Lompat ke isi utama
berbicang dengan YOAN secara online

Konsistensi YOAN pada Anak-anak Difabel

Solider.id – Semua orang mempunyai hak untuk berolahraga, baik itu anak-anak, difabel dan kelompok rentan lainnya. Seperti Yayasan Olahraga Anak Nusantara (YOAN) yang akan memberikan ruang pada anak-anak difabel

YOAN adalah yayasan pengembangan anak usia dini, karena semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi atlet menurut cabang olahraga yang mereka suka.

“Jadi saya ingin YOAN tidak hanya di kota besar saja, namun di pelosok-pelosok daerah juga ada, dan impian besar saya adalah ingin punya training centre atau sport centre olahraga untuk anak-anak dari tingkat SD sampai SMA, supaya kita bisa membentuk atau melahirkan atlet,” kata Ibnu Jamil founder Yoan saat menjadi pembicara di webinar, Selasa (8/9)

Ia menanbahkan untuk teman-teman difabilitas bukan berarti tidak bisa berolahraga, bahkan olahraga obat yang paling ampuh untuk meningkatkan imunitas dikala pandemi ini.

“Teman-teman difabilitas tetap bisa berolahraga, namun disesuaikan dengan ragam difabilitasnya, bisa menggunakan teknik aerobic dengan durasi yang cukup lama dan menggunakan repetisi yang diulang-ulang, mungkin dengan mengayuh kursi rodanya maju dan mundur untuk membentuk otot lengan dan perut,” ucapnya

Memang ada beberapa acara olahraga untuk difabilitas namun belum menyeluruh hingga kota-kota kecil. Ia mengajak orang-orang di Pemerintahan untuk menyebarluaskan hal ini dan rencana apa yang ada untuk teman-teman difabilitas agar mereka mempunyai tempat dan hak yang sama.

“Saya mempunyai mimpi di sport centre itu tidak hanya anak-anak non difabilitas namun juga ada anak-anak difabilitasnya juga, kita juga bisa mempersiapkan pelatihan khusus seperti coach training atau bisa mengirim teman-teman kita untuk melatih sepak bola, jalan cepat, atau jogging, kita kirim ke teman-teman yang mempunyai komunitas difabilitas,” harapnya

Dalam olahraga anak, ia mengharamkan adanya kekerasan pada anak, karena menurutnya sering terjadi saat latihan dimana ada pelatih dan orang tua yang tanpa sadar melakukan kekerasan mental dan intimidasi pada anak.

“Ada suatu kasus dimana ayahnya meneriaki wasit dengan kata-kata kasar karena anaknya dilanggar saat bermain sepakbola. Hal itu diharamkan terjadi di arena olahraga anak-anak, kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung atau supporter yang baik, wasit hanya menjadi teman atau guru yang baik di lapangan dan pelatih pun seperti itu, jadi tidak boleh ada kekerasan seperti suara keras atau teriakan-teriakan kasar yang nantinya itu bisa membuat anak-anak trauma, dan ketika trauma mereka akan tidak nyaman dan tidak suka pada olahraga tersebut, padahal kita bisa membuat anak-anak itu menjadi atlet yang berbakat, dan ketika bakat itu hilang maka hilang semua bibit-bibit muda yang seharusnya bisa kita tumbuhkan menjadi atlet berprestasi,” jelaasnya

Ia juga mengajak teman-teman influencer yang mempunyai banyak followers untuk memberikan informasi tentang hak-hak difabilitas, sehingga kita mempunyai rasa yang sama dan bisa mengerti apa yang dialami oleh teman-teman difabilitas.

Sunarman Sukamto tenaga ahli dari kantor staf kepresidenan menjelaskan bahwa untuk UU peraturan sampai pedoman pelaksanaan sudah lengkap untuk tumbuh kembang dan pengasuhan anak, baik dari peraturan menteri, pedoman, bahkan kementerian desa pun belum lama ada pedoman pengembangan desa inklusi.

“Pemerintah desa bertanggung jawab untuk memastikan semua warga difabilitas termasuk anak-anak mandapatkan manfaat dana desa apapun itu bentuknya,” ujar Sunarman

Ia sepakat dan mengapresiasi langkah-langkah Ibnu Jamil yang salah satnuya mengajak para infulencer untuk menyampaikan tentang kesetaraan difabel.[]

 

Reporter: Oby Achmad

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.