Lompat ke isi utama

Pejuang Kanker dan Ostomate, Lawan Stigma dengan Terbang Paralayang

Solider.id - Berangkat dari problematika persoalan hidup, gejolak perlawanan batin akan kenyataan hidup bahwa sesungguhnya kita sebagai hamba Sang Maha Pemberi Cinta adalah hanya tempat bersinggah sesaat. Dunia sebatas taman di akhirat kelak. Sesungguhnya ketika menjalani pengarungan kehidupan ini sebaik-baiknya bisa berdamai dengan keadaan dan berdamai dengan diri sendiri. Maka dari itu, puncak tertinggi dari sebuah kehidupan ialah menikmati rasa syukur.

Sesungguhnya bahwa hidup ini adalah tidak hanya serta menceritakan tentang keindahan, kesempurnaan, serta perwujudan impian. Faktanya, kehidupan yang kita harapkan tak selalu bisa berjalan dengan mulus. Banyak sekali lika-liku, rintangan dalam sebuah pendakian menuju puncak kehidupan yaitu dengan cara merayakan kematian. Apa yang dimaksud dengan merayakan kematian disini ialah, kita yang masih bisa menikmati buliran oksigen tiap harinya agar bisa terus berlomba-lomba dalam memupuk kebaikan dalam bentuk pahala agar nantinya

Bisa merasakan nikmatnya surga di kehidupan yang sesungguhnya.

Segala bentuk kegagalan, luka, kekalahan, perpisahan, semuanya dalam bentuk persepi dalam kecewa, mereka merupakan bagian kecil dari ketidaksempurnaan yang bisa menerpa siapa saja.

Disini aku ingin menceritakan teman karibku di masa remaja, tepatnya di sekolah menengah pertama. Namanya Hamzah biasa dipanggil Mije, ia bercerita kepadaku kala itu bahwa ia mendapatkan kabar mengejutkan dirinya bahwa ia mengidap kanker usus, yang dimana Hamzah harus merelakan pembuangan di dubur harus di kubur dalam-dalam, yang dimana itu disebut juga dengan ostomate.

Ostomate adalah mereka yang pernah menjalani pembedahan di tubuhnya untuk membuat lubang. Lubang harus dibuat ketika mereka harus melewati operasi pengangkatan laring, saluran cerna (usus besar), atau salurah kemih Dalam beberapa operasi usus, dokter bedah perlu melakukan pembuatan stoma. Prosedur ini dilakukan dengan membuat lubang pada dinding perut untuk mengeluarkan isi usus, tanpa melalui anus. Arti stoma sendiri sebenanrnya adalah lubang pada tubuh. Pada beberapa kondisi, diperlukan pembuatan lubang di dinding perut untuk mengeluarkan feses atau tinja. Dengan demikian, feses tidak dikeluarkan melalui anus.

Saat itu aku pun terkejut dengan kabar darinya, karena itu semua yang diceritakan Hamzah ialah cara Allah untuk menyapaku, bahwa tidak ada yang lebih megah dibandingkan rasa syukur. Bahwa sebaik-baiknya merawat kehidupan adalah mengingat akan kematian, karena yang paling dekat bukannya kebahagiaan melainkan merayakan kematian. Merayakan kematian disini adalah sebaik-baiknya hamba sang pemilik semesta bahwa kita hidup menjadi manusia untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan yang disukai oleh Sang Maha Pemberi Cinta agar bisa merayakan kematian dengan dimasukkan surge-Nya, aamin Allahuma aamin.

Namun, belakangan ini di awal bulan September 2020 aku mendapat kabar lagi dari Hamzah bahwa kankernya Hamzah sudah merambat ke hati, ada tumor tumbuh di bagian hatinya Hamzah yang mau tidak mau harus dilakukan tindakan operasi dengan cepat. Awalnya Hamzah bercerita di awal bulan Oktober kalau dia akan di operasi untuk mengangkat tumor yang ada di hatinya. Namun, dokter berkata lain—bahwa ia harus segera mendapatkan tindakan professional dari dokter bedah. Sebelumnya Hamzah ingin sekali ketika sebelum di operasi pengangkatan tumor di hatinya itu ia masih ingin eksplorasi keindahan alam semesta ini, dengan melakukan minat khusus di kegiatan alam bebas dengan cara bermain kayak di danau, ke Gunung Papandayan, susur gua, dan Paralayang.

