Lompat ke isi utama

Mas Menteri, Tolong Telaah Kembali Makna Pendidikan Inklusi

Solider.id - Tulisan ini tidak bermaksud menghujat,  mengkritik, apa lagi  menggurui. Akan tetapi, tulisan ini hadir dari sebuah kerisauan. Kerisauan oleh sebuah berita yang bertebaran di group WhatsApp. Judul beritanya sangat mencengangkan : Mendikbud: SLB Lebih Merdeka Dibanding Sekolah Umum

Sebagai manusia  yang suka menelaah sesuatu, judul berita tersebut tidak lantas membuat saya menjadi langsung percaya, sebab menurut saya, don’t judge a book by it’s cover (jangan menilai sesuatu hanya dari tampilan/judulnya saja). Lalu, saya pun mencoba membuka berita itu, dan saya sebagai aktivis difabel justru merasa sedih akan pernyataan yang dilontarkan oleh Mas Menteri pada kutipan di berita online tersebut:Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, salah satu target utama Kemendikbud adalah memberikan perhatian yang lebih serius kepada Sekolah Luar Biasa (SLB).  Hal tersebut dikatakan Nadiem saat meninjau pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Yogyakarta

pada Kamis 17 September 2020.  "Walaupun SLB itu menangani anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi pedagogi dan metodologi pembelajaran yang dilakukan di SLB bisa menjadi panutan atau sumber inspirasi pembelajaran," ujar Nadiem dalam keterangannya, Jumat (18/9/2020).

Nadiem menyatakan bila pembelajaran di SLB pendekatannya lebih personal, tersegmentasi, dan tidak seragam. Sehingga pelaksanaanya disesuaikan dengan kebutuhan minat, bakat, dan kompetensi dari murid.

"Dari sisi spektrum merdeka belajar, SLB itu lebih merdeka daripada sekolah umum. Jadi, kita akan memberikan lebih banyak sumber daya dan perhatian lagi sehingga SLB juga bisa membantu sekolah-sekolah lain," bebernya.

Ia turut mengapresiasi dedikasi para guru pendidikan khusus. Ia selalu melihat adanya hubungan batin yang erat antara guru pendidikan khusus dengan muridnya.

"Amanah itu terlihat sekali di wajah para guru pendidikan khusus, dan itu saya lihat jelas sekali saat masuk di sekolah ini," ujar Nadiem.

Menurut Nadiem, pendidikan khusus sangat erat dengan filosofi Merdeka Belajar. "Tidak mungkin kita mencapai merdeka belajar tanpa sekolah yang inklusif," jelasnya (https://news.okezone.com/read/2020/09/18/65/2279806/mendikbud-slb-lebih… ).

Itulah berita yang membuat saya pribadi menjadi bertanya-tanya, karena Mas Menteri memuji sistem pendidikan di  SLB, dengan menyatakan bahwa “SLB   bisa menjadi panutan atau sumber inspirasi pembelajaran," tidak hanya itu, Mas Menteri juga  menyampaikan, “"Dari sisi spektrum merdeka belajar, SLB itu lebih merdeka daripada sekolah umum. Akan tetapi, di akhir kutipan tersebut, Mas Menteri menegaskan, "Tidak mungkin kita mencapai merdeka belajar tanpa sekolah yang inklusif,."

 Sekilas, seolah-olah pada pernyataan Mas Menteri ada kontradiksi logika. Sebab di sisi lain, ia memuji pendidikan yang berbasis SLB, namun di waktu bersamaan ia juga mengatakan bahwa tidak mungkin merdeka belajar itu tanpa adanya sekolah yang inklusif. Jadi, Mas Menteri sebenarnya mau menegaskan apa ya? Apakah memuji SLB oleh karena basis pendidikan yang eksklusif, atau justru hendak menegasikan peran  SLB dengan eksklusifitas yang dimiliki karena menurut Mas Menteri tidak ada merdeka belajar tanpa sekolah yang inklusif?

