika ingin mewujudkan wacana inklusi, tidak akan membuat saya, dan kita sekalian untuk tinggal diam.

Oleh sebab itu pula, buku ini sekaligus mengajarkan, ketika kita mempunyai sebuah keinginan, termasuk keinginan untuk mewujudkan masyrakat yang inklusi, jangan sampai menjadikan kita berpangku tangan. Melalui buku ini, kita bisa mengetahui dengan jelas, bahwa perjuangan itu tolak ukurnya bukan berhasil atau tidaknya. Namun sejauh mana kita terus berusaha dan pantang menyerah, ketika kita merasa apa yang sedang kita perjuangkan adalah hal yang benar. Pada akhirnya, saya ingin mengajak pembaca sekalian, mari bergabung dan menjadi bagian untuk menuju Indonesia yang inklusi![]

 

Penulis: Zeffa Yurihana

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.