Lompat ke isi utama
salah satu contoh aksesibilitas pwrtemuan virtual

Menjadi host Meeting Virtual yang Aksesibel

Solider.id, Jakarta – Pandemi Covid19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 telah mengakibatkan pergeseran budaya komunikasi dari tatap muka menjadi virtual. Peningkatan pergeseran cara komunikasi ini berlangsung baik untuk keperluan pribadi maupun keperluan profesional. Dalam ranah pribadi, contoh yang paling jelas adalah ketika tahun ini muncul sebuah fenomena baru selebrasi merayakan Idul Fitri dalam balutan new normal. Silaturahmi yang tadinya dilakukan secara langsung kemudian bergeser ke cara virtual dengan menggunakan piranti video konferensi yang beragam.

Penggunaan meeting virtual jelas paling banyak dirasakan pada ranah profesional. Pandemi Covid 19 membuat pembatasan interaksi memaksa kantor-kantor membuat kebijakan Work from Home bagi karyawannya. Kebijakan ini juga diikuti dengan penggunaan meeting virtual pekerjaan yang menjadi rutin. Dari pengalaman saya pribadi, dalam satu hari minimal ada satu meeting virtual untuk urusan pekerjaan dengan berbagai audiens beragam untuk internal maupun eksternal.

Dalam perkara isu difabilitas, pergeseran dalam metode meeting ini juga menghadirkan perhatian baru dalam memastikan bahwa meeting virtual yang diadakan sudah aksesibel bagi segala kebutuhan audiens meeting tersebut. Ada banyak sisi untuk membahas bagaimana aksesibilitas bisa dimunculkan dalam meeting virtual ini. Salah satunya adalah cara menghadirkan aksesibilitas yang dilihat dari kapasitas host meeting virtual baik difabel maupun nondifabel. Disadur dari Abilitynet.org.uk, berikut ada beberapa cara yang perlu diperhatikan untuk membuat kita sebagai host meeting virtual bisa mengatur meeting virtual yang aksesibel.

Bagi host meeting virtual difabel maupun nondifabel, ketika memandu sebuah meeting virtual, perlu ditanamkan budaya aksesibel dengan memastikan bahwa audiens yang mengikuti meeting virtual mudah dalam menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Budaya aksesibilitas ini juga tercermin dari adanya keterbukaan komunikasi bahwa ketika host meeting atau presenter sedang menayangkan presentasi dan berkata ‘seperti yang kita semua lihat di sini’, pada saat yang sama bagi audiens difabel netra maupun low vision bisa dan berani berkata bahwa mereka tidak bisa melihatnya dan meminta penjelasan secara verbal.

Selain itu, sebagai host, kita juga perlu memberikan ruang bagi para peserta meeting virtual untuk mengajukan aksesibilitas sesuai kebutuhannya masing-masing. Praktik seperti ini sepertinya masih jarang terjadi dan belum menjadi budaya yang lazim di Indonesia, yang mana pihak penyelenggara meeting virtual memberikan ruang untuk mengumpulkan kebutuhan-kebutuhan audiens.

Penyampaian kebutuhan ini ada baiknya dilakukan sebelum meeting virtual dilakukan jika memungkinkan. Misal, jika ada Tuli yang menjadi audiens, maka ada kesempatan bagi penyelenggara untuk menghadirkan Juru Bahasa Isyarat atau orang yang bertugas menulis caption di platform video conference yang digunakan.

Setelahnya, sebagai host atau orang yang menyelenggarakan meeting virtual juga perlu memperhatikan apa yang disebut sebagai cognitive overload yang bisa mengakibatkan apa yang sekarang ini kita sebut dengan zoom fatigue. Meskipun dinamakan dengan salah satu platform penyedia video conference, zoom fatigue berarti luas dengan makna keletihan yang diakibatkan terlalu banyak meeting virtual atau penyelenggaraan yang terlalu lama terutaman jika ada audiens meeting virtual yang termasuk difabel intelektual atau mereka yang memiliki gangguan pada kemampuan kognitif. Bahkan dari invitation pun sudah harus dibuat seaksesibel mungkin dengan penggunaan bahasa yang tidak kompleks dan mudah dimengerti.

Selain itu, ketika berada di meeting virtual, bisa jadi akan muncul tekanan bagi audiens terutama difabel untuk menyalakan mode penampilan video. Sebagai host, kita juga perlu memberikan opsi bagi audiens baik yang difabel maupun nondifabel untuk mengaktifkan atau menonaktifkan mode video mereka. Kita juga perlu mengatur agar orang yang sedang berbicara bisa secara otomatis muncul dalam layar utama untuk memudahkan audiens low vision untuk mendeteksi siapa yang sedang berbicara.

Terakhir, adalah dengan memberikan materi yang akan diberikan sebelum dilakukannya meeting virtual. Format materi ini juga perlu memperhatikan kebutuhan dari audiens yang beragam. Misal dengan adanya format yang bisa terbaca oleh screen reader, adanya alt teks pada gambar yang disisipkan di materi untuk audiens difabel netra. Bagi audiens difabel intelektual, versi format lain dengan bahasa yang lebih mudah juga perlu diberikan untuk memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal sedikitpun dari virtual meeting yang diadakan.[]

 

Penulis: Yuhda Wahyu Pradana

Editor   : Ajiwan

The subscriber's email address.