Lompat ke isi utama
salah satu karya adi gunawan institute

Adi Gunawan Institute Ringankan Dampak Pandemi, hingga Inovasi

Solider.id, Malang – Adi Gunawan, seorang difabel netra asal Malang Jawa Timur merasa prihatin dengan nasib beberapa kawan difabel netra di kota tersebut yang sangat terdampak akibat pandemi Covid – 19. Bergerak meringankan beban  ia lakukan demi keberlangsungan ekonomi keluarga kawan-kawan difabel netra yang notabene tidak berpenghasilan saat pandemi Covid – 19. Melalui Adi Gunawan Institute, bersama beberapa relawan yang kemudian ia sebut sebagai Adi Gunawan Team telah melakukan sejumlah aksi nyata dan bahkan melakukan inovasi untuk memberdayakan difabel netra di kota Malang dengan berbagai kegiatan positif.

Menjawab tantangan dan kesulitan yang dihadapi oleh para difabel, khususnya difabel netra, Adi Gunawan Institut  yang memiliki kepedulian terhadap kaum difabel netra, melakukan aksi sosial yaitu dengan  mendistribusikan paket sembako yang berisi beras, minyak, gula, serta bahan-bahan pokok lainnya kepada sekitar 30 orang difabel netra yang berdomisili di kota dan kabupaten Malang. Team Adi Gunawan Institut mendatangi tempat tinggal para difabel netra satu persatu untuk menyalurkan bantuan tersebut secara langsung mengingat hambatan mobilitas yang dialami oleh sebagian besar difabel netra jika akan mengambil bantuan tersebut ke sekretariat Adi Gunawan Institut di Tidar.

Beberapa dari difabel netra yang menerima bantuan tersebut berprofesi sebagai terapis dan tinggal di panti pijat. Ada pula yang memilih untuk  mengontrak rumah sendiri lalu dijadikan klinik pijat pribadi atau beberapa orang sekaligus. Tak jarang dari mereka tinggal di perkampungan padat penduduk yang hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki,  dan akses jalan,  serta lingkungan yang dirasa cukup menyulitkan jika difabel netra akan berjalan sendiri tanpa pendamping (https://adigunawaninstitut.id/peduli-kepada-para-tunanetra-terdampak-co…)

Tindakan yang dilakukan oleh   Adi Gunawan  beserta para relawan yang tergabung dalam team Adi Gunawan Institut dalam aksi sosial tersebut, membuktikan bahwa difabel juga bisa berkontribusi aktif bagi difabel lainnya di tengah kesulitan ekonomi karena pandemi. Tidak hanya itu, Adi Gunawan Institut juga selalu berinovasi bagi kemajuan difabel netra Malang, hingga akhirnya Adi Gunawan Institut pun membentuk suatu kelompok kerja, yakni kelompok kerja batik netra AGI (Adi Gunawan Institut). Solider  (wadah advokasi difabel) pun  menghubungi Adi Gunawan Institut, untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang latar belakang didirikannya kelompok kerja batik netra dan apa sajakah tantangan yang dihadapi oleh Adi Gunawan Institut dalam menjalankan kelompok kerja tersebut.

Dihubungi melalui aplikasi WhatsApp,  Adi Gunawan sebagai pendiri dari Adi Gunawan Institut sekaligus sebagai Ketua lembaga tersebut bercerita bahwa, Team Adi Gunawan Institut pada awalnya harus berpikir keras tentang cara membuat batik yang notabene pekerjaan ini membutuhkan visual, dan dapat dikonversi agar bisa dikerjakan oleh teman-teman difabel netra yang notabenenya tidak dapat melihat. Karena hal ini rumit, tapi bukan berarti tidak bisa. Lalu Team Adi Gunawan Institut  melakukan penelitian dan percobaan agar dapat melibatkan difabel netra.

“Sebagaimana  diketahui bahwa konsep  dalam membuat batik itu dimulai dari penyiapan kain, dan pewarnaan, dan ini kan sangat visual sekali. Tetapi dengan semangat yang dimiliki oleh Team Adi Gunawan Institut, kami akan terus berupaya dan mencoba hingga menemukan formula yang tepat dalam mengolah batik agar dapat aksesibel dikerjakan bagi teman difabel netra” ungkap Adi menjelaskan.

Lalu ada dua sistem pengerjaan bagi teman netra dalam pembuatan batik, yang pertama pada pembuatan pola. Pembuatan pola ini mengadopsi sistem pola batik jumputan dan seni kain shibori atau pada umumnya disebut teknik  tie-dye. Team Adi Gunawan Institut mengkombinasikan teknik-teknik tersebut sehingga kombinasi teknik yang ada dapat akses bagi teman netra untuk mengerjakan batiknya. Dalam mengerjakan batik tersebut, teman netra diajarkan agar dapat melipat, dan mengikat kain batik tersebut. Dalam pelipatan, baik teman yang masih low vision, maupun yang   totally blind dapat mengerjakan teknik tersebut sesuai dengan petunjuk teknis yang telah dibuat oleh Team Adi Gunawan Institut.