Padahal, bila lebih ditelaah lagi tentang eksistensi pendidikan SLB dan konsep pendidikan inklusif, maka akan terlihat sangat kontradiktif. Mungkin saya tidak usah menjelaskan panjang lebar mengapa SLB itu dikatakan ekslusif, dan mengapa SLB dan pendidikan inklusif adalah dua hal yang kontradiktif. Saya yakin, Mas Menteri yang memiliki latar belakang pendidikan dari Negeri Paman Sam, jauh, bahkan jauh sekali lebih mengerti daripada saya yang hanya manusia pembelajar dan masih menyandang status sebagai mahasiswa. Disini saya hanya ingin bercerita sedikit mengenai pengalaman saya ketika bersekolah di SLB sekaligus tinggal di sebuah asrama yang khusus difabel visual, dan kemudian saya bisa melanjutkan pendidikan saya di sekolah umum sejak SMP.

***Tahun 2011 yang lalu, saya menamatkan pendidikan dasar saya pada sebuah SLB-A di Makassar. Waktu itu, saya sebagaimana teman-teman difabel visual yang lain, setelah menamatkan pendidikan dasar di SLB, maka akan melanjutkan pendidikan SMP di SLB yang sama. Namun ada salah satu teman yang memotivasi saya, katanya kemampuan  yang saya miliki akan lebih berkembang bila saya melanjutkan pendidikan di sekolah umum daripada kembali bersekolah di SLB. Terus terang, kala itu saya bimbang. Bimbang karena sebelumnya belum pernah ada alumni dari SDLB tersebut yang berhasil melanjutkan pendidikan SMP-nya di sekolah umum. Tetapi teman saya itu, terus-menereus mendorong dan menyemangati saya, bahkan hingga kini nasihat yang diberikannya masih terpatri dalam benak, “jika Allah menempatkanmu pada suatu tempat, maka Allah akan memampukanmu, kawan.” Selain itu, motivasi yang diberikan oleh teman saya, juga diperkuat oleh teman lainnya yang kala itu menjabat sebagai Ketua DPD PERTUNI SULSEL. Motivasi-motivasi tersebut akhirnya yang menguatkan saya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah umum. Meskipun pada awalnya, ada kesulitan pada saat mendaftar di SMP umum, tetapi lagi-lagi saya dapat melewati kesulitan dan rintangan tersebut berkat bantuan dari teman-teman organisasi  dan pemerhati difabel, serta Kepala asrama saya  waktu itu. Alhamdulillah tiga tahun  saya bersekolah di SMP umum, membuat saya bisa lebih berbaur dengan teman-teman nondifabel, dan sedikit demi sedikit, saya bisa mengajak mereka untuk lebih peka dan sadar  terhadap difabel. Kemudian, saya melanjutkan pendidikan  menengah atas pun di sekolah umum. Kala itu, saya kembali mendapat tindakan yang diskriminatif dari pihak sekolah, namun berkat dukungan orang tua, teman-teman organisasi, dan pemerhati difabel, saya pun akhirnya diterima di sekolah tersebut. Dengan penuh perjuangan dan kerja keras, akhirnya pada tahun 2017, saya  pun dapat menyelesaikan pendidikan saya di SMA.   

Alhamdulillah, pada waktu itu  saya salah satu alumni dari sekolah tersebut yang dapat lulus masuk ke perguruan tinggi dengan jalur SNMPTN, dan menjadi difabel visual pertama  di Sulsel yang lulus di perguruan tinggi melalui jalur  tersebut. Hal ini saya ceritakan   untuk menunjukkan kepada Mas Menteri, bahwa sebenarnya difabel itu bisa dan alangkah lebih baik bila bersekolah di sekolah umum. Dengan bersekolah di sekolah umum, maka difabel akan terbentuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dan lebih optimis menjalani peranannya sebagai bagian dari masyarakat yang beragam. Andai waktu itu saya tidak bersekolah di sekolah umum, saya yakin, saya tidak akan dapat lulus  berkuliah di perguruan tinggi dengan jalur SNMPTN, dan bisa jadi lingkup pergaulan saya hanya berkisar pada komunitas difabel saja. Jadi, tolong Mas Menteri, jangan patahkan semangat kami yang difabel untuk merealisasikan dan menjalani pendidikan  inklusif dan terbebas dari segala bentuk eksklusi yang diskriminatif. Kami difabel menghendaki pendidikan inklusif yang implementatif secara  komprehensif, bukan kata kata pemanis yang imajenatif  dan hanya bersifat regulatif.[]

 

Reporter:  Andi Zulfajrin Syam

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.