Lompat ke isi utama
STIGM ODGJ DALAM ILUSTRASI

Terus-terusan Menstigma ODGJ Adalah Tindakan Gila!

Solider.id - Syekh Ali Jaber ditusuk seorang pemuda saat memberikan ceramah di Masjid Falahudiin, Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjung Karang Barat (TKB), Bandarlampung, Minggu 13 September 2020. Syekh Ali Jaber mengalami luka tusuk di bagian bahu kanan, dan sempat menghindari tusukan yang awalnya tertuju ke bagian perutnya. Berita ini berkeliaran di media sosial sejak hari minggu sampai sekarang. Semua netizen angkat suara, mulai dari yang santai-santai saja sampai yang berapi-api.

Saya sangat menyayangkan tanggapan-tanggapan pengguna media sosial, yang sebagian besar terang-terangan melecehkan nama ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) secara keseluruhan. Pelaku yang menurut keluarganya adalah ODGJ, membuat masyarakat geram, sampai-sampai meneluarkan argumen-argumen untuk membuktikan bahwa Si Pelaku bukanlah seorang dengan gangguan jiwa, atau yang mereka sebut dengan istilah orang gila.

Saya tidak menyalahkan masyarakat yang menghujat pelaku, juga yang ngotot bahwa pelaku hanya berpura-pura menjadi ODGJ untuk terbebas dari hukuman. Saya juga tidak membela Si Pelaku, apalagi menyatakan bahwa pelaku adalah real ODGJ. Yang saya sayangkan adalah cara netizen dalam membuktikan bahwa pelaku adalah orang waras, dan bukan orang yang mengalami gangguan kejiwaan.

 

"Pelakunya orang gila? Masa orang gila? Pasti bukan orang gila! Mana ada orang gila bajunya rapi? Mana ada orang gila bisa main Facebook? Mana ada orang gila yang kalau ditanya, bisa jawab siapa namanya? Mana ada orang gila yang bisa jalan normal, terus tahu milih-milih korban? Kalau udah tahu orang gila, seharusnya dipukulin sampai mati aja. Kalau saya punya keluarga yang gila sampai nyelakain syekh kayak gitu, saya mutilasi aja biar tahu rasa," demikian segelintir cuitan warga media sosial.

Mereka seolah-olah berpikir bahwa ODGJ wajib kotor, ODGJ wajib bodoh, ODGJ tidak bisa punya Facebook, dan masih banyak tanggapan lain. Bahkan di postingan saya yang coba meluruskan masalah stigma yang mereka rekatkan pada ODGJ, ada salah satu akun yang bilang bahwa orang gila kayak begitu lebih baik dipukul sampai mati saja. Untuk yang satu ini, saya tidak bisa mengeluarkan balasan kecuali: "Hah?"

Sekali lagi, saya tidak berniat menyatakan bahwa pelaku penusukan Syekh adalah ODGJ, dan maka dari itu tidak pantas untuk dihukum. Saya hanya hendak meluruskan cara berpikir masyarakat, yang seolah-olah berpikir bahwa seharusnya ODGJ berpenampilan begini dan bersikap begitu. Karena pelaku mengaku sebagai ODGJ, maka begitu saja masyarakat langsung berbondong-bondong menghujat pelaku dengan cara mengeluarkan semua kebusukan ODGJ yang tidak Si Pelaku miliki. Ini sama saja dengan mengumbar kebusukan ODGJ yang sebenarnyapun tidak semua ODGJ miliki, hanya untuk membuktikan bahwa pelaku bukan orang gila.

 

ODGJ juga memiliki kemungkinan untuk pulih, ini mungkin yang tidak diketahui masyarakat. Dan bahwa juga, ODGJ yang mereka sebut dengan orang gila itu memiliki tingkatan-tingkatan gangguan kejiwaan.

 

"Apa ada orang gila yang tahu siapa namanya?" tulis salah satu akun di Facebook.

 

Saya geleng-geleng saja menyaksikan pengetahuan mereka yang seperti itu, tapi di sisi lain nyolot kalau diluruskan. Seolah-olah pengetahuan merekalah yang paling benar, dan bahwa ODGJ memang seperti apa yang mereka kira. Jangankan tahu nama sendiri, ODGJ juga punya hak pilih dalam pemilu!

 

Karena fanatik agama yang keterlaluan, warga internet menjadi buas dan tidak terkendali. Saya yang menulis untuk meluruskan cara pikir mereka terkait ODGJ pun mereka lawan, mereka pikir saya ingin membenarkan pernyataan bahwa pelaku adalah ODGJ. Bicara dengan orang yang merasa superior (berkuasa) dari orang lain memang sulit, apalagi jika mereka sedang berapi-api menunjukkan rasa fanatiknya. Perasaan superior itu pula yang membuat mereka merasa berhak untuk men-judge ODGJ dekil, kotor, bodoh, dan masih banyak lagi anggapan negatif lainnya. Saat saya menjelaskan bahwa pernyataan mereka terkait ODGJ itu salah, mereka malah berkeras bahwa itu adalah bentuk dari pembelaan mereka kepada ODGJ yang selalu dikambing hitamkan dalam kasus yang seperti ini. Padahal, kan, sebenarnya cara untuk membela ODGJ tidak dengan menghina mereka juga.

 

Sebenarnya, masalah penusukan pemuka agama ini bukan rana saya untuk turut berkomentar. Terlebih lagi, karena saya tidak terlalu peduli masalah yang beginian. Tapi, ketika itu menyinggung ODGJ, saya rasanya tidak bisa diam-diam saja. Pemikiran-pemikiran negatif terkait ODGJ yang seperti ini sudah lama mengendap di otak para masyarakat, dan perlu kita luruskan bersama-sama.[]

 

Penulis : Nabila May Sweetha

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.