Lompat ke isi utama
ilustrasi video its about inclusivity

Stop Diversish ke Difabel!

Solider.id - Diversish merupakan istilah yang dipakai untuk menggambarkan prilaku dari pelaku bisnis maupun institusi yang menerapkan praktik inklusi setengah-tengah. Diambil dari kata diversity, yaitu keragaman yang kemudian dipelesetkan menjadi kata diversish adalah sebuah sindiran satire yang ditujukan kepada pelaku bisnis maupun institusi pemerintahan yang dalam menerapkan kebijakan diversity and inclusion di lapangan belum sepenuhnya melibatkan kelompok difabel.

Diversity and inclusion sendiri merupakan etika bisnis yang dijalankan oleh perusahaan-perusahaan untuk menciptakan lingkungan pekerjaan yang terbuka dan inklusif bagi beragam latar belakang individu baik secara ras, etnis, suku, agama maupun kondisi fisik serta juga mengamalkan nilai-nilai inklusi dalam prosesnya. Diversish adalah bentuk kekecewaan dari kelompok difabel terhadap upaya diversity and inclusion yang dipandang tidak melibatkan difabel secara menyeluruh. Awal mula istilah diversish berkembang berkat sebuah video satire yang menggambarkan rekayasa adegan dimana kelompok difabel masih sering terdiskriminasi oleh pelaku bisnis maupun pihak pemberi kerja. Video ini sendiri muncul dari inisiatif yang bernama  The Valuable 500, sebuah gerakan global yang berupaya dalam meningkatkan kesadaran pelaku bisnis tentang pentingnya budaya inklusi bagi difabel.   

 Pesan-pesan yang terkandung dalam diversish, yang dibawakan dengan gaya komedi adalah bentuk sindiran moral kepada pihak pemberi kerja yang selama ini masih saja belum serius dalam menerapkan praktik diversity and inclusion secara menyeluruh kepada kelompok difabel. Meski terbilang kampanye yang menghibur lewat video yang disajikan, diversish tetap membawa pesan serius yang tak bisa dikesampingkan. Diversish adalah klaim para pemberi kerja yang selama ini mendeklarasikan diversity tanpa adanya partisipasi difabel, menerima kesetaraan gender, ras, etnis pekerja tanpa memberi kesempatan ke difabel, dan hanya menjadikan difabel sebagai citra positif perusahaan tanpa benar-benar memberikan difabel ekosistem kerja yang inklusif dan setara bagi mereka. Tindakan-tindakan seperti inilah yang disebut diversish. Mengklaim dirinya inklusif tapi dalam praktiknya masih mendiskreditkan hak-hak dari kelompok difabel. Oleh karena itu, diversish wajib untuk dieliminasi secepat mungkin dari muka bumi ini.  

Diversish hanya memberikan ruang bagi mereka para pemberi kerja yang sanggup bersembunyi di balik kemasan diversity and inclusion, seolah-olah kemudian benar-benar mengamalkan praktik inklusi walau di saat yang bersamaan agenda bisnis yang dijalankan belum inklusif ke difabel. Tak ada kata diversity and inclusion tanpa melibatkan salah satu kelompok minoritas terbesar, yaitu kelompok difabel. Jika perusahaan ingin menahbiskan dirinya sebagai visi yang inklusi dan beragam maka sepantasnya mereka melihat kebijakan yang berpihak ke difabel juga.   

Dengan ini, mengikis budaya diversish adalah agenda yang harus dimiliki pihak perusahaan. Demi menciptakan akses pekerjaan, lingkungan kerja bahkan produk dan jasa yang mampu diakses oleh kelompok difabel, pemberi kerja tidak boleh lagi memandang upaya diversity and inclusion secara parsial. Itu namanya diversish!

Mengeksklusi kelompok difabel dalam bursa pencarian kerja ataupun tidak memiliki inisiatif dalam menyediakan lingkungan kerja yang inklusif difabel adalah sebuah langkah mundur bagi pemberi kerja. Diversish berawal dari tindakan pengabaian dan ketidaktahuan dari pihak pemberi kerja terhadap eksistensi difabel.

 Thus, menyadari fakta ini dan mulai mengevaluasi kebijakan di masa mendatang untuk lebih inklusif difabel adalah syarat untuk terbebas dari label diversish.

Diversish dalam Diversish

Seperti yang telah kita ketahui pada paragraf sebelumnya, diversish ini sendiri adalah merupakan praktik dari para pemberi kerja yang mengklaim mengikuti prinsip diversity and inclusion walau pada nyatanya belum memasukkan kelompok difabel dalam agenda tersebut alias inklusi setengah-tengah. Namun mari kita coba tarik isu ini lebih dalam. Apa jadinya jika kemudian praktik inklusi parsial ini terjadi dalam skala yang lebih kecil? Atau dengan kata lain, praktik inklusi setengah-tengah ini juga ada dalam penerapannya di dalam ragam jenis difabel yang berbeda-beda di masyarakat? Diversish versi ini adalah jenis diversish setingkat lebih kompleks dibandingkan diversish yang dilakukan sebelumnya, tanpa kemudian menghilangkan fakta bahwa praktik diskriminasi sendiri masih terjadi terhadap ragam jenis difabel tertentu walau di saat yang bersamaan ragam jenis difabel lainnya memiliki kesempatan yang lebih baik. Yang artinya, praktik ini masih cenderung berbau eksklusif meskipun dibungkus dengan kebijakan yang inklusif difabel.

