Lompat ke isi utama
ilustrasi perempuan difabel

Hegemoni Cantik dan Perempuan Difabel

Solider.id - Kata cantik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sebagai molek, indah (untuk wajah). Keindahan sendiri erat kaitannya dengan persepsi kesenangan maupun kepuasan.

Bagi perempuan sendiri, pelekatan label cantik menjadi sebuah hal yang didambakan. Hal ini lebih dikarenakan tebalnya hegemoni perempuan dan kecantikannya. Inspirasi mengenai kecantikan perempuan menjadi bahan untuk jutaan karya lukisan, tulisan, musik maupun media visual. Bahkan dari sejarah, kecantikan perempuan menjadi sebuah kekuatan besar yang mampu menjadi legenda yang tidak lekang oleh waktu. Sebut saja Monalisa, legenda Helena dari Troya, Cleopatra, Ken Dedes dan sederet nama perempuan yang mengilhami sejumlah kisah heroik dan terkenal.

Seiring derasnya arus teknologi informasi, juga perkembangan industri fashion dan kecantikan, standar cantik menjadi sebuah ideologi tersendiri yang mampu menghipnotis jutaan perempuan di dunia. Di Indonesia sendiri, standar kecantikan  katakanlah berkulit putih, kurus, tampak muda, hidung mancung, berkulit halus mulus, rambut lurus, tubuh tinggi semampai, dan bahkan cantik sampai meliputi pada tingkah laku dan tutur kata yang diatur sedemikian rupa oleh tatanan yang dipercayai oleh mayoritas masyarakat. Standar kecantikan ini kemudian menjadi sebuah keharusan karena diikuti oleh pemikiran tidak bisa menarik perhatian.

Padahal sesungguhnya, orang Indonesia asli memiliki kulit  sawo matang, hidung pesek, dan beberapa suku bahkan memiliki kulit gelap, rambut bergelombang, ataupun bertubuh pendek. Serangan iklan produk kecantikan menggoda perempuan untuk membeli untuk memperbaiki tampilan fisik, agar sesuai dengan standar cantik.

Pelanggengan hegemoni cantik ini kemudian membawa belenggu bagi perempuan. Mereka kemudian berupaya untuk memenuhi standar yang ada untuk memastikan status sosial mereka di antara masyarakat. Wolf[1] menyatakan bahwa cantik merupakan sistem kepercayaan yang paling lama dan ampuh dalam melanggengkan dominasi laki-laki. Menurut tokoh feminis ini, dengan membuat perempuan sibuk memikirkan bentuk tubuhnya, menjauhkan mereka dari segi politik dan pendidikan. Penghegemonian inilah yang kemudian menimbulkan segregasi sosial masyarakat dalam memandang perempuan. Hal ini pulalah yang kemudian memicu diskriminasi dan stigma perempuan dari sudut pandang kecantikan.

Di Luar Standar

Bagi perempuan dari kelompok marginal, diskriminasi erat kaitannya dengan pandangan tidak cantik. Perempuan Difabel khususnya menjadi salah satu kelompok yang paling dipandang jauh dari kategori cantik.

Aspek kesempurnaan fisik sesuai dengan standar yang diyakini oleh masyarakat acapkali menempatkan perempuan Difabel sebagai sosok yang “tidak sempurna”. Oleh karena itu kata ini acapkali tidak diijinkan untuk dilekatkan pada perempuan Difabel. Kacamata kaku standar yang ada memandang mereka sebagai liyan, sehingga sekali lagi dalam aspek ini perempuan Difabel kembali dipinggirkan.

Keengganan pelekatan cantik oleh masyarakat tercetus dalam kata “tetapi”. Kata ini acapkali terdengar terkait dengan perempuan Difabel. Meskipun dalam beberapa aspek perempuan Difabel masuk dalam standar kecantikan, masih ada keengganan yang mengikuti. Masyarakat cenderung menyebut “cantik tapi tidak bisa melihat”, “cantik tapi tidak bisa mendengar”, “cantik tapi tidak bisa berjalan”, dan ungkapan lain yang mengindikasikan ketidakrelaan masuknya perempuan Difabel dalam standar yang mereka agung-agungkan.

Hal lain yang juga menjungkalkan perempuan Difabel dalam kacamata ini adalah pengungkapan “terlalu cantik untuk …”. Adalah Abha Ketarpal[2], seorang pegiat perempuan dari India yang mengungkapkan dia kerapkali mendapat sebutan terlalu cantik untuk perempuan yang berkursi roda. Selain itu, masyarakat juga memandang perempuan Difabel cenderung tidak mandiri dan menjadi beban bagi orang-orang di sekelilingnya.

Tidak Merdeka Atas Tubuh

Bagi perempuan Difabel, ketidakberdayaan menghadapi tuntutan hegemoni akan kecantikan menyebabkan beberapa hal yang cenderung merugikan. Ditempatkan di luar standar menjadikan penerimaan akan tubuh mereka menjadi sangat rendah. Akibatnya tentu saja menjadikan terperosoknya rasa percaya diri yang mereka miliki. Dengan beragam stigma masyarakat yang menempatkan Difabel sebagai kelompok yang terpinggirkan, hegemoni kecantikan semakin mendorong perempuan Difabel terjun pada jurang ketidakpercayaan diri yang dalam.

Pun, hegemoni ini juga menciptakan sebuah justifikasi masyarakat yang merasa lebih paham mengenai ketubuhan perempuan Difabel. Masyarakat pada umumnya merasa lebih tahu dan memberi penghakiman bagi tubuh seorang perempuan Difabel. Padahal sesungguhnya mereka ini juga tidak memiliki pemahaman memadai dan cenderung memberikan penilaian berdasarkan asumsi yang belum jelas kebenarannya.

Ketidakmerdekaan perempuan dengan tubuhnya terlihat kental dalam hegemoni ini. Pandangan dan asumsi yang cenderung tidak benar terhadap tubuh perempuan Difabel membuat pemahaman mereka akan diri sendiri dan dalam memaknai seksualitasnya dengan sangat sempit. Efeknya cenderung mendorong mereka untuk menolak, abai, tidak paham, bahkan malu dengan ketubuhannya sendiri. Pengabaian ini cenderung membuat perempuan Difabel rentan mengalami kekerasan berbasis gender.

Di luar perempuan itu sendiri, pengabaian terhadap hak ketubuhan perempuan menempatkan perempuan sebagai pihak yang tidak merdeka. Dalam beberapa kasus kekerasan seksual terhadap perempuan Difabel mental intelektual, orang berusaha melindungi dengan memakaikan alat kontrasepsi tanpa persetujuan dari perempuan pemilik tubuh. Hal ini selain merampas hak perempuan Difabel akan ketubuhannya, juga bahkan memberikan perlindungan bagi pelaku untuk melakukan kekerasan lagi tanpa khawatir ketahuan karena korban hamil.[]

 

Penulis: Ida putri

Editor   : Ajiwan Arief

 

[1] Wolf, N (1991), The Beauty Myth: How Image of Beauty Are Used Against Women, Harper Perennial

[2] Diungkapkan dalam diskusi daring “Skin Stories Salon: Disability, Sexuality, Gender” yang digagas oleh Point of View, Mumbai, India pada 4 Juni 2020

The subscriber's email address.