Jadi teman-teman netra tinggal mengikuti instruksi yang diberikan. Kemudian bagian yang paling rumit adalah bagian pewarnaan dan finishing. Bagian pewarnaan ini lebih banyak melibatkan teman-teman low vision atau yang masih memiliki persepsi cahaya (light perception), tapi tetap diawasi oleh satu orang awas dalam pengerjaannya.  Orang awas yang dimaksud disini adalah juga difabel.  Pengawas  hanya membantu melihat kecocokan warna pada kain, tapi selebihnya  tetap dikerjakan oleh difabel netra itu sendiri.

Team Adi Gunawan Institut menekankan bahwa  pengerjaan batik netra 100% dikerjakan oleh difabel tanpa melibatkan non-difabel sama sekali. Jadi bisa dibilang, batik netra ini dikerjakan 90%  oleh difabel netra, lalu 10%-nya lagi dibantu oleh difabel fisik.

Tahap selanjutnya, seperti penjemuran, pencucian, dan juga dilakukan  quality checking (apakah layak jual atau tidak). Kemudian batik netra yang telah jadi dan telah layak untuk dipasarkan  itu dikemas  selayaknya kain batik yang dijual di toko-toko pada umumnya. Team Adi Gunawan Institut juga menyatakan bahwa, hasil dari batik netra yang dibuatnya memiliki kualitas yang tak kalah dengan yang dibuat oleh nondifabel.  Selain dijual secara offline, sistem penjualan batik netra juga dijual dengan cara online, seperti melalui transfer bank dll.

Dari penjelasan teknik pembuatan batik netra yang telah dipaparkan oleh Team Adi Gunawan Institut di atas,  Adi sebagai Ketua dari Adi Gunawan Institut juga bercerita tentang tantangan yang dihadapi ketika kelompok kerja batik netra ini akan dijalankan.  Adi mengatakan, tantangan terbesarnya adalah melatih teman-teman difabel netra dalam mengikuti instruksi kerja yang telah dirancang oleh Team Adi Gunawan Institut. Menurutnya, teman-teman difabel netra di awal-awal ketika baru bersentuhan dengan kain, mereka mengalami disorientasi, atau kebingungan. Teman-teman difabel netra masih bingung ketika harus melipat kain dengan presisi, mengikat kain. Belum lagi ketika harus mellipat yang sesuai pola, seperti kainnya harus diluruskan, dari depan ke belakang, atau terkadang kainnya juga harus dimiringkan agar lebih rapi.  

Adi    melanjutkan, katanya teman-teman difabel netra sangat sulit memahami petunjuk teknis yang telah dibuat oleh Team Adi Gunawan Institut, sehingga mereka harus berulang-ulang diajari agar dapat mengerti dan mengikuti instruksi dengan baik. Tidak jarang, bahkan terkadang ada difabel netra sampai merasa frustasi karena masih sulitnya memahami instruksi yang diberikan pada saat menghadapi kain batik tersebut. Tetapi Team Adi Gunawan Institut selalu memotivasi teman-teman difabel netra agar tetap bersemangat. Selain itu, mereka juga diajarkan tentang orientasi dan mobilitas pada saat mengerjakan kainnya, seperti cara meraba kain, mengikat kain, dan merapikan kain yang telah dilipat atau diikat tersebut. Kemudian,  

Adi melanjutkan, tantangan lain yang juga dihadapi oleh Team Adi Gunawan Institut, tidak semua difabel netra mau mengikuti pola kerja dari batik netra ini. Bahkan sebagian difabel netra berasumsi bahwa, pekerjaan membatik itu tidak logis dikerjakan oleh difabel netra. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan sebagian difabel netra yang berprofesi sebagai terapis pijat, karena mereka hanya menggunakan gerakan tangan, sehingga bagi mereka, mengerjakan kain untuk dijadikan kain batik yang layak jual itu sangat tidak logis dan sangat rumit. Diakhir   penjelasan, ia mengatakan bahwa, tantangan terbesarnya adalah mengoptimalkan produksi dan bagaimana caranya agar teman-teman difabel netra  mau terlibat dalam kelompok kerja batik netra di Adi Gunawan Institut. Ia juga menambahkan,  sudah ada difabel netra yang berasal dari Sidoarjo  menghubungi  Adi Gunawan Institut yang notabenenenya di Malang,  untuk terlibat dalam kelompok kerja batik netra Adi Gunawan Institut.[]

 

Reporter: Andi Zulfajrin Syam

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.