Lompat ke isi utama
diskusi inklusi amerika

Inklusifitas antara Indonesia dan Amerika

Solider.id – aksesibilitas merupakan satu diantaranya indikator inklusifitas, dengan adanya aksesibilitas, difabel bisa mengakses tempat yang belum bisa terakses. Seperti halnya inklusifitas universitas, yang harus memberikan kebutuhan yang layak pada semua mahasiswanya. Hal ini menjadi topik diskusi yang diselenggarakan oleh silang.id, Sabtu (12/9).

Silang.id merupakan perusahaan teknologi yang memfasilitasi proses belajar budaya dan bahasa isyarat Bisindo, baik secara online maupun offline. Narasumber diskusi, Cristophorus Budidharma, difabel Tuli, alumni dari Rochester Institute of Technology (RIT) Amerika menceritakan pengalamannya sewaktu kuliah yang sudah akses pada teman-teman Tuli.

“Pertama masuk kuliah, ternyata disana aksesibel dan siap semua untuk semua ragam difabel, jadi saya benar-benar kuliah dan tidak terkendala oleh aksesibelnya,” ujar Cristho yang mendapat beasiswa kuliah ke Amerika,”

Ia membandingkan inklusifitas di Indonesia dan Amerika, dimana ia juga pernah kuliah dua tahun di Indonesia.

“Ternyata saya kesulitan kuliah di Indonesia, dengan adanya tugas kuliah, saya kesulitan untuk mengerjakannya, jadi saya meminta penjelasan dulu ke dosen karena dulu juru bahasa isyarat (JBI) belum ada,” tuturnya

Ia pernah mengadvokasi kampus untuk menyediakan JBI, namun tanggung jawabnya semakin banyak karena kuliah tidak bisa ditinggalkan. Ketika kuliah di Amerika, ia tidak merasakan adanya hambatan, karena sudah aksesibel semua.

“Di RIT sudah ada peraturannya, jadi saat ada materi melalui video harus ada subtitlenya walaupun tidak ada teman Tuli di kelas, dan untuk JBI harus ada ketika ada teman-teman Tuli di kelas. Jadi di RIT ada divisi khusus untuk akses yang bertanggung jawab tentang typis, noteker, JBI dan divisi khusus untuk difabel yang bertanggung jawab tentang kursi roda dan braille,” jelasnya

American with proportion disability merupakan aturan dari Pemerintah Amerika untuk semua difabel, namun ada juga aturan dari Pemerintah Amerika yang khusus untuk difabel tertentu. Menurutnya ada hal yang menarik ketika ia kuliah di Amerika dimana sudah aksesibel.

“Aku orang Indonesia yang kuliah di Amerika, saya merasa disana semuanya lengkap, namun anehnya teman-teman Tuli disana masih merasa kurang tentang akses, teman Tuli di Amerika ada yang bilang JBI kurang professional dan mereka masih terus mengadvokasi itu. Jadi saya mengira di Amerika itu sudah inklusif, tapi menurut mereka belum inklusif,” ucapnya

Ia juga bercerita saat kecil mendapatkan diskriminasi yang tidak dipahaminya bahwa itu diskriminasi, setelah kuliah di Amerika ia baru mengerti jika itu adalah diskriminasi.

“Saya dulu pernah dibilangin kalau saya Tuli dan tidak tahu apa-apa, saat itu saya tidak tahu bahwa hal tersebut diskriminasi, baru mengetahui ketika kuliah di Amerika saat saling ngobrol sama teman-teman Tuli di Amerika. Ketika pulang ke Indonesia, ternyata masih banyak sekali orang-orang yang mendiskriminasi, seperti meremehkan teman-teman Tuli. Saya juga pernah belajar oral, dan menurutku itu bentuk diskriminasi yang memaksa kita harus bisa ngomong dan memakai Alat Bantu Dengar (ABD), hal ini seharusnya diserahkan sepenuhnya pada teman-teman Tuli, apakah mau terapi dan menggunakan ABD atau tidak,” tukasnya.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.