Lompat ke isi utama
tangkapan layar diskusi tematik

Washington Grup, Pijakan Dasar Pendataan Difabel

Solider.id – Pendataan difabel menjadi faktor yang penting untuk mengetahui kondisi keadaan yang dialami difabilitas, dengan data yang valid dan baik pembangunan akan tepat sasaran dan bisa dirasakan dampaknya oleh teman-teman difabel dan yang lainnya.

Banyak lembaga swasta maupun Pemerintahan melakukan pendataan, khususnya pendataan difabel belum memberikan data-data yang berpihak pada difabilitas. Hal ini masih menggunakan data dengan impairment yaitu data kondisi keberfungsian organ tubuh, mental, dan intelektual seseorang. Sedangkan data difabilitas adalah data bagaimana lingkungan sosial didesain dan berfungsi dan kemudian menghambat atau berpotensi menghambat proses pemungsian diri atau kemampuan difabel. Dimensi lingkungan sosial bisa dikaitkan dengan hak-hak difabel dalam United Nation Convention Right Person With Disability (UN-CRPD).

Menurut Ishak Salim, ketua Pergerakan Difabel untuk Kesetaraan (Perdik) pijakan dasar pendataan difabel adalah dari Washington Group on Disability Statistic (WGDS).

“Beberapa tujuan pendataan difabel berbasis WGDS adalah memberikan layanan termasuk pengembangan kebijakan dan program untuk penyediaan layanan publik yang akses bagi difabel dan proses evaluasinya, memantau tingkat pemungsian diri difabel dalam populasi, dan menilai pemerataan peluang dalam program pembangunan,” jelas Ishak saat menjadi narasumbeer di webinar temu inklusi, Kamis (17/9).

Ia mengatakan karena WGDS ini sebagai dasar dari pendataan, maka bisa dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah atau daerahnya. Seperti halnya Badan Pusat Statistik (BPS), pada 7 Mei 2014 meluncurkan tiga buah instrumen pendataan difabel yang terdiri dari instrumen pendataan atau kuesioner rumah tangga, kuesioner individu, dan kuesioneer untuk anak difabel, yang mengacu pada instrumen Washington Group.

Peserta temu inklusi dari NTT, Yohanes nerdi yang bekerja di yayasan Ayo Indonesia, saat ini juga memfasilitasi pendataan difabilitas di 21 Desa. Menurutnya Washington Group merupakan metode pendataan difabilitas yang menggambarkan secara utuh kondisi personal difabel, sosial ekonomi dan situasi lingkungan dimana difabel tersebut berada, perspektif yang dilihat tidak saja tentang hambatan personal, tetapi bagaimana situasi sosial ekonomi, politik, dan hukum, ikut memengaruhi partisipasi difabel.

“Dari 15 modul yang dirancang itu, telah menggambakan bagaimana informasi yang komprehensif bisa diperoleh. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana cara memperoleh data yang lengkap, tentu tidak mudah, kader perlu diberi pemahaman tentang perspektif difabilitas, mengenal ragam difabilitas serta memahami instrument Washington Group, sehingga kader bisa mengembangkan teknik penggalian informasi yang bijaksana dan diterima oleh responden nantinya,” ujar Nerdi

Stella Rosita Anggraini, peserta temu inklusi dari Jombang mengaku baru mengetahui tentang pendataan difabel berbasis Washington Group.

“Saya baru memahami pendataan berbasis WGDS saat webinar diskusi tematik temu inklusi, dan menurutku pendataan seperti itu sangat bagus dan lebih efekif, jadi tidak hanya sekadar pendataan,” ucap Stella

Selama ini, ia hanya melakukan pendataan secara umum, dan tertarik untuk mengimplementasikan pendataan berbasis WGDS ini.

“Saya harus belajar tentang WGDS ini, baru mengaplikasikannya. Dan saya harap nantinya ada webinar pelatihan tentang pendataan berbasis Washington Group,” harapnya.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.