Untuk memberikan pemahaman kongkret, tengok saja berbagai contoh yang telah ada di masyarakat berkenaan dengan praktik diversish jenis ini. Dibukanya lowongan kerja khusus bagi difabel tuli untuk posisi tertentu, dibutuhkannya difabel daksa untuk posisi call center, dicari difabel fisik untuk posisi telemarketing atau apapun jenis pekerjaan yang dibuka dan hanya diperuntukkan bagi jenis difabel tertentu. Hal inilah yang dimaksud dengan eksklusi di dalam inklusi. Lapisan-lapisan diskriminasi yang masih menghingapi tindakan inklusi ke para difabel di masyarakat. Kondisi inilah yang dapat kita lihat sebagai diversish dalam diversish. Sebuah produk kebijakan yang terkesan inklusif karena melibatkan difabel, namun ketika dilihat lebih dalam menjadi problematis diskriminatif karena secara bersamaan juga mengeksklusi jenis difabel lainnya.  

Kondisi seperti ini tentunya aneh sekaligus lucu. Bagaimana mungkin suatu perusahaan ingin mengimplementasikan nilai inklusi difabel di perusahaan yang mereka jalankan ketika mereka saja bahkan masih memilih-milih jenis difabel yang ingin mereka terima? Apakah ini benar-benar praktik inklusi difabel yang sebenarnya?

 Well, tentunya setiap pekerjaan itu berbeda-beda,. Dan tentu terdapat faktor keamanan maupun kesehatan yang menjadikan beberapa profesi itu tak dapat diakses oleh difabel, seperti profesi pemadam kebakaran, kepolisian maupun petugas medis contohnya, yang akan menjadi problematis apabila dilakukan oleh individu difabel netra, ataupun profesi sebagai penyiar radio, presenter TV maupun call center yang tentunya akan sedikit sulit dilakukan oleh individu tuli, maupun profesi-profesi lainnya yang memang mensyaratkan faktor fisik, sensorik dan mental yang memadai.

 Namun konteksnya menjadi berbeda disini ketika pekerjaan yang dibutuhkan tidak mensyaratkan kondisi fisik, sensorik maupun mental tertentu, akan tetapi pihak pemberi kerja malah membatasinya hanya bagi individu difabel jenis tertentu saja. Yang alhasil menjadikan difabel lainnyapun tak bisa melamar pekerjaan itu, thus menutup kesempatan mereka atas hak pekerjaan yang setara di masyarakat.   

 Ambil contoh, ada posisi telemarketing, yaitu posisi dalam mengurusi aspek pemasaran lewat telepon yang hanya diperuntukkan bagi difabel daksa, atau bahkan ada posisi call center sebuah perusahaan yang hanya ditujukan bagi difabel jenis fisik, yang mana dari segi teknis, pekerjaan-pekerjaan ini pun sebenarnya juga mampu dilakukan oleh ragam jenis difabel lainnya seperti difabel netra maupun difabel mental sekalipun.  

 Bahkan berkat adanya teknologi dan kualitas SDM difabel yang semakin meningkat, banyak difabel yang sekarang ini sebenarnya telah kompeten untuk melakukan pekerjaan apapun, terlepas kemudian dari ragam difabilitas yang mereka miliki. Sekarang hanya apakah pihak pemberi kerja sudi memberi kesempatan ke difabel tersebut? Tidak hanya satu jenis difabel saja, tapi seluruh ragam jenis difabel.

Adanya praktik-praktik semacam ini di lapangan tak pelak menunjukkan bahwa para pemberi kerja sendiri masih gagap dalam menerapkan inklusi difabel di tempat mereka. Gagap sekaligus mempertegas ironi dimana hanya golongan difabel tertentu yang diberi kesempatan selagi difabel lainnya masih terdiskriminasi atas sistem yang diskriminatif. Pertanyaannya masih sama, apakah dengan kita menerima jenis difabel tertentu sementara juga menolak difabel jenis lainnya itu bisa dikatakan sebagai praktik yang inklusif? Tidakkah itu juga diversish?  Karena apabila jawabannya semudah itu maka dari dulu akan ada banyak difabel yang masih kesulitan dan terdiskriminasi atas hak mereka untuk memperoleh kesempatan kerja yang setara. Oleh karena itulah, upaya dalam memperkerjakan pekerja difabel tidaklah bisa parsial. Dibutuhkan pendekatan yang progresif dan holistik untuk mampu mengikutsertakan berbagai ragam difabel atas kesempatan yang setara. Selama tuntutan yang harus dipenuhi calon pekerja difabel tersebut sesuai dengan kompetensi dan kualitas difabel, dan tidak mengkehendaki persyaratan fisik, sensorik maupun mental yang diluar kemampuan si difabel, maka akses pekerjaan tersebut pun harus terbuka bagi semua ragam difabel alih-alih hanya ke beberapa jenis difabel saja.

 Membatasi program diversity and inclusion kepada beberapa jenis difabel adalah bagian dari sikap diversish. Sikap ini sudah seharusnya kita kikis dari mulai sekarang. Tak ada inklusi yang benar-benar inklusif dengan menjalankan prilaku diversish semacam ini, begitu juga tak ada kata “diversity” sebelum kita juga mampu melenyapkan prilaku-prilaku diversish terhadap kelompok difabel di masyarakat.[]

 

Penulis: Made Wikanda

Editor  : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.