Lompat ke isi utama
tampilan antar muka website BEI

Bursa Efek Indonesia, Waktunya Lebih Aksesibel ke Difabel Netra

Solider.id - Bursa Efek Indonesia (BEI) atau juga dikenal dengan Indonesian Stock Exchange (IDX) adalah merupakan sarana serta sistem yang menyelenggarakan proses transaksi jual beli efek di pasar modal Indonesia.

 Pengertian efek disini sendiri dapat berupa surat berharga berupa saham perusahaan ataupun juga dapat berupa obligasi (surat hutang) yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan siap untuk diperdagangkan oleh para investor yang ada di seluruh Indonesia. Investor tersebut bisa merupakan masyarakat biasa yang ikut terjun dalam pasar saham untuk tujuan investasi atau trading, biasa disebut dengan sebutan investor retail, maupun juga bisa dari kalangan manager investasi (fund manager) yang mengelola dana besar dari para investor-investor lainnya untuk diinvestasikan ke pasar saham atau sering juga disebut dengan investor institusi.

 BEI sendiri hingga saat ini telah memiliki hampir 500 lebih emiten, yaitu perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa saham Indonesia dan menjadi wadah bagi masyarakat untuk ikut memiliki kepemilikan di perusahaan-perusahaan tersebut, serta juga ikut mendukung laju perekonomian nasional lewat investasi mereka di pasar modal.

 Oleh karena itu, semua orang memiliki hak yang sama untuk ikut berpartisipasi di dalam pasar modal Indonesia, tak terkecuali kemudian bagi kelompok difabel netra. Dengan dukungan tekonogi screen reader (pembaca layar) kini dapat mengakses layanan investasi secara mandiri termasuk dalam berinvestasi di saham dengan cukup aksesibel.

 Cukup, karena sayangnya tidak semua layanan dari pasar modal kita ini bisa diakses oleh kalangan tunanetra.

Pertama-tama sebelum lebih jauh menuju pada permasalahan yang dihadapi oleh difabel netra, hal yang perlu diketahui dalam proses berinvestasi pada pasar modal khususnya pasar saham adalah bahwa pekerjaan tersebut bukanlah sesuatu yang gampang. Namun tak juga benar-benar sulit untuk dilakukan.

 Intinya adalah, dalam berinvestasi di pasar saham itu melibatkan yang namanya pendistribusian dana kita untuk membeli saham dari emiten yang tercatat di BEI, dan tentunya mengharapkan nilai saham dari emiten yang kita beli tersebut kemudian naik nilainya dan memberikan kita keuntungan sebagai pemegang saham alih-alih malah mencetak kerugian.

 Maka dari itu, dalam proses kita memutuskan saham mana yang layak investasi, para investor tentunya akan memperhitungkan secara cermat setiap keputusan yang diambil agar kemudian tidak membeli saham dari perusahaan yang salah dan malah merugi. Para investor pasar saham adalah manusia yang akan selalu memiliki insting untuk meminimalisir kerugian dan memaksimalkan keuntungan yang diperoleh.

 Thus, sebelum berinvestasi, sangatlah penting bagi mereka untuk mengetahui seluk beluk informasi terkait saham perusahaan yang akan mereka beli. Adapun informasi-informasi ini dapat berupa laporan kinerja emiten tersebut tiap tahun maupun kuartal, manajemen direksi perusahaan, keterbukaan informasi lainnya serta aspek-aspek bisnis dari perusahaan tersebut.  

 Dengan memperoleh akses terhadap informasi-informasi diatas, para investor saham dapat mempelajari setiap performa emiten dan kemudian mengambil keputusan yang terbaik untuk menginvestasikan dana mereka ke saham terbaik. Maklum, dari sekian banyak perusahaan yang melantai di BEI, tidak semuanya layak investasi. Beberapa bahkan sangat buruk.

 Sehingga, memiliki akses terhadap informasi-informasi ini menjadi aspek yang sangat krusial bagi para investor dalam berinvestasi di pasar modal.

Lalu dimanakah para investor bisa mengakses informasi-informasi terkait emiten di BEI ini?Jawabannya adalah di

www.idx.co.id yang merupakan website resmi dari Bursa Efek Indonesia, dan satu-satunya tempat yang menghimpun secara lengkap dan terbuka seluruh informasi terkait setiap perusahaan yang melantai di bursa, seperti laporan keuangan tahunan dan kuartal perusahaan, paparan publik perusahaan (public expose), rapat umum pemegang saham perusahaan maupun segala jenis informasi terkait kinerja dan profil perusahaan yang tercatat di BEI.

Nah, disinilah terletak permasalahannya. Bagi para investor kebanyakan, informasi yang terkandung di dalam website IDX.co.id ini adalah merupakan kitab wajib yang harus dipelajari bagi para investor sebelum memulai berinvestasi pada suatu saham perusahaan di bursa.

