Lompat ke isi utama
hari bahasa isyarat

Jelang Hari Bahasa Isyarat Internasional

Solider.id – World Federation of the Deaf Regional Secretariat For Asia (WFD RSA) menyelenggarakan webinar menjelang hari bahasa isyarat Internasional yang diperingati setiap tanggal 23 September 2020. Acara ini diikuti oleh beberapa narasumber dari DPP Gerkatin dan perwakilan dari WFD RSA, yang bertajuk perspective dan activities, Sabtu (12/9).

Dalam sambutannya, Bambang Prasetyo, ketua umum DPP Gerkatin mengapresiasi dan selalu mendukung kegiatan ini yang tema Hari Bahasa Isyarat International (HBII) tahun ini adalah bahasa isyarat untuk semua orang.

“HBII ini telah ditetapkan oleh PBB dan WFD pusat sejak tanggal 19 Desember 2017, yang diperingati setiap tanggal 23 September. Dan kegiatan ini menjadi sebuah peringatan pada kita semua terkait Tuli mempunyai satu sarana komunikasi yaitu bahasa isyarat, dan Tuli mempunyai hak dalam berbahasa isyarat dan ini harus dihormati hingga tingkat dunia,” ujar Bambang

Clarissa selaku direktur WFD RSA menjelaskan sejarah terbentuknya WFD dimana sudah ada 17 negara yang tergabung.

“Didirikan tahun 1998 di jepang, di Asia sendiri ada 17 negara yang tergabung dan ada WFD yang khusus untuk anak-anak muda. Jadi asia pasifik ini selalu bekerjasama dan bekerja terus menerus dengan beberapa pihak, dengan Thailand dan juga PBB, di tiap satu tahun sekali mengadakan rapat, dan kami juga bekerjasama dengan Wasly yaitu organisasi untuk bahasa isyarat,” kata Clarissa

PBB juga  bekerjasama dengan beberapa Presiden di Asia dan Nippon foundation. Dan tahun 2018, tiap-tiap Negara merayakan hari bahasa isyarat, dan tiap Negara mempresentasikan hari bahasa isyarat di Negara masing-masing.

Yasunori Shimamoto, perwakilan dari WFD menjelaskan dari 70 juta penduduk dunia, teman-teman Tuli itu sekira 10%.

“Dari jumlah itu apakah semuanya bisa bahasa isyarat? Setelah diteliti oleh WFD jelas sekali terlihat, bahwa  di dunia itu bahasa isyarat bisa digunakan komunikasi oleh semua orang. Dan hanya 3% orang tuli yang bisa menggunakan bahasa isyarat, 97% masyarakat dunia tidak menggunakan bahasa isyarat,” tutur Yasunori

Setengah dari penduduk dunia itu berada di Asia, jadi penduduk Tuli banyak berada di Asia, dan banyak sekali yang tidak tahu bahasa isyarat.

“Kita sering mengadvokasi dan berdiskusi dengan PBB sejak tahun 2016, lalu disahkan lah CRPD dan diakui hak-hak difabilitas, dalam CRPD ini dimasukkan juga bahasa isyarat sebagai bahasa, lalu PBB mendatangi tiap-tiap kepala Negara untuk mengatakan bahwa Negara harus mengikuti CRPD,” ucapnya

Ia mengatakan ada 3 negara di Asia dari 55 negara yang baru meratifikasi CRPD, situasi ini tidak bisa diabaikan, dan tetap meminta dukungan, mengadvokasi, dan memberikan sosialisasi kepada Pemerintah dan berbagai pihak akan pentingnya hal ini.

“Jadi, ketika kelompok difabilitas bergerak, Tuli perlu dilibatkan. Kalau di Negara saya yakni Jepang, kami akan berani menyampaikan pada Pemerintah Jepang jika ada hal-hal yang belum dimasukkan dalam peraturan Negara,” jelasnya.[]

 

Reporter:  Oby Achmad

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.