Namun, setelah mendapatkan kabar dari dokter spesialis yang menangani Hamzah, bahwa ia harus di operasi pada tanggal 11 September 2020 ini ia harus menunda keinginannya untuk menyusuri keindahan alam semesta. Namun, menurutnya masih ada waktu untuk bisa berkegiatan di alam salah satunya ia ingin sekali melakukan terbang tandem paralayang di puncak, Bogor.

“Fan, kalau gue boleh minta tolong. Kenalin sama orang Paralayang dong, gw mau nyoba paralayang bisa nggak sebelum gue operasi tanggal 11 september nanti?” tanya Hamzah kepadaku.

“Insya Allah bisa Jah, gue nanya Om Get dulu selaku dia pendiri paralayang di Indonesia dan senior di dunia olahraga kedirgantaaraan ini. Tapi, btw aman nggak kondisi perut lu jah?” tanyaku heran.

“Aman, insya Allah Fan. Gue juga masih manjat dengan kondisi kaya gini.”

“Tapi nanti perut lu, kegesek-gesek harnest nggak?”

“Nggak, kalau pun kena, nanti gw pake korset.”

“Nggak jah, jangan gampangin, main aman aja safety paling utama, kondisi kita udah kaya gini cuy, jadi keamanan paling penting. Nanti kita atur waktu dulu ketemu Om Get bahas kondisi lu? Aman nggak nanti pas pasang harnest di perut lu, biar tenang aja nanti pas lu terbang paralayang Jah.” Tutup perbincangan dengan Hamzah.

Pada akhirnya aku dan Hamzah pun bertolak ke rumahnya Om Get dibilangan Bogor yang kebetulan tidak begitu jauh dari rumahku, setelah bertemu dengan Om Get pada sebuah kesempatan sosok senior di dunia paralayang Indonesia ini bersedia untuk terbang tandem dengan Hamzah, tinggal menyocokkan jadwalnya dengan Hamzah. Setelah di briefing perihal teknis saat ingin terbang, tanggal 6 September 2020 adalah sepakat bahwa Hamzah pun berinisiasi untuk ke puncak agar bisa terbang layaknya burung elang yang membumbung tinggi menari-nari di angkasa. Benar-benar apakah ini yang dinamakan semesta mendukung? Mengapa demikian? Karena menurut Om Get sedari kemarin itu, angin tidak cukup bagus untuk terbang, kalau di istilahkan dari Bahasa paralayang bernama tail wind apabila ingin terbang harus head wind nah ketika Hamzah datang ke puncak yang bertepatan hari sabtu itu, pada siang hari sekitar jam satu siang, tiba-tiba anginnya head wind.

Aku tahu perasaanya Hamzah pasti ia senang sekali kalau ia bisa terbang, karena sejatinya ia sudah membawa adik, anak dan istrinya turut hadir di puncak untuk melihatnya terbang. Dan Allah benar-benar mengabulkan doa-doa baik Hamzah, dan pada akhirnya ia terbang melayang di angksa di tandem oleh Om Get, suatu kebanggaan tersendiri pastinya untuk Hamzah bahwa ia bisa diajak terbang dengan salah satu tokoh legend dari dunia paralayang. Aku bisa melihat dari raut wajahnya yang terus sumringah, bahwa sejatinya pejuang terbang dengan semangat yang dimilikinya.

Aku berpikir bahwa ketika kita mendongak ke atas tidak akan ada habisnya kalau memikirkan duniawi saja, sebagai hamba sang pemilik semesta sebaiknya kita menengok kebawah untuk lebih bersyukur. Hamzah mengajarkan apabila kita mengejar dunia, akhirat belum tentu dapat. Namun, apabila kita mengejar akhirat, dunia pun akan kita dapat. Kau memberikan pembelajaran soal hidup adalah sebaik-baiknya merawat kebaikan dalam dunia ini dan bertumbuh dalam pengarungan kehidupan sehari-hari. Terus semangat Jah, Tuhan bersama orang-orang pemberani.[]

 

 

Reporter :  Irfan Ramdhani

Editor      : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.