 Mengakses laporan keuangan dan kinerja perusahaan yang bersangkutan adalah merupakan wujud praktik investasi yang bertanggung jawab, kredibel dan berbasiskan data guna mencapai tujuan finansial dari setiap orang yang berinvestasi di pasar modal Indonesia. Namun tidak halnya bagi kalangan investor difabel netra, yang  masih belum memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi-informasi penting ini secara inklusif.

Sebagai contoh, muka tampilan dari website IDX.co.id tidak  mampu diakses secara aksesibel oleh investor difabel netra yang menggunakan program screen reader. Tidak ramahnya antar muka serta menu-menu yang terdapat di dalam website IDX.co.id, termasuk ketika mencoba mengakses laporan keuangan maupun informasi terkait kinerja emiten yang terdaftar di BEI, menyebabkan difabel netra yang berkecimpung di pasar modal menjadi kesulitan dalam mendapatkan informasi terkait keputusan investasinya.

 Minimnya akses serta ketidakmampuan investor difabel netra untuk mampu mendapatkan informasi-informasi penting terkait kinerja suatu perusahaan akan berujung pada gagalnya mereka dalam membuat keputusan yang seksama terhadap pilihan saham yang ingin diinvestasikan, dan pada akhirnya dapat berujung pada kerugian secara finansial bagi difabel netra tersebut.   

Memang, di satu sisi resiko atas kerugian investasi adalah merupakan resiko yang harus kita tanggung masing-masing. Tak ada siapapun yang bisa kita salahkan terkait hal tersebut. Akan tetapi, peranan BEI selaku penyelenggara dan pengatur jalannya perdagangan efek adalah untuk menjamin keterbukaan informasi terkait emiten-emiten yang melantai di bursa agar mampu dinikmati oleh semua masyarakat Indonesia tanpa terkecuali. Tak terkecuali juga bagi difbel netra yang memiliki hak yang setara untuk berinvestasi di pasar modal dan mengakses informasi yang inklusif berkaitan dengan hal tersebut.

Ironisnya, hal ini menjadi semakin urgent mengingat pihak BEI juga tengah gencar-gencarnya dalam mempromosikan kampanye “Yuk Nabung Saham”, yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mulai berinvestasi di saham dengan membeli saham secara rutin dan berkala.

 Masalahnya adalah, menabung saham itu tak bisa pada sembarang saham. Diperlukan upaya dari kita untuk memilah saham mana yang memiliki prospek bagus dan bukan saham abal-abal melalui kita mempelajari kinerja bisnis perusahaan tersebut setiap tahunnya maupun setiap kuartal. Dan masalahnya lagi, bagaimana para difabel netra bisa ikut aksi “Yuk Nabung Saham” ini ketika informasi yang dibutuhkan untuk menentukan saham mana yang layak tabung itu tidak aksesibel bagi mereka? Apakah kemudian para difable netra ini tidak menjadi target dalam kampanye “Yuk Nabung Saham ini”?

Padahal, 2018 silam pihak BEI sempat mengadakan acara kampanye “Yuk Nabung Saham” bagi para kalangan difabel netra di Jakarta dan juga diiringi dengan penerbitan buku “Yuk Nabung Saham” versi Braille.

 Berdasarkan ulasan Detik.com pada Jumat (22/08/18), acara tersebut sendiri dihadiri sekitar 100 difabel netra dan juga dihadiri oleh Direktur Pengembangan BEI, yaitu Nicky Hogan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya BEI sendiri juga menyadari potensi calon investor difabel netra untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia. Tapi apa yang terjadi malahan adalah, BEI menerbitkan buku pedoman “Yuk Nabung Saham” versi Braille, yang mana merupakan pendekatan yang agak sedikit kuno untuk mempromosikan isu yang begitu dinamis. Jelas kemudian BEI sebetulnya belum memahami kebutuhan dan juga kendala yang dihadapi oleh investor difabel netra dalam berinvestasi di pasar modal.

BEI dan pihak-pihak lainnya yang memiliki tugas dan wewenang dalam menyelenggarakan pasar modal di Indonesia seharusnya menjamin akses pendukung bagi investor difabel netra untuk mampu berinvestasi secara inklusif di bursa. Tidak hanya menyangkut akses mereka untuk membeli saham, tapi juga komponen-komponen pendukung yang esensial dalam menjalankan aktivitas investasi tersebut. Inklusi dalam pasar modal tidak hanya menyangkut soal seberapa banyak orang-orang dari berbagai latar belakang yang mulai berpartisipasi dalam proses investasi tersebut, tapi juga dapat menciptakan lingkungan investasi dimana orang-orang mampu menentukan pilihan investasi melalui suplai informasi yang bisa dipercaya, inklusif dan aksesibel bagi semua pihak termasuk bagi kalangan difabel netra.[]

 

Penulis: Made Wikandana

Editor   : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.