Lompat ke isi utama
salah satu difabel netra sedang menikmati penerebangan di pesawat

Difabel Netra Tak Perlu Takut Terbang Mandiri

Solider.id – Saat ini, aksesibilitas pesawat sebagai salah satu pilihan mode transportasi bagi difabel netra sudah cukup baik. Akan tetapi, masih banyak masyarakat mempertanyakan bagaimana seorang difabel netra bepergian sendiri menggunakan pesawat. Banyak juga orang tua dan keluarga yang merasa khawatir untuk memberikan izin seorang difabel netra untuk bepergian mandiri menggunakan pesawat.

Dengan berbagai fasilitas dan layanan dari pihak bandara maupun maskapai, semestinya tidak perlu lagi ada kekhawatiran yang berlebihan ketika seorang difabel netra hendak bepergian menggunakan pesawat. Berikut tips bagi seorang difabel netra yang ingin berpergian mandiri menggunakan pesawat.

*****

Pertama, Dari tempat tinggal sampai ke konter check-in.

Jika diantar oleh pihak keluarga:

  • Membawa alat bantu mobilitas seperti tongkat.
  • Mintalah izin kepada petugas bandara agar pengantar bisa sampai ke konter check-in.
  • Mintalah pengantar untuk tetap menemani hingga proses check-in, urusan bagasi, dan kepastian pendamping dari pihak maskapai sudah selesai.
  • Jika pihak maskapai mengajukan sebuah form untuk ditandatangani, mintalah pada pengantar untuk menjelaskan maksud dan tujuan form tersebut. Jangan ragu untuk menolak jika ada poin yang dirasa merugikan, khususnya terkait tanggung jawab keselamatan selama penerbangan.

Jika berangkat mandiri dari rumah :

  • Siapkan dokumen keberangkatan seperti tiket, dokumen kesehatan (Khusus pandemi Corona COVID-19 atau kondisi tertentu), dan manfaatkan layanan web check-in jika tersedia. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau, agar ketika diminta dapat langsung diperlihatkan.
  • Jika memungkinkan, gunakan ransel yang tak perlu dibagasikan untuk mempermudah perjalanan. Namun jika membawa barang yang harus dibagasikan, ingatlah detail barang tersebut seperti bentuk, warna dan detail—detail lainnya. Cari tahu juga aturan barang yang tidak bisa dibagasikan seperti powerbank, cairan kimia dan lain-lain.
  • Membawa alat bantu mobilitas seperti tongkat. Letakkan pada tempat yang mudah dijangkau seperti kantong luar tas atau selalu dipegang.
  • Gunakan transportasi yang dapat mengantar sampai ke lobi terminal keberangkatan seperti taksi, Go-Car, GrabCar dan lain-lain.
  • Tiba di bandara, pastikan seluruh barang bawaan tidak ada yang tertinggal dan mintalah kepada driver yang mengantar untuk mencari petugas bandara yang berseragam resmi seperti satpam untuk mengantar ke konter check-in maskapai.
  • Jika tidak ada petugas, minta tolong kepada driver untuk mengantar sampai ke gerbang masuk terminal keberangkatan.
  • Di gerbang terminal keberangkatan, perlihatkan dokumen keberangkatan yang telah disiapkan kepada petugas dan mintalah bantuan untuk diantar menuju ke konter check-in maskapai.
  • Saat proses check-in, jelaskan kepada petugas konter kondisi mengenai hambatan penglihatan yang dialami, dan mintalah pendampingan yang sesuai kebutuhan kepada pihak maskapai.
  • Jika disodori form yang perlu ditandatangani, pastikan isi form tersebut. Jangan ragu untuk menolak jika ada poin yang dirasa merugikan, khususnya yang terkait dengan tanggung jawab keselamatan saat penerbangan.

*****

Kedua, dari konter check-in sampai ke pesawat :

  • Tanyakan identitas pendamping dari pihak maskapai.
  • Jika ada barang yang dibagasikan, pastikan kepada pihak pendamping mengecek label bagasi pada boarding pass. Jumlah label bagasi biasanya sama dengan jumlah barang yang dibagasikan. Tanyakan pula informasi lain pada boarding pass seperti nomor penerbangan, waktu boarding, nomor kursi dan lain-lain.
  • Menunggu proses boarding, biasanya pendamping akan mengarahkan ke salah satu ruangan milik maskapai.
  • Jika diarahkan menuju ruang tunggu, simpanlah perangkat seperti ponsel, dompet dan barang lain pada tas jinjingan atau simpan di kantung jaket, agar memudahkan saat proses pemindaian sinar X-Ray.
  • Saat tiba di ruang tunggu keberangkatan, mintalah pada pendamping agar mengarahkan duduk di dekat meja petugas. Mintalah juga petunjuk arah jika hendak menuju ke meja petugas terdekat.
  • Khusus pada masa pandemi Corona COVID-19, sambil menunggu keberangkatan  isilah kartu kewaspadaan kesehatan (E-HAC) secara digital, agar ketika tiba di tujuan bisa langsung diperlihatkan pada petugas.
  • Biasanya difabel netra akan mendapatkan prioritas untuk masuk pesawat terlebih dahulu.
  • Jika terdengar panggilan kepada penumpang untuk naik pesawat namun petugas yang mendampingi belum menghampiri, jangan ragu untuk menanyakan kepada petugas terdekat.

*****

Ketiga, saat di pesawat

  • Awak kabin akan menghampiri dan menjelaskan secara singkat peraturan keselamatan, cara menghubungi awak kabin, cara melipat meja, mengatur posisi kursi, dan hal-hal penting lainnya.
  • Jika merasa kurang jelas dengan penjelasan dari awak kabin, jangan ragu untuk bertanya bahkan minta diperagakan secara langsung hal yang diperbolehkan seperti cara memasang sabuk pengaman, baju pelampung keselamatan dan lain-lain.
  • Beberapa maskapai akan memberikan buku petunjuk keselamatan dalam bentuk braille. Tanyakan pada awak kabin jika tidak diberikan.
  • Tanyakan pula fasilitas yang ada di pesawat dan kondisi di sekitar, misalnya; jumlah penumpang di sisi kanan atau kiri, lokasi toilet terdekat dan lain-lain.
  • Jangan ragu meminta bantuan awak kabin jika ada kesulitan.
  • Tiba di bandara tujuan, difabel netra biasanya turun paling akhir, agar tidak berdesak-desakan dengan penumpang lain dan juga menunggu pendamping dari maskapai di bandara tujuan.
  • Khusus pandemi Corona COVID-19, siapkan kartu kewaspadaan kesehatan (EHAC) yang telah diisi sebelumnya untuk diperlihatkan pada petugas di bandara tujuan.

*****

Keempat, turun dari pesawat

  • Jika memiliki barang yang dibagasikan, sampaikan kepada pihak pendamping dan jelaskan ciri-ciri barang dan perlihatkan label bagasi pada boarding pass.
  • Jika diminta, perlihatkan kartu kewaspadaan kesehatan (EHAC) yang telah dipersiapkan saat sebelum turun dari pesawat.
  • Pastikan seluruh barang bawaan termasuk barang bagasi lengkap dan tidak ada yang hilang.
  • Jika dijemput, mintalah pada pendamping untuk mengantar sampai bertemu dengan pihak penjemput. Namun jika tidak, mintalah bantuan mencari transportasi darat yang bisa digunakan menuju tujuan selanjutnya.

*****

Dalam bepergian mandiri, seorang difabel netra harus selalu tenang, berani bertanya dan meminta bantuan.[]

 

Penulis: Ahmad Syarif Sulaeman

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.